Car Free Day

3.1K 203 6
                                        


Hari ini hari Minggu. Aku dan Sindi sudah berencana untuk mengunjungi Car Free Day di jalan Ijen sejak semalam. Sekedar info, Sindi menginap di rumahku semalam.

Semalam aku bercerita lumayan banyak tentang kegundahanku akan pertanyaan dari Ares yang tidak bisa kujawab. Jadi selama ini aku dan Ares itu apa? Sahabat? Terlalu cepat untuk dibilang sahabat. Teman? Ya teman macam apa yang bilang kangen dan aku jadi sedikit terbawa perasaan? Pacar? Jelas bukan, masih terlalu dini untuk dibilang pacaran. Cuma ada sedikit getaran saja di hatiku.

Sindi bilang, santai saja, tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan hubungan apa antara aku dan Ares. Berjalan saja seperti biasanya. Berjalan sewajarnya, selayaknya teman biasa. Tapi dengan kemunculan pertanyaan 'kita ini apa?' membuat semuanya tidak lagi sama seperti biasa.

Setelah selesai makan dari bakso bakar di jalan Pahlawan Trip, suasana kami amat canggung. Hanya alunan musik dari radio yang ada di antara kami berdua. Setelah itu aku turun dari mobilnya hanya dengan ucapan terima kasih saja.

"Ra, lo udah bangun?" suara parau Sindi membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk.

"Udah mandi lo?" aku menggeleng.

"Mandi gih, gantian. Habis ini kita cari sarapan di CFD," katanya.

"Kenapa nggak lo duluan sih?" protesku.

"Lo aja, dari pada lo masih mikirin perasaan lo yang nggak karuan, mending lo mandi," balasnya. Aku mencebik. Sok tau sekali temanku satu ini.

"Lo hubungin Aliya deh, gue udah chat dia semalem, katanya mau ikutan juga," kataku sambil berdiri, menuju kamar mandi.

Aku menyalakan shower dan menyetelnya dengan suhu sedang. Udara di daerah tidar ini terlampau sejuk. Jadi mandi pun harus dengan air hangat jika tak mau terserang flu. Apalagi sepagi ini.

Jadi aku dan Ares ini apa? Teman tapi mesra? Teman tapi baper? Teman tapi antar jemput terus pakai ngajak jalan dan makan? Tapi emang teman itu begitu kan? Iy kan? Kalian setuju tidak denganku?

***

Aku dan Sindi sudah sampai di jalan Ijen. Motor Sindi diparkir di dekat museum Brawijaya, museum tank zaman dahulu kala yang ada di kota Malang. Setiap hari Minggu, sekitaran museum Brawijaya akan penuh sesak dengan puluhan motor yang terparkir rapi. Pun dengan tukang parkirnya, mereka pasti meraup banyak recehan dari para pengguna jasa parkir.

Aliya tampak celingak celinguk di dekat gerbang masjid yang ada di halaman museum. Aku dan Sindi menghampiri.

"Udah dari tadi lo?" tanya Sindi pada Aliya.

"Kalian sih, lama banget. Senamnya udah mau bubar," katanya sambil cemberut.

"Halah kayak iya aja mau senam segala, motivasi gue ke sini hanya buat cari sarapan," balas Sindi.

"Emang mamanya Rara nggak masak?" tanya Aliya.

"Ya masak, nih bocah aja yang sok sok an pengen makan di sini. Kalau udah kena yang mahal dan rasanya nggak enak, tau rasa kan dia," jawabku.

"Biarin," balas Sindi, kemudian ia sudah berjalan duluan meneliti para penjual makanan di sepanjang jalan. Aku dan Aliya hanya geleng-geleng kepala lalu mengikutinya di belakang.

Sindi menerobos segerombolan wanita yang mengikuti gerak istruktur senam di depan perpustakaan kota. Kemudian berjalan lurus memasuki jalan Semeru, melewati beberapa stand pakaian.

"Gila, Ra, tadi dia di rumahmu udah sarapan duluan atau gimana sih? Kenceng banget jalannya?" kata Aliya saat kami berusaha mengejar Sindi.

Sindi melambai dan meneriaki kami berdua, dia sudah duduk santai di belakang gerobak pecel. Aku dan Aliya menyusulnya.

" Kalian mau makan apa? Makan aja, gue yang traktir," kata Sindi.

" Yakin lo nraktir kita berdua di sini?" bisikku pada Sindi. Ia mengangguk.

Bukan apa-apa, tapi terkadang makan di CFD itu banyak zonk-nya. Bukan karena nggak enak, tapi harganya yang suka nggak masuk akal. Terkadang satu porsi nasi pecel yang biasanya bisa kita dapat dengan harga sepuluh ribu rupiah atau kurang, kalau di CFD bisa jadi lima belas sampai dua puluh ribu rupiah. Air mineral yang biasanya tiga ribu rupiah, jadi lima ribu enam ribu. Ya walau nggak semua penjual kayak gitu sih, tapi kebanyakan begitu.

Akhirnya aku dan Aliya memesan nasi pecel. Porsinya nggak banyak sih, rasanya juga lumayan. Tapi soal harga biar saja Sindi yang tahu.

"Gimana perkembangan lo sama cowok impian lo itu Ya?" tanya Sindi pada Aliya. Aliya mendengus.

"Kenapa sih diingetin? Kan aku pengennya move on," kata Aliya lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Lo sendiri apa kabar sama Lio? Jarang banget berduaan?" tanyaku pada Sindi.

"Lio sibuk. Ada praktikum ini lah, belajar itu lah, jadi jarang ketemu. Kan jadi kangen," balas Sindi.

"Kamu apa kabar Ra sama si Bule?" tanya Aliya.

"Eh, jangan ditanya, Rara itu lagi bingung habis dapet pertanyaan dari Ares," timpal Sindi.

"Pertanyaan apaan?"

"Pertanyaan, 'sebenarnya kita ini apa'," kata Sindi sambil tersenyum menggodaku.

"Sumpah si Ares nanya gitu?" Aliya heboh, makanannya sudah entah dikemanakan.

"Ra, terus kamu jawab apa dong?" tanya Aliya. Aku mengendikan bahu.

"Duh kalian nih, nggak ada hal lain apa yang diomongin?" gerutuku.

"Yee, jangan marah dong. Ini namanya sharing pengalaman percintaan," kata Aliya.

"Halah pengalaman percintaan apaan? Sindi lagi nggak tahu Lio lagi di mana sama siapa ngapain aja, aku ditinggal nikah sama Bima, kamu mengejar lelaki yang bahkan tahu namamu aja enggak. Apanya yang sharing pengalaman percintaan?" kataku lalu mencebik.

Dua makhluk di hadapanku diam. Matanya memandang ke arah lain, di belakangku.

" Kalian liatin apaan sih?" tanyaku lalu menoleh ke belakang.

***

TBC

Terima kasih kepada semua pembaca yang rela menunggu dan membaca cerita yang masih kurang bagus menurut saya ini. Jangan lupa komen, vote dan share.

Mampu (s) Tanpamu	 (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang