lembar lima

3.7K 522 40
                                        

Dibawah silau terik matahari siang ini, telah kutemui sosok baru, yang sedari tadi senyum simpulnya belum juga terurai. Ia, tipikal pria dewasa yang terus memberikan tatap hangat, seraya mematri dimple menawan.

Tatkala kuterima uluran tangan darinya. Bersamaan dengan itu; ada gelenyar aneh yang perlahan merambat. Pun hal kecil semacam itu; begitu mampu mengalihkan atensi seorang gadis yang bergeming, kala ia berbicara, "Jika nona enggan menerima jabatan tangan dari pria asing sepertiku, itu tak masalah." suara beratnya yang mengalun canggung, lantas kutanggapi dengan pergerakan terburu—lekas meraih uluran tangan dari si pria asing, yang malah membalas dengan tawa kentara.

Mendapati ia yang begitu terang-terangan memperhatikanku kala menegakkan tubuh ataupun kedua telapak tangan yang kusatukan guna membuang noda debu atas tragedi tersungkurnya seorang gadis teledor—agaknya sedikit membuatku besar kepala, seraya menganggap jika ia mungkin saja menaruh ketertarikan dipertemuan pertama.

"Harusnya aku yang minta maaf. Akulah yang menabrakmu—" menggaruk tengkuk, seraya menampilkan raut tak enak hati; pun pria lain yang sedari tadi memerhatikan detail adegan bak tayangan telenovela, lantas menarik lenganku tanpa segan. Begitu sengaja untuk menempelkan sisi tubuhku, agar lebih merapat pada dadanya; sebelum menegaskan pada sang sumber atensiku, "Hanya ketidaksengajaan. Maaf,"

Menciptakan tatapku yang mendadak teralih, hingga mendapati Seokjin oppa yang mulai menampilkan raut tak suka, pun ia kembali mengulang, "Maaf atas keteledoran kekasihku ini, bung." membuat sepasang alisku tertaut, hingga nyaris memungkas akan klaim 'kekasih' dengan segera— namun hal tersebut kembali disela oleh Seokjin oppa yang kembali berbicara seenak jidat, seraya mengeratkan cengkraman pada sisi lenganku; kala ia mencecar, "Aku tak suka caramu menatap gadisku."

Begitu berterus terang, hingga menciptakan situasi tegang—satu pria lain, terlihat melenggang santai; dari dalam kedai coffee. Terus menerus menaruh tatap, sebelum akhirnya ia menginterupsi,"Apa ada masalah?"

Sesampainya pria asing lain; memaku diri dihadapanku seraya menurunkan bingkai kacamatanya, pun pria bersurai legam dengan tatap dingin yang sekilas mengamatiku, kembali mengintrogasi sang sumber atensiku.

"Kau mengenalnya. hyung?" masih belum mendapatkan tanggapan apapun, pria yang kembali menenggerkan kacamatanya sebelum berlalu—lantas menghentikan tungkai, dilangkah kedua. Terlihat memiringkan kepala seraya berdecak; kala ia dapati pria yang baru saja dihampiri—tak lantas mengikuti langkahnya—hingga mau tak mau, kembali ia interupsi, "Namjoon hyung? Kau tak berniat untuk menjadi orang bodoh yang akan terus berdiri disitu, bukan? jangan sia-siakan coffe yang baru saja kubayar dengan uangku ini!" seraya menembak tatap tak suka kearahku, pria yang surainya sedikit dilambaikan oleh angin; mendadak mendecakkan lidah, serta iris yang ia rotasikan dengan sengaja.

Merasa tak dihargai, turut kulempar sorot tajam kearah pria yang menanggapi, "Whoa, apa kau baru saja memelototiku, nona ceroboh?"

Menciptakan tarikan masam pada satu sudut bibirku sekilas, pun lekas kuabaikan dua pria yang tadi sempat terjebak disituasi aneh—sebab atensiku telah tertarik oleh pria bersurai legam yang kembali menurunkan bingkai kacamata hitam, hingga suara lain menyela, "Kau duluan saja, Hoesok-ah." mengabaikan suara tersebut, pria yang malah melirikku sekilas melalui sudut matanya—kembali mengejek, akan seringai yang kelewat kentara.

"Apa kau memiliki masalah denganku, tuan asing?" berseru penuh percaya diri seraya berkacak pinggang, lantas kembali kucecar pria yang hanya menanggapi dengan dua sudut bibir yang tertarik turun; seakan mengejek, "Begini, tuan asing yang kawannya baru saja ku tabrak—akan kembali kuperjelas, jika aku hanya menabrak kawanmu, bukan kau. Jadi, jangan memberikan tatap jijik terhadapku, dan apa katamu barusan? nona ceroboh? Memangnya kau tau apa huh?"

Mendapat respon cukup lama dari pria yang sempat menghendikkan bahu sekilas, lantas ia sodorkan dua cup coffee yang sedari tadi memang menyibukkan dua tangannya. Hingga cup tersebut telah beralih pada dua tanganku yang memang refleks meraihnya, lekas ia keluarkan satu sapu tangan dari dalam saku jacket—untuk diusapkan pada sudut bibirku; secara perlahan. Menciptakan jarak cukup dekat, hingga nafas hangat pria menjengkelkan itu terasa kentara kala menerpa permukaan wajahku dalam sepersekian detik, kembali amarahku diuji olehnya yang berbisik, "Jangan pamer, jika kau baru saja berciuman dengan kekasihmu itu. Apa kau ingin memberitahu seisi dunia melalui lipstick mu yang berantakan hingga mencapai pipi ini? Dasar gadis ceroboh," termangu atas pernyataan pria yang kembali membenarkan bingkai kacamata sebelum diambilnya dua cup coffee yang berhasil mengunci tubuhku; sebab satu pukulan tak langsung melayang pada wajah menyebalkan pria yang punggungnya telah berotasi.

Hingga dilangkah kesekiannya, lantas kucengkram surai legamnya dengan sepuluh jemariku. Begitu menggebu kala menarik paksa surai pria yang memekik jengkel, hingga nyaris menyiramkan coffee panas yang ada digenggaman; jikalau Seokjin oppa tak melerai dengan cekatan.

"Biarkan aku membunuh pria ini, oppa! Berani-beraninya dia merendahkanku seperti ini." masih dengan amarah yang berada dipuncak, Seokjin oppa yang mulai menyeret dengan lengannya yang melingkar apik pada sisi pinggang serta dada atasku; lantas menciptakan semburat malu yang mendadak menguasai. Pasalnya, pria itu tak sengaja menyentuh ranah pribadi, yang berhasil membekukanku didetik yang sama.

"Berhenti bertindak seperti anak kecil, Jieun-ah." bergumam mengingatkan, lekas kutanggapi anggukan kecil—sebelum satu suara menyela, "Eoh? Kalian, disini?"

Mendapati suara yang begitu familiar, lekas kudorong tubuh pria yang mulai tenggelam akan dekapan yang ia ciptakan. Menyisakanku yang tertawa canggung—seolah aku merupakan pencuri yang telah tertangkap basah, tatkala kudapati presensi gadis yang kusapa;

"Eoh? Jian eonnie? Kau disini?" []


***

STIGMA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang