Part 24

61 4 1
                                    

6 bulan berlalu setelah Rayhan pergi tanpa pamit dan selama 6 bulan ini dia tidak ada kabar.

Mungkin jika tidak ada Alvaro, Aghata akan bersedih karena rindu yang tak terobati.

Berkat Alvaro juga, Aghata menjadi ceria kembali. Alvaro sudah berhasil mengambil sebagian hati Aghata untuk Rayhan dalam jangka waktu beberapa bulan saja. Ah, tidak mereka sudah bersama sejak kecil hanya saja mereka harus berpisah selama beberapa tahun hingga takdir mempertemukan mereka lagi.

"Ta! Lo tau gak?" tanya Metha

"Enggak."

"Ish ... dengerin dulu! Jadi selama ini kak Ray itu pindah sekolah dan tidak ada yang tahu dia pindah kemana."

Aghata terdiam. Hatinya terasa sakit. Bagaimana mungkin Rayhan tidak memberi tahu Aghata tentang hal ini. Mengapa berita ini harus tahu dari orang lain?

Aghata merasa bahwa selama ini dirinya tidak dianggap oleh Rayhan. Segitu teganya Rayhan melakukan hal itu? Apa salah Aghata? Mungkinkah Rayhan marah karena selama ini Aghata selalu menghindarinya?

Begitu banyak pertanyaan yang ada di benak Aghata. Ingin sekali rasanya ia menanyakan hal ini.

"Ta? Lo gak pa-pa?" Metha dapat melihat perubahan pada raut wajah Aghata.

"Gue benci Rayhan! Gue benci!"

Metha tahu bagaimana perasaan Aghata saat ini. Ketika seseorang yang kita sayangi dan selalu memberikan perhatian lebih seakan kita adalah prioritasnya, pergi tanpa pamit, tanpa kabar bagaikan ditelan bumi dan mengetahui akan sesuatu dari orang lain. Rasanya begitu menyakitkan.

Melihat Aghata yang seperti itu membuat Metha merasa kasihan. Metha tak habis pikir dengan Ray. Mengapa dia melakukan semua itu?

"Mungkin kak Ray ada alasan mengapa dia melakukan semua itu." Metha Mencoba menenangkan sahabatnya.

"Tapi seenggaknya kak Ray pamit sama gue dan kasih kabar walau cuma satu kali aja." air matanya turun begitu deras. "Gue tau gue bukan siapa-siapa nya kak Ray. Mungkin kak Ray nganggap gue gak penting buat dia."

Aghata terdiam begitu ada tangan yang mengusap air mata Aghata, sehingga tangisan Aghata terhenti lalu mendongakkan kepalanya.

Deg...

Jantung Aghata berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia merasa malu karena dia menangis di hadapan Alvaro. Aghata takut jika Alvaro menganggapnya gadis lemah. Gadis yang gampang nangis gara-gara seorang pria.

Tapi mengapa kehadirannya mampu menyembuhkan luka?

Metha meninggalkan Alvaro dan Aghata berdua. Metha pikir Aghata akan lebih tenang jika ada di samping Alvaro.

Alvaro duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Metha. "Kenapa nangis?" Alvaro mengusap pipi Aghata dengan lembut.

Aghata menggeleng pelan. "Gak pa-pa kok." Aghata memaksakan seulas senyuman, senyuman yang dipenuhi oleh luka.

Alvaro menghela napas. "Jawabannya cewek banget sih. Lo kenapa? Kalo ada masalah bilang sama gue." Alvaro tersenyum begitu tulus kepada Aghata.

"Kak Ray." pelan Aghata hampir tidak terdengar dengan suara serak khas orang habis nangis.

"Allesa, dengerin gue baik-baik. Lo berhak buat bahagia. Please lo jangan pernah nangis karena cowok yang belum tentu baik buat lo. Tinggalin cowok yang buat lo bersedih karena itu artinya dia bukan cowok yang baik! Lo tunjukin sama dia kalo lo bahagia tanpa dia." Alvaro tersenyum. "Asal lo tau ya, lo itu jelek kalo lagi nangis. So... Jangan nangis lagi. Lo hanya boleh menangis karena bahagia bukan karena luka." Alvaro mengacak pelan rambut Aghata.

"Lo liat ke belakang, ada yang berjuang untuk mendapatkan lo, tapi lo gak sadar bahwa selama ini orang itu selalu ada di samping lo dan gak pernah lo hargai." ucap Andre sambil berjalan menghampiri Aghata dan Alvaro.

Aghata mengerutkan dahinya. Aghata benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Andre. Aghata juga penasaran, siapa orang yang dimaksud oleh Andre. Alvaro kah? Ah itu tidak mungkin.

Andre tersenyum begitu tulus kepada Aghata lalu melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

Andre pergi menuju kelas Bella. Akhir-akhir ini mereka memang dekat bahkan bisa dibilang teman serasa pacaran.

Bella yang melihat Andre sudah ada di depan pintu kelasnya langsung menghampiri Andre.

Mereka berjalan beriringan menuju taman sekolah.

"Gue boleh bilang sesuatu sama lo?" ucap Andre sambil duduk di bangku taman.

"Boleh kok boleh." Bella terlihat sangat girang.

"Gue benci Aghata." Andre mengepalkan tangannya.

Bella mengerutkan dahinya. "Bukannya lo suka, ya sama Aghata?"

"Iya. Tapi itu dulu. Dia gak pernah hargain gue. Dia gak pernah peka, kalo gue suka sama dia, bahkan apa yang gue lakuin selama ini tidak ada harganya di mata Aghata. Gue sakit hati ketika dia hanya memikirkan Rayhan, padahal gue yang ada di sampingnya."

Bella mengusap punggung Andre. Wajahnya menunjukkan kesedihan, sementara hatinya berteriak bahagia, karena Andre bisa jadi miliknya dan ia bisa bekerja sama untuk beri pelajaran buat Aghata.

💗💗💗

My Life Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang