Langkahku makin mendekati Bima. Ia sudah memasukkan tasnya ke jok belakang. Kemudian menutup pintu. Lalu membuka pintu di jok kemudi. Setengah tubuhnya sudah masuk ke dalam mobil. Belum sempat Bima menutup pintu mobilnya, aku menahannya. Membuat Bima melongok dari dalam mobil, lalu keluar dari mobil.
"Rara?"
"Iya ini aku, Bim," jawabku dengan suara sedikit bergetar. Aku mati-matian menahan sesak yang sedari tadi memenuhi rongga dadaku.
"Ada apa Ra?"
Ada apa, katanya. Dia pikir tidak ada masalah apa pun setelah meminta menyudahi hubungan kami. Tidak semudah itu, Ferguso. Eh, Bima!
"Aku butuh penjelasan dari kamu, Bim," kataku.
"Penjelasan apa? Nggak ada yang perlu dijelasin, Ra. Hubungan kita sudah nggak bisa dilanjutin,"
"Karena apa?" desakku.
"Karena memang sudah nggak bisa. Aku sudah nggak sanggup menghadapi kamu."
"Memangnya aku kenapa? Aku salah apa?" desakku lagi. Bima diam.
Sejujurnya hubungan kami masih bisa dibilang hubungan yang normal. Kami chatting, ketemu, jalan, nonton, makan bareng, kadang mengerjakan tugas bareng, bertengkar sewajarnya, cemburu pun tidak pernah berlebihan. Aku bukan tipe cewek posesif - obsesif, yang kamu harus lapor padaku dua puluh empat jam ngapain aja dan sama siapa. Nooooo! Aku bukan cewek semacam itu. Lalu bagian mana yang membuat Bima tidak sanggup menghadapiku?
"Lalu kemarin, kenapa Dina minta maaf sama aku, Bim?"
Bima diam.
Aku kesal. Sesungguhnya berdrama di tempat parkir itu nggak banget. Walaupun aku nggak teriak-teriak dan tidak menampilkan adegan fisik tampar menampar pipi, namun ekspresi wajahku pasti sangat kelihatan kalau sedang jengkel, marah, kecewa, tercampur jadi satu.
"Aku berhak tahu, Bim," ucapku. Bima menghela napas kasar.
"Oke, masuk deh. Aku akan cerita," kata Bima. Aku menurut. Membuka pintu mobil, dan duduk di samping jok kemudi. Aku sudah tidak peduli jika aku ditinggalkan oleh Sindi. Ini lebih penting.
Bima juga masuk dan duduk di belakang kemudi. Ia menyalakan ac mobil. Tapi mobil yang kami tumpangi tidak berpindah ke mana pun.
Aku diam. Aku menunggu Bima bicara.
"Oke, Ra. Aku akan cerita semuanya. Kamu berhak marah, kamu berhak benci sama aku, tapi sebelumnya aku benar-benar minta maaf sama kamu," kata Bima sambil meremas kemudi.
Aku mempersiapkan hatiku. Ini jelas tidak baik. Sejak aku memilih melangkahkan kakiku kepada Bima, jelas ini bukan hal yang baik.
"Oke, aku akan dengerin apa pun penjelasan dari kamu," jawabku.
Bima menarik napas.
"Maafin aku, Ra. Tapi aku pilih mengakhiri hubungan kita karena bulan depan aku harus nikah," kata Bima.
Jegggeerrr!!!!
Nikah? Nikah katanya?
"Nikah sama siapa?" tanyaku. Bukankah jika seharusnya menikah, ia harusnya menikah denganku? Aku sudah jadi pacarnya selama dua tahun.
"Dina," jawabnya pendek.
"Dina? Kenapa Dina?" aku memburu.
"Dina..., Dina hamil anak aku, Ra," jawabnya lirih.
Apa ini? Dina hamil anaknya Bima? Dua tahun pacaran denganku, Bima tidak pernah macam-macam. Paling banter peluk, cium pipi, dan dahi. Kecup bibir hanya sekilas saja. Bima tidak pernah ciuman hot sampai grepe-grepe segala. Lalu ini apa? Bagaimana bisa Dina hamil anaknya Bima?
Aku berusaha menahan semua sesak di dada. Namun gagal. Air mata mengalir membasahi pipiku.
Jancuk! Aku dikhianati, dibohongi, dibodohi. Bahkan setelah aku memberikan semua kepercayaanku padanya.
"Kapan?" tanyaku.
Bima menoleh. Ia tampak bingung, mungkin ia tidak tahu harus menjawab apa. Lagi pula mungkin mereka sudah wik wik wik berkali-kali, hingga lupa kapan semua itu terjadi.
"Oke, berapa usia kandungan Dina?" tanyaku. Sesungguhnya ini pertanyaan bodoh. Sama saja menusuk belati pada diriku sendiri.
"Sudah enam minggu, Ra," jawabnya.
"Oke, semoga pernikahanmu lancar," ucapku. Aku membuka pintu, keluar dari mobil jazz warna kuning itu, lalu membanting pintu.
Air mataku belum kering. Aku berjalan perlahan menuju mobil Lio. Sindi menungguku di luar mobil. Ia segera menghampiriku.
"Ra...," Sindi memelukku. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sindi.
"Sssshh, udah Ra. Cup..., diem lo. Jangan nangis kayak bayi gini ah. Malu dilihatin orang," kata Sindi berusaha menenangkanku. Aku abai, aku masih ingin menumpahkan semua sakit hatiku padanya.
Sindi memapahku masuk ke mobil milik Lio. Aku masih menangis sesenggukan, sibuk menghapus air mata dan ingus yang berlelehan di mukaku. Aku sudah tidak peduli ada Lio, Ares atau apa pun.
Aku merasakan mobil bergerak, entah ke mana. Aku masih membenamkan diri di pelukan Sindi. Aku tidak tahu kami akan ke mana.
"Ra, udahan dong. Lo mau sampe kapan nangis terus? Baju gue kena ingus lo semua nih," kata Sindi.
Bukannya berhenti menangis, aku malah mengelap sembarangan pakai baju Sindi. Salah sendiri, nyuruh-nyuruh udahan. Orang lagi sedih.
Kemudian aku menarik tubuhku dari pelukan Sindi. Aku berusaha menenangkan diri. Tapi tetap saja, nyeri di dada begitu hebat. Aku sudah memberikan kepercayaanku kepada orang yang salah. Antara aku yang bodoh, atau Bima memang benar-benar pandai menyembunyikan bangkainya.
"Ini kita mau ke mana?" tanyaku sambil menghapus air mata yang tersisa di pipi.
"Lo maunya ke mana?" tanya Sindi. Aku mengendikan bahu. Otakku sedang koma, nggak bisa diajak mikir ini mau ke mana.
"Pulang aja si Rara, Sin. Dia paling juga udah nggak nafsu ke ngapa-ngapain," kata Ares.
Aku diam. Sebenarnya yang dikatakan Ares benar. Aku tidak tahu harus berbuat apa selepas ini. Kuliah pun sudah tak mungkin lagi.
"Nanti biar Lio yang antar kamu balik ke kampus. Motor Rara nanti aku anterin ke rumahnya," kata Ares lagi.
Sejujurnya aku ingin bilang nggak usah, tapi sungguh aku tidak bisa mengendalikan mulutku. Aku mengunci mulutku. Menutupnya rapat-rapat.
"Gitu aja ya, Ra?" tanya Sindi. Aku diam. Kemudian aku mendengar Sindi menyebut alamat rumahku. Aku memejamkan mataku. Aku masih bisa merasakan tangan Sindi mengelus lengan kiriku. Dia menenangkan aku, yang sayangnya tidak memberikan efek apa pun terhadap psikisku.
* sekian dulu ya readers..
see you besok-besok lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mampu (s) Tanpamu (COMPLETED)
AcakApa yang bakal lu lakuin, kalau lu diputusin pas lagi sayang-sayangnya? Diputusin di hari jadian lu berdua. Kan sakit, Maemunah! Highest rank #1 Malang #1 Mellow #5 Rara #5 Sakit Hati #9 Patah hati #10 Kuliah
