Godaan Lelaki

3.4K 226 14
                                        

Aku menatap wajah Jonas dengan kesal. Tapi yang kutatap masih memejamkan mata dan memonyongkan bibirnya. Ingin sekali rasanya aku mendaratkan sepatuku ke bibir monyongnya.

Aku berdiri dari dudukku, hendak pergi ke gedung yang berada di seberang kantin. Mau ke kamar mandi, membilas bibirku yang ternodai oleh ciuman dari bule gila ini.

"Aku cuma mau bantu kamu, Miranda," ucapnya begitu aku berjalan tiga langkah.

"Menahan nafas bisa bantu kamu bernafas kembali," lanjutnya.

Aku menoleh, menatapnya sinis.

"Lo nyari untung doang dari gue!" jawabku kesal. Lalu benar-benar pergi ke gedung seberang.

Aku sungguh-sungguh membilas bibirku dengan air di wastafel, sesekali kulihat di cermin. Ah sialan, ya aku memang cantik sih, tapi ya jangan terlalu nafsu sampe nyium gue di depan umum dong, dasar bule gila!

Ada suara langkah kaki terhenti di depan pintu kamar mandi. Langkah itu tidak berlanjut hingga ke dalam. Lalu aku mendengar desahan nafas kasar.

"Miranda," suara Jonas dari balik pintu. Dia mengikutiku kemari rupanya.

"Apaan?" balasku dari dalam setengah menghardiknya. Untung saja kamar mandi perempuan sedang kosong.

"Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma mau bantuin kamu aja," kata Jonas.

"Bohong. Bantuan apaan cium-cium di depan umum?"

"Ya terus kamu maunya gimana? Dicium di tempat sepi?" tanyanya. Gila, ya aku nggak mau dicium lah.

"Ya nggak gitu."

"Miranda, aku benar-benar nggak ada maksud apa-apa. Aku cuma mau nolongin kamu tadi," ucapnya pelan. Ah, aku jadi merasa iba. Anak ini masih kecil, dan aku bersikap kasar padanya.

Aku mendekat ke arah pintu, lalu menyembulkan kepalaku.

"Maaf," kata itu meluncur pelan dari bibirnya. Ah, bibirnya!  Woy, mikir apa sih aku ini?!

Aku menganggukkan kepalaku. Aku berusaha memahami bahwa Jonas benar-benar berniat membantuku. Entahlah, mungkin karena dia masih SMA, dan mungkin lebih muda dariku, jadi sikapnya sangat impulsif dan tidak mudah ditebak.

"Mir, kalau yang ini, aku memang bermaksud sesuatu," katanya lagi, lalu ia mendekatkan kepalanya padaku, menautkan bibirnya di bibirku. Lima detik, atau entahlah, aku merasakan bibir lembutnya melumat bibirku. Aku tersadar, berusaha mundur, kembali masuk ke kamar mandi.

"Bye Miranda, sampai jumpa lagi. Jangan selingkuh," katanya. Lalu langkahnya terdengar menjauhi kamar mandi.

Ya ampun, anak ini benar-benar bisa membuatku gila.

***
Ares menjemputku setelah lima belas menit aku menunggu. Aku masuk ke mobilnya tanpa banyak bicara.

Entahlah, setelah Jonas menciumku di kamar mandi, aku tidak tahu harus bagaimana. Tahu-tahu aku menelepon Ares, dan lima belas menit kemudian ia datang.

Bodo amat dengan Sindi dan Aliya yang mungkin sedang kebingungan mencariku. Aku tidak peduli. Aku ingin menenangkan diri dulu. Aku tidak tahu harus bagaimana.

"Kamu bisa cerita kalau kamu udah siap, Ra," kata Ares sambil menyetir.

Aku menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. Pusing aku, sungguh pusing dibuatnya. Rasa ciuman dari Jonas masih melekat di bibirku. Otakku tidak bisa berhenti memikirkannya.

"Ra? Kamu nggak pa pa?" tanya Ares lagi.

"Nggak tahu," jawabku sambil menggeleng.

"Ya sudah, emangnya apa yang kamu rasain saat ini?" tanya Ares. Aku kembali menggeleng.

Mampu (s) Tanpamu	 (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang