INGIN tau pasangan paling tepat menurut Eomma? adalah, aku dan Kim Seokjin oppa. Konyol memang, mengingat bagaimana eomma acapkali menggoda perihal posesifnya seorang Kim Seokjin terhadapku. Bahkan beliau kerap melupakan fakta, jika pria jangkung berparas menakjubkan itu merupakan calon pengantin dari Lee Jian; seorang gadis kantoran yang super sibuk, dengan usia dua tahun diatasku. Moto hidup Jian hanya satu, 'melakukan segala hal, sesempurna mungkin'. Jadi tak heran jika ia memiliki kekasih yang nyaris sempurna, layaknya sebuah manekin berbahan porselin dengan otak diatas rata rata. Sayangnya calon iparku itu kerap kali di abaikan oleh Jian, sebab gadis itu lebih menomorsatukan urusan pekerjaan di banding kekasihnya.
Pun jangan salahkan tingkahku yang nyaris menghabiskan waktu selama dua puluh empat jam hanya untuk menggangu iparku. Ayolah, anggap saja semua tingkah yang ku tunjukan, merupakan suatu bentuk penghiburan. Setidaknya hidup pria itu takkan monoton, seperti kehidupan Lee Jian.
Seperti kali ini, di mana ujung jari kaki ku telah menempel di depan daun pintu ruang kerja Seokjin oppa. Sedikit mengatur skenario singkat, sebelum tungkai terseret yang ku ambil lantas membawa wajah ku untuk menghadap manekin si pemilik bibir ranum yang menggoda itu.
"Seokjin oppa, aku lapar!" Teriaku menggelegar, selepas gebrakan pintu dariku lantas menciptakan lonjakan kaget dari pria yang terlihat tengah mengusap dadanya secara berulang; guna meredam degub jantungnya. Sejurus mengamati presensiku, bingkai kacamata yang ia lepaskan, nyatanya mampu membuatku termangu setelah mengamati pahatan luar biasa pada wajah si tampan yang kini mulai mengambil langkah untuk mendekatiku yang hanya menatapnya angkuh, seraya bersidekap.
"Jika lapar, pergilah untuk mendapatkan makanan yang kau inginkan adik ipar. Bukan malah membuat kebisingan di kantorku." tuturnya lembut, yang hanya ku tanggapi desisan singkat, sebelum dua tanganku lantas terangkat untuk menggapai kerah kemeja Seokjin oppa. Memainkan ujung kerah dengan bergelayut manja seraya berujar, "Bukankah oppa faham, jika aku ini tipikal manusia yang tak suka sendirian? Jadi kau harus menemaniku untuk makan siang."
Pun nafas pria di hadapanku, lantas terbuang perlahan bersama sudut netra yang turut mengamati jemari lentik seorang gadis ingusan yang mati-matian tengah menciptakan pergerakan seduktif, namun berakhir gagal, "Tapi aku tak bisa pergi bersamamu, adik ipar. Itu, karena dalam satu jam kakakmu akan datang kemari." jujurnya, lantas membuatku mengatur jarak normal. Sedikit memasang raut tak suka, sebelum berdumal, "Baiklah, aku juga bisa pergi sendiri. Oh, atau aku menghubungi salah satu oppa yang seringkali menggodaku ketika di bar?"
Lekas ku rotasikan tungkaiku, dengan begitu ringan. Mengambil langkah panjang dengan sedikit bersenandung, hingga sebuah tarikan cukup kuat pada lengan atas yang di ciptakan oleh Seokjin oppa berhasil membuat tawa tipisku tak lagi tertahankan.
Garis cekung pada bibirku kian kentara, selepas deretan kalimat Seokjin oppa terselesaikan, bersama helaan nafas panjang yang tak sedikitpun membuatku merasa tak enak hati. "Baiklah. Aku akan menemanimu, dan kembali setelah satu jam. Jadi, jangan hubungi para pria hidung belang yang memiliki otak sekotor sampah itu." sarkas Seokjin oppa, bersama raut tak suka.
Pun tanpa sempat pria itu prediksikan, pergerakanku lekas mengapit satu sisi lengan iparku yang kekehannya turut mengudara setelah mendapati raut ceriaku dengan sederet kalimat ceriwis yang begitu menggebu. "Setelah kuamati lagi, Seokjin oppa itu semakin kurus. Itu sebabnya aku terus merecokimu untuk makan bersamaku, agar bisa memastikan kau akan makan dengan baik. Lagipula apa enaknya berkencan dengan tumpukan berkas di mejamu itu eoh? Hiduplah dengan santai oppa. Seperti mabuklah jika kau tengah di pusingkan dengan masalah, mengumpatlah agar dapat melegakan hatimu, atau bercintalah jika kau butuh. Dan..." bibirku terkatup; tak berniat melanjutkan kalimatku karena rasanya ada suatu hal yang sedikit janggal, tatkala Seokjin oppa malah menatapku lamat dengan irisnya yang terus menerus mengerjap. Memaksaku untuk memaku tungkai, agar kinerja otakku sedikit berfikir lebih normal.
"Bercinta jika aku butuh? Bahkan bagiku, makna bercinta itu lebih dari sekedar mendapatkan klimaks. Kau harus melakukan itu hanya dengan seorang yang kau sukai, dan tak menjadikan seks sebagai bentuk pelarian atas masalahmu. Terlebih jika kau melakukannya, dibawah pengaruh alkohol. Menurutku hanya orang brengsek dengan otak tumpul yang akan melakukan itu." pungkas Seokjin oppa. Sederet kalimat yang mampu membungkam mulutku secara telak. Seakan menghapus harapanku mengenai kemungkinan-kemungkinan yang sempat memenuhi benakku sejak pagi tadi. Itu perihal kemungkinan jika malam tadi kami sempat bercinta.
Jelas otak jenius iparku itu akan berfikir rasional. Segala sikap yang ia tunjukan tentu saja di dasarkan pada pemikiran logisnya yang begitu matang. Ia takkan gegabah. Aku tau.
"Augh. Oppa sungguh tipikal manusia yang tak pernah menikmati hidup. Jangan bilang, kau juga tak pernah bercinta dengan Jian?" cecarku asal, yang hanya dijawabi anggukan kecil dari pria yang mulai mengatur jaraknya. Tungkainya meringsak mundur, berusaha mendapatkan sandaran pada sisi dinding koridor yang nampak sedikit sepi seraya menyimpan kedua tangannya dalam saku sebelum bersua, "Tapi semalam aku mendapatkan kenikmatan hidup, yang tak terlupakan Jieun-ah."
Kedua alisku menyatu, sedikit mencerna kalimat ambigu Seokjin oppa dengan lamban sebab benak serta hatiku terasa tak lagi selaras. Kuluman bibir bawah pria yang berjarak satu langkah dihadapanku itu nyatanya mampu melumpuhkan seluruh saraf otak, hingga membuat kelopak manikku mengerjab secara berulang, sebelum suara bariton Seokjin oppa kembali menginterupsi. "Dan kau lah yang berhasil membuatku, menjadi seorang brengsek yang berotak tumpul."
Irisku membola. Pun bukan disebabkan lontaran kalimat yang sejujurnya masih belum kupahami. Ini mengenai Seokjin oppa yang mengambil langkah maju, bersama satu tangan yang terangkat untuk meraih kerah kemeja; sebelum dua jemarinya lekas menyentak dua kancing teratas, untuk memudahkan irisnya menilik hal pribadi yang tak sepantasnya ia tamati, "Apa itu berbekas? Mianhae."
Tubuhku nyaris limbung, setelah mendapat sentuhan seduktif Seokjin oppa; tepat di beberapa bekas cumbuan yang kurasa warnanya telah menjadi lebih pekat dibandingkan pagi tadi saat terakhir kali aku melihatnya. Tanpa berniat menyingkirkan sentuhan pria yang berhasil membuat romaku meremang, bibir bergetarku terbuka. Sedikit melontarkan kalimat terbata, dengan iris resah sebab kali ini otakku sungguh tak dapat bekerja dengan baik, "Memangnya apa yang kita lakukan, malam tadi?" lolosku pada akhirnya, meski satu pertanyaan itu muncul setelah lama ditimang dengan kumpulan keberanian diri. Seokjin oppa mengulas senyum tipis. sedikit membenahi suraiku begitu perlahan, sebelum mengujar;
"Jika kau penasaran, aku bisa saja mengulang kejadian semalam; guna membantu ingatanmu kembali, adik ipar." []
***
KAMU SEDANG MEMBACA
STIGMA [ON GOING]
Fiksi Umum[M] Setidaknya, aku membutuhkan beberapa menit dalam sehari; untuk bersiteru dengan pria yang kata Lee Jian, akan segera menjadi iparku. Ia si jenaka Kim Seokjin. Pria yang kerap menunjukan sisi hangatnya, hingga membuat ku sesekali merasa iri, lant...
![STIGMA [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/140797466-64-k328007.jpg)