TAK hanya disambut oleh kokok ayam jantan, pagiku kali ini; juga turut dikenyangkan oleh ocehan tak berguna Jung Hoseok, yang kini tengah diadili oleh seisi rumah. Sempat dikira manusia tak waras oleh mama yang tadi pagi secara kebetulan membukakan pintu untuk mengambil koran yang biasa tersampir pada pagar rumah, disaat yang bersamaan, dengan begitu tak punya sopan santun, Jung Hoseok lantas menerobos masuk melewati daun pintu utama tanpa peduli. Berkilah jika sepasang mata cerahnya itu tengah mengantuk hingga tak memerhatikan jika ada mama yang dilaluinya secara mudah, ia pun melanjutkan petualangan untuk menebak-nebak ruang kamarku yang begitu kebetulannya; memiliki papan hiasan dengan tulisan, Ruang kamar ratu dirumah ini—Jieun, yang tercantik. Alhasil, pemuda periang itu, begitu leluasa dalam menjalankan aksi kejahatannya, untuk menemuiku.
Lalu, aku yang tak memiliki banyak waktu untuk mengintrogasi pemuda yang rupanya gemar menampilkan tawa lima jari dengan begitu ringan, lantas didahului oleh mama yang secara mengejutkan telah mendobrak daun pintu kamarku, dan berakhir menarik satu daun telinga Jung Hoseok hingga nyaris putus, sembari mencecar, "Pemuda sinting! kau ingin melakukan tindak asusila kepada anakku, ya? ayo, keluar. Berani-beraninya?"
Terkekeh sekilas, aku yang hanya memerhatikan raut kesakitan Jung Hoseok seraya menganggukan kepala, pun turut mengimbuh, "Benar, ma. Dia bahkan memaksaku untuk melepaskan pakaian. Hoseok itu pria mesum, ma!"
Melebarkan iris atas tuduhan palsu yang terlontar dari bibir tipisku, Jung Hoseokpun mengundarakan kedua tangan untuk menepis segala tuduhan dariku, yang berusaha menyudutkannya. Serta merta menggeleng semangat, ia pun menjelaskan, "Bu, saya kemari untuk memberitau informasi penting untuk Jieun. Kami saling mengenal, dan—"
"Lepaskan, ma. Hoseok itu, kekasih Jieun. Lagipula, aku yang menyuruh Hoseok kemari, agar dia dapat menasihati Jieun—karena bocah itu tak pulang semalaman." potong satu suara lain, bersama kemunculan ia yang telah menyandarkan diri pada ambang pintu, sembari bersidekap. "Aku berani menjamin, jika Jieun sendirilah yang melepaskan pakaiannya—karena berbau alkohol, juga muntahan. Gadis itu pulang dengan keadaan yang menjijikan sekali, ma."
Sialan. Kepandaian Jian dalam mengarang, rupanya tak bisa dianggap remeh. Bahkan ia dapat menyaingiku, yang sementara ini memegang gelar sebagai ratu pengarang cerita.
Menaruh tatap kearahku cukup lama, jeweran yang sebelumnya bertengger cukup manis pada daun telinga Jung Hoseok, lantas terlepas begitu saja. Menyisakan mama yang berkacak pinggang sebentar, sebelum derap langkahnya begitu cepat kala menghampiriku, yang sontak menyembunyikan diri dibalik gumulan selimut, hingga serangan gelitik dari mama cukup mampu membuatku menjerit tak karuan, "Mama, ampun. Aku tidak akan pulang pagi lagi, ma!" memohon ditengah gelak tawaku yang mengisi ruangan, tak lantas menghentikan ibu setengah baya yang sesekali turut menyelipkan tawa ditengah aktifitasnya dalam menghukumku.
Lalu, tatkala aku merasa tak lagi mendapatkan serangan, sepersekon setelahnya, lantas kutilik keadaan sekitar melalui celah tepi selimut—dan hanya menemukan raut teduh mama yang memandangku lamat, sedangkan Jian dan Hoseok—tak lagi terlihat. Serta merta membuat punggungku bangkit, aku yang turut beradu tatap dengan manik kecokelatan mama, mendadak bergurau, "Omo, lihatlah wajah mama. Kenapa ada banyak keriput? Sepertinya Jieun harus membawa mama ke klinik kecantikan. Operasi plastik, ide bagus 'kan ma? Jieun punya banyak tabungan untuk itu. Jadi, ayo jadwalkan untuk—"
"Perasaanmu, akan berbalas nak." cegat mama, dengan arah pembicaraan yang tak kuketahui. Tak pelak mengarahkan arah manikku kesudut atas guna berfikir sejenak, namun berakhir tak kutemui makna yang diselipkan oleh mama, jika beliau tak kembali mengimbuh, "Mama tau, kau menyukai calon iparmu."
"Tidak." pungkasku, tangkas. Lantas kembali mengimbuh, "Kenapa mama dan Jian, menebak seperti itu? apa karena aku yang kelewat manja, dan selalu menempel pada Seokjin oppa? jika seperti itu, mulai sekarang—aku akan menjaga jarak darinya, agar semua orang, tak salah paham padaku seperti itu."
Merengut kesal, aku yang seketika bangkit bersama gumulan selimut; lantas menapakkan tungkai telanjang diatas lantai yang dinginnya sedikit membekukanku ditengah imbuhan mama yang menitah, "Mama hanya ingin anak-anak mama bahagia, dengan pilihannya masing-masing. Tidak ada sebuah paksaan, dan tidak ada yang boleh tersakiti, antara kau dan Jian."
Mendapatkan perbincangan sedikit sensitif yang jelas kuhindari, akupun menghilang dibalik daun pintu kamar mandi. Lekas mengguyurkan air hangat, sekedar menenangkan kekacauan isi kepala—serta membawa ketenangan dari aroma shampoo yang agaknya menjadi candu untukku, sebab kami telah memiliki satu produk pencuci rambut yang sama. Ya, kami—aku, dan Seokjin oppa.
Namun, ditengah merdunya gemercik air yang jatuh menghantam lantai, ada suara lain yang memenuhi runguku. Suara menjijikan, yang entah berasal darimana. Serta merta meremangkan bulu kuduk, hingga lekas kuakhiri aktifitas membersihkan diri, yang herannya meski telah diguyur air, aroma seorang Kim Seokjin sungguh menempel erat pada setiap jengkal tubuhku bak kuman kecil yang melekat pada permukaan kulit.
"Aku ini kenapa, sih?" bergumam sembari menghentak langkah hingga menciptakan ringisan sakit tertahan, aku yang lagi-lagi merasa keheranan akibat rasa ngilu pada satu bagian paling mengkhawatirkan ditambah lelah yang teramat, seketika menumbuhkan kecemasan dariku—kalau-kalau ditengah tidur lelapku, aku telah jatuh dari ketinggian atau sebagainya. Serta merta membawa diri untuk memaku dihadapan cermin besar disisi bathtub, sembari menenteng bathrobe hitam yang mulanya hendak kukenakan, namun terjeda manakala sepasang manikku tengah memicing, berusaha mengamati.
Dan tepat. Kukira, aku yang tidur begitu lelapnya—telah terjatuh dari atas ketinggian, sampai-sampai seluruh tubuhku memiliki banyak warna merah sampai keunguan pada beberapa bagian. Pada sisi serta ceruk leher, dada teratas, lengan, perut, sampai paha terdalam pun tak luput dari bekas yang terlihat bagai luka memar; namun tak terasa sakit itu.
"Untungnya, aku masih hidup, setelah jatuh dari ketinggian." gumamku konyol, sembari mengaitkan tali bathrobe serta meraih handuk kecil; guna mengusap surai basahku. Kembali mengambil langkah dengan sedikit berhati-hati serta terseret, selepas mendebumkan daun pintu kamar mandi, lantas kulirik kearah jam dinding yang jarum jamnya menunjukkan pukul 06.00, dan itu menunjukkan jikalau aku telah memecahkan rekor dalam hidup, sebab hari ini aku telah pergi mandi begitu awal; dibanding hari biasanya. Itupun karena pagi ini, tubuhku terasa lengket dan memiliki aroma tak enak. Jika tidak, aku pasti akan melewatkan mandi pagi, sarapan, serta makan siang—sebab alam mimpi, jauh lebih menggiurkan.
Meraih pakaian seadanya dari dalam almari, aku yang begitu bermalas-malasan kala mengenakan sweater kebesaran berpadu celana dengan warna senada, turut menaikan surai setengah basahku untuk membentuk cepolan asal. Sedikit meeremat perutku, yang sekumpulan cacingnya berteriak kelaparaan, akupun memutuskan untuk segera memutar knop pintu; berniat melahap sarapan sebanyak mungkin, seolah malam tadi aku telah memutari lapangan sampai dua puluh kali putaran, sampai-sampai candangan makananku telah habis, menyisakanku yang lantas terkena kelaparan tingkat tinggi.
Namun, bukan aroma panggangan roti ataupun seduhan susu hangat yang menyeruak dalam indera penciuman manakala daun pintu telah kuayun. Melainkan presensi pemuda dengan setelan rapih, yang memaku diri dihadapan daun pintuku. Ia yang didetik pertama membawa raut wajahku menjadi begitu sumringah, namun kembali menjadikan rautku sedingin batu es—mengingat janjiku pada mama, perihal aku yang hendak menjauhi Kim Seokjin; calon iparku, yang pagi ini membawa wajah kelewat tampannya, dihadapanku.
"Ini pintu kamarku, bukan Jian. Minggir sana. Jangan menghalangi jalanku dengan wajah buruk oppa. Lagipula, kan aku sudah bilang—jangan memamerkan dahimu seperti itu, kau terlihat jelek dengan tatanan rambut keatas." bohongku, namun ia masih bergeming.
Kim Seokjin yang menghantarkan diri dengan merundukkan wajah secara terus menerus, sontak saja menciptakan beberapa terkaan dariku. Tentang ia yang tak secerah biasanya, lingkar hitam dibawah matanya, serta keringat yang meneleser pada pelipis pemuda yang selanjutnya mengejutkanku melalui tatap bersalah.
Meneguk ludah sekilas, Seokjin oppa yang lantas mengambil satu langkah mendekat dengan ragu—sontak saja membuatku termangu atas suara lirihnya yang berkata, "Aku bersalah, karena telah merencanakannya. Aku sungguh seorang bajingan yang begitu menginginkan dirimu, sampai bertindak diluar kendali—ditengah kesadaranmu yang menghilang oleh penenang. Maaf—Jieunnie. Aku benar-benar pantas dihukum, untuk itu."
Arah pembicaraan calon iparku ini kemana, sih? apa sebenarnya, yang tengah ia bicarakan? []
***
KAMU SEDANG MEMBACA
STIGMA [ON GOING]
General Fiction[M] Setidaknya, aku membutuhkan beberapa menit dalam sehari; untuk bersiteru dengan pria yang kata Lee Jian, akan segera menjadi iparku. Ia si jenaka Kim Seokjin. Pria yang kerap menunjukan sisi hangatnya, hingga membuat ku sesekali merasa iri, lant...
![STIGMA [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/140797466-64-k328007.jpg)