Pasca Terapi

3.3K 213 5
                                        


Mama menepuk sofa sebagai tanda menyuruhku duduk disebelahnya. Aku menurut, duduk di sebelah mama. Tentu saja dengan menyandarkan kepalaku ke bahu mama. Anak satu-satunya mah bebas mau segede apa pun manja juga nggak salah.

"Tadi itu sebenarnya siapa sih, Ra?"

"Itu namanya Jonas, Ma. Anaknya doktor Melissa," jawabku.

"Jadi kamu kenalnya semenjak ke doktor Melissa?"

"Dia yang nolongin Rara waktu di bioskop, Ma. Terus waktu Rara konsul ke doktor Melissa, ketemu, terus ya gitu deh."

"Dia suka sama kamu?" tanya mama. Aku mengendikan bahu.

"Anaknya lucu, Ra. Tapi kayaknya masih belum dewasa," kata mama. Ah, mama, seandainya tahu anak itu sudah berani cium aku segala, nggak akan bilang dia lucu lagi.

"Kamu suka juga sama dia?" tanya mama. Aku menggeleng.

Mama menarik napas panjang.

"Ya sudah, nggak penting lah kamu suka siapa atau bagaimana, yang penting selesaikan kuliahmu dulu. Kalau nanti mau lanjut ke program magister, ya lanjut aja. Habis itu rasain kerja dulu, baru kamu boleh mikir pasangan dengan serius," kata mama sambil mengelus kepalaku.

"Berarti kalau sekarang boleh main-main dulu cari pasangannya?' tanyaku. Mama tertawa.

"Nanti kalau kebanyakan main-main, kamu cepet game over," jawab mama.

Aku tertawa.

***

Hari ini hari Jum'at. Jadwal terakhirku untuk bertemu dengan doktor Melissa. Keadaanku sudah membaik, tidak pernah mengalami serangan panik lagi.

Sebenarnya semua itu terjadi karena perasaan cemasku yang berlebihan saat memikirkan Bima. Mungkin karena aku masih belum bisa menerima kenyataan kehilangan orang yang aku pikir benar-benar mencintaiku. Kehilangan seseorang yang berarti untukku. Dua tahun bersama, tentunya sedikit banyak harapan tertata untuk hubungan lebih lanjut. Tak menyangka jika akhirnya Bima begitu.

Namun beruntunglah aku memiliki teman seperti Sindi, Aliya, Lio, dan Ares. Yah, walaupun hanya Sindi yang tahu aku ikut sesi dengan doktor Melissa, tapi tetap saja teman yang lain ikut berperan. Tanpa mereka, mungkin aku sudah semakin kalut dalam kesedihan dan kesendirian. 

"Lo hari terakhir kan ini, Ra?" tanya Sindi. Aku mengangguk mantap.

"Wah, akhirnya temen gue sekarang udah sehat wal afiat secara rohani. Nanti makan makan yuk, sekalian ngerayain selesainya lo menjalani proses terapi," kata Sindi lagi.

"Boleh, lo mau makan apa?"

"Apa aja deh, asal di traktir," balasnya.

Aku mengangguk. Nraktir Sindi saja sih nggak bikin kantong bolong. Beda lagi kalau dia ngajak orang sekampung.

Sindi mengarahkan motornya ke rumah praktek doktor Melissa. Seorang anak laki-laki berseragam pramuka baru saja masuk ke dalam rumah tersebut. Motornya diparkir sembarangan di depan rumah.

"Yah Ra, si Bule di rumah,"kata Sindi.

"Yaudah biarin aja sih."

Sindi duduk di sofa, sementara aku masuk ke dalam untuk mengikuti sesi terakhir.

Setelah satu jam lebih berada di dalam, aku keluar. Aku mendapati Sindi dan Jonas sedang mengobrol. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tumben sekali akur. Biasanya bagaikan anjing dan kucing.

"Udah selesai?" tanya Sindi.

"Ya gue udah keluar, masa belum?" jawabku.

"Habis ini mau ke mana?" tanya Jonas.

Mampu (s) Tanpamu	 (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang