Aku mulai menyesuaikan diri dengan kenyataan. Aku sudah mulai mau makan, walau harus dibujuk mama atau ditelepon Sindi bolak balik. Aku sudah mulai menikmati berbagai film komedi yang dijejalkan oleh Sindi sepanjang hari. Dia nggak pernah alpa kehadiran ke rumahku tiap pulang kuliah. Aku mulai masuk kuliah setelah seminggu penuh berada di dalam kamar.
Patah hati kok cuma seminggu doang? Nggak masuk akal.
Harusnya kalian ngitung pasca putus juga seminggu dong. Jadi total aku menangis bombay dan dapat penjelasan itu sekitar dua minggu. Bukan seminggu.
Ya tapi gimana lagi, jatah bolos kuliah itu selama satu semester cuma tiga kali di masing-masing mata kuliah, itu sudah termasuk sakit dan izin. Seminggu ada delapan sampai sebelas mata kuliah. Satu semester ada 16 pertemuan di tiap mata kuliah. Kalau aku membiarkan diriku tidak masuk lebih dari seminggu, bisa kehabisan jatah bolos kuliah dan bahkan harus ngulang mata kuliah. Rugi besar dong aku ini. Ya nggak mau lah.
Gila aja, bisa ke-geer-an dan kebesaran kepala dong si Bima kalau sampai tahu aku ngulang mata kuliah bahkan molor kuliah hanya gara-gara diputusin dia. Idiiih, nggak mau banget. Berasa lelaki paling berharga nanti dia.
"Wah, si cewek patah hati udah masuk kuliah nih," goda Sindi padaku ketika ia baru masuk kelas.
"Paan sih," balasku.
"Siapa yang patah hati?" Aliya yang duduk di sebelahku tiba-tiba nimbrung.
"Kamu, Ra? Jadi seminggu nggak masuk gara-gara patah hati?" tanya Aliya lagi.
Aku hanya bisa ber-hehe sambil nyengir. Sebenarnya ini masalah sensitif banget nggak sih? Kenapa dia harus nimbrung.
"Kalau aku jadi kamu, nggak cukup seminggu, Ra. Apa lagi kalau lagi sayang-sayangnya," kata Aliya lagi.
"Halah, jomblo aja, sok patah hati segala lo," kata Sindi.
"Aku itu nggak jomblo, Sin. Cuma LDR," kata Aliya.
"LDR apaan?" tanyaku.
"LDR-ku ini lain dari pada yang lain. Kalau orang-orang kan LDR-nya beda kota, beda negara, sampai ada yang beda agama,"
"Kalau lo?" tanya Sindi.
"Beda perasaan. Aku ngerasa sayang, dia enggak," jawab Aliya.
Sindi ngakak sengakak-ngakaknya. Aku pun tak bisa menahan tawa. Dapat dari mana si Aliya LDR beda perasaan? Itu bukan LDR lagi namanya. Cinta bertepuk sebelah tangan itu namanya.
"Udahlah Ra, masih mending kamu putus. Dari pada LDR kayak aku gini kan. Setidaknya kamu pernah bahagia merasakan dicintai. Lagian nanti juga ada gantinya yang lebih baik," kata Aliya menghiburku.
Pembicaraan kami berhenti, ketika Pak Fattah, dosen filsafat kami memasuki ruangan. Kami mengikuti kuliah dengan khidmat, dan tulus ikhlas.
***
"Ra, temenin gue yuk," pinta Sindi begitu Pak Fattah keluar dari ruangan.
"Ke mana?"
"Ketemuan sama Lio,"
"Di?"
"Di warunk," jawabnya.
"Halah, jadi obat nyamuk lagi gue. Lo yang traktir," godaku. Dan hebatnya Sindi mengangguk. Gila, sepenting ini ternyata ketemu dengan Lio. Aku jadi curiga.
"Emang lo sama Lio udah sampe mana sih?"
"Sampe ketemu ketemuan, makan, nonton, gitu deh."
"Asooy, temen patah hati, lo bersemi semi," ledekku.
"Yee, tapi kan gue tiap hari nemenin lo, bolot," balasnya tak terima dengan ledekanku. Kami tertawa.
Kami kemudian keluar ruangan. Menuju kelas berikutnya untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.
Masih ada dua mata kuliah tersisa hari ini. Masing-masing dua jam kuliah alias seratus menit. Seratus menit untuk menyimak presentasi, berdiskusi, menerima penjelasan dari dosen, nggak akan terasa seratus menit.
***
Aku dan Sindi memarkir motor di depan Warunk. Warunk ini adalah nama sebuah kafe atau tempat makan begitu lah, letaknya dekat dengan kampus kami. Mungkin jaraknya tidak sampai satu kilometer, jalan kaki pun nggak akan keringetan heboh. Tapi namanya aku dan Sindi ini terlalu sayang dengan kaki, nggak mau mereka pegel-pegel kan, akhirnya kami naik motor saja.
Aku dan Sindi memilih duduk di lantai satu. Lalu seorang waiterss mengantarkan menu kepada kami.
Menu makanan di Warunk ini ada indomie kekinian, nasi sosis, roti bakar, pisang bakar, dan semacamnya. Banyak sekali variasinya.
Sindi berkutat pada ponselnya begitu kami duduk. Mungkin dia menyuruh Lio segera datang. Keburu rindu, mungkin. Hahaha.
"Pesen apaan lo?" tanyaku pada Sindi.
"Terserah deh, pesenin," jawabnya sambil asyik dengan ponselnya.
"Indomie sadis mampus level sepuluh, ya?" godaku.
"Eh?" Sindi membelalakan mata.
"Lo mau perut sama anus gue berdarah?" protes Sindi padaku.
"Ya katanya pesenin," jawabku.
"Yaudah siniin menunya. Haduh Ra, bisa mati gue kalo makan sama lo," kata Sindi sambil menarik menu dari tanganku.
"Gue ini aja, indomie saus telur asin. Teruuuuss sama minumnya soda leci," kata Sindi setelah mematut buku menu.
Aku menulis pesanan Sindi. Lalu menarik buku menu dari tangan Sindi. Aku memilih menu nasi sosis mentega balckpepper dan minumnya green tea latte. Lalu aku menyerahkan pesanan kami berdua.
"Mana nih, pujaan hati lo?" tanyaku pada Sindi.
"Katanya sih lagi otewe ke sini," jawabnya.
"Nah, itu mobilnya," kata Sindi menunjuk mobil brio berwarna putih memasuki halaman parkir. Gila, sekali lihat sudah hafal. Emang begini banget ya orang kalau lagi jatuh cinta. Suka hafal banget ini itunya si doi.
Dulu aku juga begitu sih, hafal jadwalnya Bima dari Senin sampai Minggu. Tahu betul dia ke sekolah jam berapa, latihan basket hari apa saja, sampai jadwal kuliah pun aku juga hafal. Tuh kan, jadi Bima lagi.
Tiba-tiba aku merasakan sesak di dadaku. Semua ingatan tentang Bima kembali berputar di otakku. Bima yang baik, yang penuh kasih sayang, yang keren dengan seragam basketnya, yang aarrgghh! Yang tega menghianati aku.
Sialan!
Aku berdiri dari tempat dudukku. Aku harus mencari udara segar. Ini benar-benar sesak.
"Lo kenapa, Ra?" tanya Sindi.
Aku menggeleng, berjalan mundur, dan bermaksud keluar dari ruangan yang terasa makin sesak bagiku.
"Ra, lo kenapa?" Sindi ikut berdiri, hendak mencegahku keluar ruangan.
"Dada..., gue..., se..sek banget..," ucapku sambil memegang dadaku. Kemudian aku berjalan keluar.
Aku melihat Lio keluar dari mobilnya. Lalu di sebelah kiri mobilnya, Ares sudah berdiri dan merapikan pakaiannya.
Aku masih berusaha menahan sesak di dada ketika bapak tukang parkir mulai meneriakiku.
"Mbak, mbak, kenapa mbak?"
Lio dan Ares bergegas lari ke arahku. Dari belakang pun aku mendengar suara Sindi memanggilku.
"Ra, Rara! Lo kenapa?" Suara Sindi terdengar panik.
Nafasku makin sesak, pandanganku mulai berkunang-kunang. Aku terduduk di lantai. Cahaya semakin meredup, lalu gelap.
Aku ini kenapa?
***
Tbc dulu ya.
Maafkan jarang apdet, karena aku harus ngerjain ini dan itu. Hahaha
Jangan lupa vote dan komen. Boleh banget kalau mau share.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mampu (s) Tanpamu (COMPLETED)
AcakApa yang bakal lu lakuin, kalau lu diputusin pas lagi sayang-sayangnya? Diputusin di hari jadian lu berdua. Kan sakit, Maemunah! Highest rank #1 Malang #1 Mellow #5 Rara #5 Sakit Hati #9 Patah hati #10 Kuliah
