Esoknya, Ares benar-benar ke rumah sakit, memeriksakan kakinya. Aku tidak ikut sih, hanya dikabari saja lewat telepon. Katanya harus di gips, karena ada sedikit retak dan dislokasi. Jadi sekarang dia ke mana-mana bawa kruk dan diantar oleh Pak Miswar. Termasuk kuliah, ke kafe, atau bahkan nongkrong pun jadi diantar oleh Pak Miswar
Tapi gipsnya tidak lama, hanya sekitar dua minggu. Retaknya tidak parah, sedikit banget. Seandainya tidak di gips, hanya diperban saja tidak masalah untuk membetulkan posisi kakinya yang dislokasi itu. Tapi mamanya minta digips, biar cepat dan aman katanya. Akhirnya Ares menurut saja kan?
Hari ini adalah hari pemeriksaannya, dan sepertinya gipsnya boleh dilepas. Ares memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit. Aku mengiyakan saja. Toh aku tidak ada acara ke mana-mana. Kuliah terakhir kemarin, dan sekarang aku masih libur, jadi aku mau saja dimintai tolong oleh Ares menemaninya ke rumah sakit.
Rumah sakit tempat Ares membetulkan kakinya ada di seberang stasiun Kota Lama, rumah sakit Panti Nirmala. Rumah sakit swasta dengan harga yang lumayan, tapi pelayanan juga bagus tentu saja.
Tadinya Ares akan menjemputku di rumah. Tapi aku menolak, karena nanti lama kalau Ares harus menjemputku terlebih dahulu. Belum lagi jalan ke arah rumahku, di depan kampus STIKI sering kali macet. Jadi aku bilang pada Ares agar bertemu di rumah sakit saja. Lagi pula aku sedang memanfaatkan promo dari ojek online.
“Hallo, Res udah berangkat?” tanyaku.
“Belum, sebentar lagi. Ini masih masukkan sepatu ke mobil,” jawab Ares dari seberang telepon.
“Ya udah nggak apa, kamu hati-hati ya. Ini aku udah di jalan kok. Kamu pelan-pelan aja nyetirnya.”
“Iya, duh, perhatian banget sih,” kata Ares.
“Apaan sih,” lalu aku menutup ponsel, memasukkannya kembali ke dalam tas.
“Telpon pacarnya ya Mbak?” tanya sopir ojol yang duduk di depanku.
“Eh, bukan kok Pak. Teman saya,” jawabku.
“Oh, kirain pacarnya Mbak. Habisnya kayak perhatian gitu. Hehehe,” kata si Sopir.
“Emang kayak orang pacaran ya, Pak?”
“Iya, Mbak. Anak saya juga kalau telponan sama pacarnya gitu, perhatian banget. Giliran sama bapaknya nggak gitu. Jadi cemburu saya Mbak. Padahal anak saya masih kelas dua SMA, tapi ya kalau telponan gitu,” yah malah curhat si bapak ini. Aku hanya menjawabnya dengan senyum dan hehehe saja. Ya gimana, salah sendiri nguping anaknya telponan, ya jelas cemburu lah.
Bapak sopir ojek online ini menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah sakit. Tidak mau mengantar sampai lobby, takut pacarku marah katanya. Hahaha. Padahal memang harusnya sampai di depan saja, biar bapak ini nggak ribet dengan tukang parkir dan bisa segera cari penumpang lain.
Sesampainya di lobby, aku duduk di kursi tunggu. Menunggu Ares yang mungkin sedang dalam perjalanan ke sini. Dia ngeyel nyetir sendiri, tidak mau diantar Pak Miswar. Bahkan Aria sampai memintaku membujuk Ares, tapi tidak mempan.
“Ini tinggal di lepas doang, besok udah bisa dipakai taekwondo ini kakiku,” katanya waktu kemarin ku telepon.
“Rara?” aku menoleh ke arah sumber suara. Bima. Ia menghampiriku, kemudian duduk di sampingku.
“Siapa yang sakit, Ra?” tanya Bima.
“Eh, hai Bim,”
“Mama kamu sakit? Atau Papa kamu sakit?” tanya Bima.
Ah, memang dulu hubungan kami sudah pada tahapan saling main ke rumah. Jadi sudah saling akrab dengan orang tua. Melihat Bima bertanya seperti ini sebenarnya tidak aneh, tapi ya gimana, jadinya tetap aneh.
“Enggak kok, mama sama papa sehat-sehat aja. Aku ada janji di sini,” jawabku.
“Ah, syukurlah. Aku kira mama atau papamu sakit.”
Aku tersenyum.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku membuka obrolan. Ya gimana, dia nggak segera beranjak. Masih ngejogrog di sebelahku.
“Nganterin Dina kontrol. Udah masuk bulan ke tujuh sekarang. Harus rajin-rajin kontrol,” jawabnya.
“Oh..,”
“Ra?”
“Ya?”
“Apakah kamu masih benci sama aku?”
“Hm? Benci?”
Bima mengangguk.
“Ya, dulu aku benci sih. Tapi sekarang sudah enggak. Membenci orang lain hanya akan menyakiti diriku sendiri,”
“Maaf ya Ra,” katanya. Kali ini penuh dengan penyesalan.
“Nggak perlu minta maaf. Justru aku berterima kasih sama kamu. Kalau kamu nggak selingkuh, kalau Dina nggak hamil, kalau kamu nggak ninggalin aku, aku nggak akan pernah ketemu orang yang lebih baik dari kamu. Dan sekarang aku sudah menemukannya.”
“Jadi, jangan merasa menyesal. Mungkin memang harus begini jalan yang aku hadapi. Aku mampu kok, tanpa kamu. Aku baik-baik saja tanpa kamu,” balasku.
Bima menatapku, ia tersenyum. Kemudian mengulurkan tangan, aku menyambutnya, kami bersalaman.
“Be happy ya, Miranda. Maafin aku,” ucapnya lagi. Aku mengangguk.
“Ra?” Ares berdiri di hadapan kami berdua. Sudah tidak memakai kruk, tapi jalannya terpincang-pincang karena terganggu gipsnya.
Aku segera mendekat, kemudian berpamitan pada Bima.
“Bukannya itu cowok yang bikin kamu patah hati?” tanya Ares sambil berjalan menuju loket. Aku menggandeng lengannya, dengan maksud agar ia tetap bisa berjalan seimbang.
“Memang,” jawabku.
“Trus kok?”
“Kok apa?”
“Ya kok kalian udah santai gitu?”
“Ya kan sudah nggak ada apa-apa. Kenapa nggak bisa santai?” balasku.
“Iya sih, tapi kan,”
“Udah Res, dia nggak penting. Yang penting sekarang itu kamu,” kataku.
“Aku?” Ares bingung.
“Jadi duta shampo lain? Hahaha,” lanjutku.
“Ra! Maksudnya gimana, sekarang aku yang penting?”
“Hm?” aku menaikkan alis sambil tersenyum, menggoda jahil.
***
Tamat deh
Akhirnya selesai juga cerita ini.
Terima kasih semua pihak yang telah membaca dan berpartisipasi dalam cerita ini. Terima kasih vote dan komennya, juga kritik dan sarannya.
Yang udah ngeship sama si Bule, sepertinya dia menyerah. Karena tidak ada kabar setelah pulang dari Warunk. Rara juga tidak ingin mencari tahu, karena tak mau dianggap PHP.
Sudah ya, selamat malam. Terima kasih. Semoga puas dengan cerita ini. Kalau judulnya nggak sesuai ya maap. Hehehe.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya 💋💋
KAMU SEDANG MEMBACA
Mampu (s) Tanpamu (COMPLETED)
LosoweApa yang bakal lu lakuin, kalau lu diputusin pas lagi sayang-sayangnya? Diputusin di hari jadian lu berdua. Kan sakit, Maemunah! Highest rank #1 Malang #1 Mellow #5 Rara #5 Sakit Hati #9 Patah hati #10 Kuliah
