Gebetan Baru

6.4K 361 19
                                        

Mencintai dan dicintai selalu punya resiko masing-masing. Mencintai akan beresiko bertepuk sebelah tangan. Dicintai akan beresiko ditinggalkan ketika ia sudah bosan.
Semua resikonya sama, sakit hati.

Aku sedang menikmati resiko itu. Sudah seminggu pasca Bima memutuskanku.

Seminggu ini aku berusaha meraihnya. Mengirim pesan teks hampir tiap hari, menuntut penjelasan. Namun tidak satu pun pesanku yang dibaca olehnya.

Aku juga memeriksa sosial media miliknya setiap hari. Menunggu ia akan memposting apa, namun sia sia. Bima seminggu ini tidak memposting apa pun. Padahal fikirku, mungkin postingannya akan menjadi salah satu petunjuk bagiku. Petunjuk atas apa alasan Bima tiba-tiba meninggalkanku.

"Ra, habis ini ikutan yuk?" bisik Sindi di tengah-tengah perkuliahan siang ini, yang otomatis membuyarkan ratapanku terhadap hubungan asmaraku bersama Bima.

"Ke kampus sebelah," bisiknya lagi, agar tak ketahuan oleh Pak Paryono, dosen kami saat ini.

"Ngapain?" bisikku pada Sindi.

"Gue mau ketemu temen gue," balasnya berbisik juga.

Aku mengiyakan.

Sindi ini teman dekatku di kampus. Kami pertama kenal saat ospek jurusan. Dia berasal dari Bekasi. Dia adalah sosok yang sebenarnya hampir setipe denganku. Tapi aku cenderung lebih kalem dari pada Sindi. Cuma kami sepemikiran tentang beberapa hal.

"Lo kok nggak mewek sih, Ra?" tanya Sindi padaku saat kami menuju tempat parkir.

"Mewek kenapa?"

"Ya kan lo ditinggalin tanpa sebab."

"Pasti ada sebabnya sih, tapi ya nggak tau apa," jawabku.

Siapa bilang aku nggak mewek? Tersedu-sedu aku ini woy. Cuma aku memang nggak bilang pada Sindi. Buat apa? Nanti ngerepotin aja, lagian malu ah. Nanti kelihatan banget kan kalau aslinya aku ini menye-menye.

"Ini mau ketemu siapa sih, Sin?" tanyaku sambil memasang helm di kepala. Lalu memberikan satu helm lagi pada Sindi.

"Ketemu gebetan," jawabnya sambil memasang helm dikepalanya.

Gembel, bakalan jadi gojek dan obat nyamuk sepaket aku ini.

"Di mana?" tanyaku sambil menstarter motor. Sindi naik di jok belakangku. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menyebutkan sebuah gedung di kampus sebelah. Aku melajukan motorku.

"Itu bukannya gedungnya anak kedokteran?" tanyaku pada Sindi.

"Iya emang. Kan gebetan gue anak kedokteran, gimana sih lo?" balasnya sambil mengibaskan rambut hitamnya. Aku bisa melihatnya dari spion motorku.

"Yee, cabe banget sih, lo. Ini gebetan yang mana sih?" tanyaku.

"Makanya, lo itu kalo gue cerita disimak. Hih, gedeg gue sama lo, Ra. Patah hati ya patah hati sih, tapi jangan cuekin temen lo dong," balasnya.

"Jadi ini gebetan yang gue ketemunya waktu diajak Aliya nonton konsernya Danilla kemarin," jelas Sindi.

"Oh, yang lo bilang mukanya kayak orang Korea itu?" tanyaku sambil memelankan laju motor. Karena sudah memasuki gerbang kampus yang dimaksud oleh Sindi.

"Nah, itu lo pinter," balasnya sambil mengetuk helmku.

Aku mengarahkan motorku ke tempat parkir terdekat dengan gedung fakultas kedokteran di kampus sebelah, a.k.a kampus Brawijaya.

Sebenarnya hatiku sedikit kebat-kebit diajak ke gedung ini. Ini gedung kuliah Bima. Bima yang sudah seminggu ini hilang dari peredaran hidupku. Aku sedikit khawatir jika nanti kami tak sengaja bertemu, khawatir jika nantinya hatiku terluka lagi karena melihatnya.

Mampu (s) Tanpamu	 (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang