BAB 19 [ SATU PETUNJUK ]

285 16 2
                                        

Sekelompok orang berpakaian serupa memasuki bar dengan serentak. Beberapa diantara mereka mengenakan masker, tangan yang dihiasi tato dengan gambar yang bervariasi, dan yang paling mengejutkan Tora adalah, keberadaan seorang bocah berseragam SMA yang sama dengan identitas sekolahnya. Sayangnya, ia tak berniat untuk memasuki bar dan hanya berdiri di depan pintu.

Melihat rombongan pembeli yang datang entah dari mana, Galuh mengisyaratkan Tora untuk melayani mereka. Akan tetapi, gerakkan matanya yang seolah menolak rupanya mengejutkan Galuh.

"Kenapa?" desak Galuh.

"Gue menghindari kelompok-kelompok mencurigakan seperti mereka."

Mendengar penuturan Tora, Galuh mulai paham. Ia pun menghampiri meja tempat berkumpulnya rombongan tersebut, dan memberikan pelayanan terbaik. Begitu selesai, Galuh segera kembali ke meja resepsionis, dan bebarengan dengan rombongan masa tersebut yang ikut bubar.

"Tor, mereka pesen 3 dus anggur dan minta antar ke alamat mereka. Gue kira bakal makan di tempat, ternyata rame-rame ke sini cuma mau pesen doang. Gue rasa, untuk yang satu ini, lo aja yang bergerak. Siapa tahu ada petunjuk untuk kasus lo?"

Tora mulai berpikir. Ucapan Galuh ada benarnya juga. Mungkin dengan keluarnya dirinya dari persembunyian, ia memiliki satu bukti lain untuk bisa ia tunjukkan ke hadapan teman-temannya. Semoga.

***

Semenjak kepergian Tora, eksistensi Geng's Devils tak lagi terasa. Kabar bubarnya Geng's Devils pun tersiar dimana-mana. Semua kegiatan yang berada di bawah kendali Geng's Devils, baik di dalam maupun luar sekolah, lumpuh total. Satu per satu dari personel Geng's Devils mulai bergerak individu. Dan yang pasti, sekolah seakan hampa tanpa keberadaan Geng's Devils.

Begitu pula dengan Julio. Ia masih belum bisa memaafkan keputusan teman-temannya yang dengan mudahnya meyakini bahwa Toralah biang dari semua masalah ini. Ia menyesal tak hadir malam itu. Membuat kepercayan yang semula tumbuh di antara para anggota, luntur. Dan perihal pencarian kedua sahabatnya, Tora dan Fahmi, ia yakin, tanpa bantuan orang dalam pun ia bisa menemukan mereka.

Untuk memudahkan, ia telah bekerja sama dengan Kayla untuk membantunya mengusut satu per satu masalah yang ada. Kayla mencari keberadaan Tora, dan dirinya melacak posisi Fahmi. Karena urusan ini, menjadikan mereka berdua sering terlihat bersama. Sehingga tak salah bila banyak rumor yang beredar terkait kedekatan mereka.

Setiap jam pulang sekolah, Kayla selalu menunggu kedatangan Julio di kantin belakang sekolah. Seperti hari ini, di mana ia mulai resah dengan ulah beberapa adik kelas "nakal" yang semakin merebak. Jika dahulu, di saat Geng's Devils masih memegang kuasa atas sekolah ini, golongan semacam mereka tak berani untuk muncul dan macam-macam. Dan baru sehari kabar bubarnya Geng's Devils meluas, mereka mulai menunjukkan identitas mereka yang selama ini disembunyikan.

"Mbak, sendirian aja." Salah satunya yang mengapit sebatang rokok di kedua jarinya mencoba mendekati Kayla.

Setelah berkali-kali digoda, mau tak mau Kayla menelpon Julio, berharap ia segera datang. Entah di mana bocah itu, sampai panggilan ke lima pun, ia tak mengangkat.

Laki-laki dengan sebatang rokok itu kini duduk di bangku yang sama dengan Kayla, dan bau mulut yang khas seorang perokok membuat Kayla semakin tak nyaman. Ia mencoba memeluk pundak Kayla, namun dengan cepat Kayla tepis.

"Nggak usah macem-macem ya sama kakel," ancam Kayla.

"Jadi, kalau bukan sama kakak kelas, kita boleh macem-macem, gitu?" Laki-laki itu tersenyum jahat, seakan ancaman Kayla tidak ada apa-apanya.

Kayla semakin bingung. Ketika laki-laki itu mulai mendekatkan wajahnya dengan tubuhnya, Kayla mulai panik. Ia segera bangkit untuk berlari, namun sialnya ia justru menabrak seorang pejalan kaki.

"Jangan cuma berani kalau kita nggak ada ya!" teriakan keras yang terdengar sangat jelas itu membuat tubuh Kayla gemetar. Ia pikir satpam sekolah. Setelah mendongak, barulah  ia sadar bahwa dia Julian.

Setelah memastikan Kayla aman di pelukannya, Julian menghampiri sekelompok laki-laki yang hampir semuanya tengah merokok tersebut. Apalagi yang sejak tadi mengganggu Kayla pun tak bisa dibiarkan.

"Tangan gue kayaknya gatel deh. Udah lama nggak nonjok orang."

Mendengar kalimat tersebut, laki-laki genit itu membelalak. Ia terus meminta ampun, ketika kedua tangan Julian berhasil mencengkeram kedua kerah seragamnya.

"Lo pikir jadi bandel gampang? Susah. Kalau gue dikasih satu kesempatan lagi, gue mau kumpul sama semua temen-temen gue, dan berhenti untuk jadi nakal. Nggak usah bangga!"

Di tengah-tengah ucapan tersebut, ada satu hal yang menenangkan Kayla. Di saat pentolan sekolah yang terkenal akan predikat buruknya mulai berbicara tentang kenakalan, ternyata masih ada keinginannya untuk memperbaiki keadaan. Dan kata-kata itu Julian utarakan, dengan wajah yang tulus dari hati.

Selesai melepas cengkramannya, gerombolan siswa itu terbirit-birit menjauhi Julian. Ia pun kembali pada Kayla, dan segera membawanya meninggalkan sekolah secepat mungkin. Berharap hari tak kunjung senja dan memberinya kesempatan untuk mencari keberadaan dua temannya.

"Gue pastikan kejadian tadi nggak akan terulang selama lo ada sama gue."

***

"Jalan Merak Nomor 21."

Tora terus mengeja alamat rumah yang tertulis pada kertas di genggamannya dengan papan kayu yang terpasang di sebuah rumah. Rumah itu terlihat senyap, apalagi lokasinya berada di tengah sawah.

"Masa iya petani yang beli ini anggur?"

Untuk memastikan, Tora berkali-kali mengucapkan salam, namun sampai lima menit ia berdiri di depan rumah tersebut, tak ada yang segera membuka pintu. Karena putus asa, akhirnya ia pergi dari sana dengan terus menggerutu.

"Eh Mas, orderan bir ya?"

Mendengar suara tersebut, Tora pun berbalik. Karena terburu-buru, dengan asal ia meletakkan pesanan anggur tersebut di depan pintu.

"Eh mas, sebentar."

Tora menegang. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang membahayakan keberadaannya.

"Sesuai peraturan di rumah ini, siapapun yang berkunjung harus ngisi daftar tamu Mas."

Benar. Rumah ini bukan rumah biasa. Lagi pula, jika rumah ini hanya milik orang biasa, tak mungkin pengawasan sampai seketat itu.

"Mas, jangan melanggar. Nanti ada sanksi kalau nggak di tepatin," meski berulang kali diperingatkan, Tora tetap tak acuh. Ia terus melanjutkan langkahnya dan meninggalkan rumah tersebut.

Melihat reaksi Tora, pria paruh baya itu pun murka. Ia terus mencegah langkah Tora, namun dengan sekali sikut, terkaparlah pria tersebut.

Merasa curiga, Tora pun memberanikan diri untuk memasuki rumah tersebut. Apalagi suara seseorang  mengerang semakin membuatnya penasaran.

***

DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang