Dua minggu yang lalu
"Gini, Lo masih demen bikin cipta puisi?"
"Cipta puisi apaan?"
"Ya itu, kayak novel-novel roman begitu," Tora tau, Fahmi tak begitu mengerti dunia sastra seperti ini, yang baginya hanya milik orang-orang penuh kesedihan.
"Gue mau coba dulu."
Seluruh teman telah kembali ke rumah masing-masing. Menyisakan dirinya bersama Fahmi, dan beberapa kawan Devil's yang menunggu di warung depan sekolah.
Fahmi lebih senang menghabiskan hari-harinya bersama kawan-kawan. Ia memang tak terlalu pandai dalam akademis, namun bila berurusan dengan olahraga, seni, dan teman, itu adalah surganya.
"Tor, ngomong-ngomong, Lo mau kemana setelah SMA?"
Tora menghela napas panjang. Dialog ini akhirnya bisa tercipta di antara mereka.
"Emangnya kenapa? Lo mau pisah dari gue setelah 12 tahun bareng terus?"
Fahmi tertawa. Ya, tawa itu terlihat menenangkan, terlebih gingsul di sudut giginya semakin menambah daya tarik.
"Gue mau di sini aja. Ga kemana-mana. Sama kalian."
Bersamaan angin yang bergerak ke arahnya, Tora merasa ucapan Fahmi tak biasa. Berbeda dari sekedar seorang Fahmi yang senang bermain dan bercanda.
"Kata orang, setelah manusia meninggal, mereka akan dikenang sebagai bintang. Itulah kenapa, kita nggak bisa menyaingi matahari yang selalu ada sepanjang zaman.
Gue berharap bisa jadi sirius selama hidup. Jadi yang paling terang dan berguna buat orang lain. Dan ketika nantinya gue mengalami supernova, gue tau nggak akan bisa jadi seterang sirius. Tapi seenggaknya, gue pernah jadi objek yang selalu dinanti seseorang."
Tora paham kalimat itu muncul dari lubuk hatinya. Tulus dari sosok lain dalam diri Fahmi yang dikenalnya selama ini.
"Lo mau pamit apa gimana sih? Nggak lucu banget omongan lo."
"Gue nggak lagi halu, kok. Setelah Ibu pergi, gue selalu berdoa supaya gue dikasih orang-orang baik. Dan, gue berhasil menemukan kalian. Sepertinya, setelah semua impian ini terwujud, nggak ada hal lain yang bisa dilakukan selain berbakti sampai akhir."
Langit semakin mendung. Menyajikan pemandangan sekolahnya yang lekat dengan kenangannya. Tora juga bersyukur berhasil ditemukan dengan teman-teman Devil's.
"Tapi impian gue belum sepenuhnya terwujud. "
"Lo harus kejar itu, Tor."
"Tapi gue nggak bisa sendirian. Gue butuh Lo juga, jadi jangan pergi kemana-mana dulu."
🍃
Entah itu akan menjadi percakapan terakhir atau tidak, Tora menyesal menganggap enteng pembicaraan itu.
Ketika mobil ambulan masuk ke kompleks perumahan Fahmi, tangis semakin memuncak. Semua langsung menempatkan posisi untuk bersiap membawa jenazah Fahmi ke dalam rumah.
Tora mengambil barisan terdepan. Ia akan berbakti kepada temannya itu, seperti yang selalu Fahmi katakan
setelah semua impian ini terwujud, nggak ada hal lain yang bisa dilakukan selain berbakti sampai akhir
Setelah Fahmi berhasil membantu mewujudkan impiannya bertemu dengan keluarganya, Tora akan berbakti padanya untuk yang terakhir kali.
✨✨
✨
"Ada perlu apa Papa manggil Ristya?"
Di ruangan ayahnya kini, Ristya berubah bagai anjing bagi majikannya. Menjadi anak semata wayang seorang pemilik saham perusahaan ternama membuat Ristya harus terus mengabulkan permintaan sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diam
Teen Fiction"Saat kau merasa tersakiti oleh seseorang, menangislah, tak apa. Karena mungkin, itu salah satu caramu untuk menghadapi seseorang yang pernah menggores luka di hatimu. Setelah kau merasa lelah, menangislah, tak apa. Mungkin, itu salah satu cara jitu...
