Malam itu, udara Seoul terasa dingin. Begitu dingin hingga menusuk tulang. Namun tetap tidak berhasil membuat wanita cantik itu beranjak dari posisinya yang sedang berdiri menumpukan kedua tangan di besi pembatas balkon. Dia memejamkan mata, merasakan suhu dingin yang seolah memeluk tubuh indahnya, merasakan angin sepoi yang membelai wajah cantiknya.
Gaun tidur tipis membalut tubuh wanita itu, rambut hitamnya tergerai indah, membuat pria yang sedari tadi berjarak beberapa meter di belakangnya mengukir senyuman manis.
Pria itu melangkah mendekat, lalu setelahnya, tanpa aba-aba, ia memeluk wanita itu dari belakang. "Apa yang kau lakukan disini, Irene?"
Deja Vu. Irene merasa tidak asing dengan situasi yang ia rasakan sekarang.
Bae Irene membuka kedua mata yang semula terpejam, tangan kanannya terangkat mengelus lengan pria itu yang melingkar di perut ramping Irene. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?" Jeda, Irene tersenyum tipis. "Apa yang kau lakukan disini, Chanyeol? Jelas-jelas kau sedang tertidur pulas tadi."
"Aku merindukanmu."
"Apa?" Irene menoleh ke kanan, membuat pipinya bersentuhan dengan hidung mancung Park Chanyeol. "Kau bilang apa?"
"Aku merindukanmu, bodoh!"
"Kau yang bodoh," balas Irene sengit. "Kita ini tinggal bersama, kau itu - "
"Memang ada aturan jika yang tinggal bersama tidak boleh merindukan pasangannya? Tidak ada, 'kan?" Cibir Chanyeol kesal, pria itu benar-benar heran dengan sifat kaku dan tidak peka yang ada dalam diri Irene. "Lagipula akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Kita jarang bertemu walaupun tinggal bersama. Joon bahkan lebih sering bertemu denganmu daripada aku. Jadi wajar jika aku merindukanmu."
"Terserah kau saja, Tuan Park," balas Irene datar, malas memperpanjang perdebatan yang Chanyeol ciptakan.
"Aku merindukanmu."
"Hm."
Chanyeol berdecak. "Aku bilang aku merindukanmu, Irene."
"I know."
"Aku merindukanmuuuu." Chanyeol berujar dengan nada merengek.
Bae Irene mengulum senyum. Tangan kanannya terangkat, membelai pipi Chanyeol yang sedang menumpukan dagunya di bahu Irene. "I miss you too," ujar Irene lembut.
Detik berikutnya, Irene merasakan Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya, juga merasakan hidung Chanyeol yang menyentuh ceruk lehernya. Udara Seoul memang terasa sangat dingin, namun napas hangat Chanyeol yang menerpa kulit Irene seolah membuat wanita itu tak merasakan apapun selain kehangatan.
Dari dulu, momen seperti ini yang selalu Irene damba. Momen ketika Park Chanyeol memeluknya, ketika Chanyeol mengatakan jika pria itu merindukannya, juga ketika mereka berdebat hanya karena masalah sepele.
Kini semuanya telah menjadi kenyataan. Semuanya tak lagi menjadi imajinasi dan angan-angan Bae Irene semata.
"Aku tau malam ini terasa sempurna untukmu, Irene." Park Chanyeol kembali bersuara setelah beberapa menit mencipta keheningan antara ia dan Bae Irene.
Irene hanya diam, ia tau jika Chanyeol belum menyelesaikan ucapannya.
Park Chanyeol melepas pelukannya, lalu membalik tubuh Bae Irene hingga keduanya berhadapan. Pria itu meremas lembut bahu Irene, sebelum menumpukan kedua tangannya di besi pembatas, berjaga-jaga agar Irene tidak melarikan diri.
"Malam ini memang sempurna untukmu," jeda, ia menatap Irene dengan sorot lembut. "Namun tidak untukku."
"..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Venire [COMPLETED]
Fanfiction[Some part are private, follow me first to read private part] "Semua ini belum berakhir. Aku, Park Chanyeol, tidak akan pernah membiarkan semua ini berakhir!" ucap Chanyeol dengan kedua mata berkilat marah. Wanita itu tersenyum dingin. "Terlambat,"...
![Venire [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/126979222-64-k605795.jpg)