Aku melihat Ares sedang duduk di trotoar tak jauh dari halte. Di halte ada beberapa orang sedang duduk juga, jadi Ares tak bisa duduk di situ. Ares melambaikan tangan padaku.
Memang ya pesona orang itu beda, kalau dasarnya ganteng, mau duduk gelesotan di trotoar pun masih tetap kelihatan ganteng. Ya kayak si Ares ini.
Aku duduk di sebelah Ares.
"Akhirnya datang juga pertolonganku," kata Ares.
"Emang siapa yang mau nolongin?" tanyaku.
"Kamu kan?"
Aku mencebik, menggodanya. Ini kulakukan semata-mata agar ia tak ingat dengan pertanyaan 'kita ini apa'. Bisa canggung lagi kalau kami berdua ingat pertanyaan itu.
"Emangnya kenapa harus ditolongin bahkan sampai diantar pulang segala?"
"Kakiku keseleo, Ra. Tadi aku pakai lari trus kecekluk kan, jadi ya susah jalan ini," katanya.
Aku berjongkok, mendekat pada kaki Ares yang sedang diluruskan. Kemudian menyentuh bagian kakinya yang tak tertutup sepatu dengan ujung jariku. Iseng. Kemudian melirik Ares yang meringis sakit sambil geleng-geleng kepala, menandakan ia tidak mau disentuh. Untung saja dia tidak heboh seperti dialog sinetron yang "jangan sentuh aku, jangan sentuh aku!"
Aku kembali duduk di sampingnya.
"Emang tadi ke sini nggak bawa mobil?" tanyaku. Ares menggeleng.
"Naik grab. Lagi dapet promo tadi kan, dari rumah ke sini cuma lima ribu. Ya udah lah, pikirku juga sekali-kali nggak nyetir sendiri kan juga enak. Jadi naik grab deh."
Wah, untuk ukuran orang kaya, Ares ini masih peduli pada promo juga rupanya. Sama saja sepertiku. Hahaha
" Terus ini aku pulangnya dianterin sama mbak grab yang cantik ini deh," kata Ares sambil mengacak rambutku lagi. Duh! Ini rambut diacak-acak lama-lama jantungku yang keluar.
Aku membetulkan rambut yang berantakan. Sementara Ares tersenyum sambil memandangiku.
"Kenapa?" tanyaku. Ares menggeleng sambil masih tersenyum.
"Kenapa?"
"Nggak pa pa,"
"Ya terus kenapa lihatin sambil senyum-senyum?"
"Ya nggak pa pa, emangnya nggak boleh?"
"Ya nggak boleh lah. Tidak ada kejelasan diantara senyumanmu," balasku.
"Mau kejelasan?" tanya Ares.
Aduh mampus! Dia pasti mau bahas pertanyaan beberapa hari yang lalu itu. Tapi akhirnya aku tetap mengangguk, walau ragu-ragu.
"Aku nggak nyangka lho, Ra, kita bisa deket kayak sekarang. Kamu, orang yang beberapa bulan lalu mampir ke kafe dengan kekasihmu, dan aku cuma bisa ngelihatin aja dibalik meja kasir atau meja bar. Kamu yang ditinggalin sendirian di kafe oleh kekasihmu, eh sekarang bisa duduk dan ngobrol begini denganku," kata Ares.
" Terus?" tanyaku.
" Ya udah, gitu aja. Ya aku seneng aja, kita bisa sedekat ini," katanya.
Aku lega Ares tidak membahas apa pun tentang hubungan kami berdua. Kejelasan hubungan sebenarnya. Aku sedang tidak mau buru-buru. Aku juga tidak tahu getaran-getaran di hatiku ini sebenarnya apa.
" Ya udah, ayo anterin aku pulang," kata Ares.
"Emangnya bisa jalan? Ini ke tempat parkir lumayan jauh lho, Res," kataku.
"Ya pelan-pelan aja jalannya," kata Ares.
Aku beridiri, kemudian Ares mengulurkan tangannya untuk meminta bantuanku. Aduh, ini satu sentuhan bisa bikin sengkring-sengkring di dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mampu (s) Tanpamu (COMPLETED)
AcakApa yang bakal lu lakuin, kalau lu diputusin pas lagi sayang-sayangnya? Diputusin di hari jadian lu berdua. Kan sakit, Maemunah! Highest rank #1 Malang #1 Mellow #5 Rara #5 Sakit Hati #9 Patah hati #10 Kuliah
