HTBU [3]

22.8K 4.4K 317
                                        

Gue memutuskan untuk menjemput Tasha sepulang kantor karena kerjaan untuk hari ini udah gue selasaikan dan Tasha juga hari ini ga bawa mobil ke kantor jadi ga ada alasan untuk menolak permintaan Tasha kan?

Sebelum pacaran sama Tasha gue juga pernah pacaran dulu. Pacarannya juga cukup lama sekitar 3 tahun sampai akhirnya putus ketika kami masuk semester tiga. Walau berpengalaman pacaran tapi gue belum pernah mutusin jadi ya gue gatau harus mengakhiri hubungan ini gimana. Mantan gue waktu itu minta putus lewat chat. Gue ga mau putusin Tasha lewat chat kesannya bocah banget.

Gue sama Tasha ini beda fakultas tapi gue yang sering mengerjakan skripsi di perpustakaan kampus sering banget satu meja sama Tasha yang saat itu frustrasi berat karena skripsi.

Gue ingat banget waktu itu gue panik setengah mati ketika Tasha tiba-tiba menutup macbook miliknya dengan kasar lalu menangis tanpa suara tapi tetap aja beberapa orang di sekitar ada yang sadar dan langsung menatap gue menjadi tersangka. Gue saat itu hanya memberikan sapu tangan yang selalu ada di kantung celana. Gue ingat banget lucunya Tasha ketika mengucapkan terima kasih sambil menarik ingusnya.

Gue membawa Tasha keluar dari perpus karena kebetulan gue juga udah terlalu penat dengan skripsi lalu membawa dia ke kantin jurusan yang membuat banyak orang menatap gue dengan keterkejutan mereka jika seorang Daryl membawa cewek yang lagi nangis.

Singkatnya, Tasha menghubungi gue via Line saat itu. Tasha dapat kontak gue dari Jeffry karena ternyata salah satu teman baik Tasha itu sepupu Jeffry. Rumit banget gue aja pusing waktu Tasha cerita gimana caranya dia dapet kontak gue.

Gue sama Jeffry cukup dekat tapi ya ga sedekat gue dengan Charles atau Jeffry dengan sahabatnya yang punya banyak toko emas itu William. Gue kadang nongkrong sama Jeffry tapi ya sebatas ngopi atau nge-beer aja. Pembahasan kita juga ya ga pernah menyangkut masalah hati.

Sebenarnya waktu kuliah gue bersyukur ga satu jurusan sama Jeffry. Gue masih sejalan dengan jurusan IPA makanya gue ambil sipil sedangkan Jeffry berbelok dan mengambil Akuntansi. Jeffry kenal dengan Tasha karena satu jurusan plus dikenalkan sama sepupu Jeffry yang dari SMA udah berteman baik sama Tasha.

Ribet. Kayak urusan hati. Kayak jalanan di Jakarta yang ga akan pernah benar.

Gue sempat WA Tasha yang sampai sekarang belum dibalas untuk menanyakan dimana dia mau dijemput karena kadang kalau gue jemput Tasha suka menunggu di cafe dekat kantornya.

Natasha
Cafe biasa ya
Aku lagi ngopi sama jeffry

Gue bisa aja menggunakan Jeffry sebagai alat untuk putus tapi Jeffry ga serendah itu untuk jadi pelakor. Jeffry itu tau diri ga kayak gue.

Daryl
Oke
Bentar lagi sampai
Udah di lampu merah pertigaan

Natasha
Iya
Nyetir aja jangan main hp
Hati-hati ya

Gue tersenyum ketika membaca pesan terakhir dari Tasha. Tasha selalu berpesan kepada gue untuk berkendara hati-hati karena katanya banyak yang menunggu gue untuk sampai di rumah dengan selamat; mama, papa, Tasha, Charles, dan Miko. Miko itu anjing jenis pug piaraan mama yang ternyata jatuh hati sama gue.

"Lama ya?" tanya gue kepada Tasha yang sedari tadi melambaikan tangannya ketika gue masuk ke dalam cafe.

"Ga gitu sih," gue bersalaman dengan Jeffry lalu duduk di sebelah Tasha.

"Gimana kerjaan?" tanya Jeffry yang gue yakini hanya sebatas basa-basi.

"Ya gitu lah seperti biasa cuma lagi sering ke lapangan aja sih." jawab gue. Beberapa hari terakhir gue emang lagi ke lapangan untuk mengecek bangunan yang sedang di bangun.

"Naik jabatan ya lo?" tanya gue karena mendengar rumor dari Charles kalau Jeffry naik pangkat.

Charles ini kupingnya tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Engga, gue bercanda. Charles satu kantor sama si Jeffry makanya kalau Jeffry makan siang sama Tasha dia selalu lapor ke gue padahal dia juga sering ikut makan siang.

"Charles ga ikut?" tanya gue lalu menyeruput es teh tawar milik Tasha.

"Hadir dong gue!" Charles muncul entah dari mana yang membuat gue mendengus.

"Abis boker gue." jelas Charles yang sebenarnya tidak penting untuk kehidupan gue.

Charles pamit lebih dulu karena ia sudah punya janji mau clubbing. teman baiknya yang lain ada yang ulang tahun dan merayakan ulang tahunnya di kelab malam. Padahal kalau dirayakan di panti asuhan akan membawa berkah.

Gue dan Jeffry ini bukan perokok kayak Charles yang kayaknya bisa gila kalau hidup tanpa rokok tapi Charles selalu mematikan rokoknya ketika berada di sekitar cewek dan Charles juga ga suka jika ada perempuan yang merokok.

"Gue balik duluan ya barusan disuruh nyokap balik." Pamit Jeffry. Setelah Jeffry pergi gue dan Tasha juga memutuskan untuk pulang tapi tidak langsung ke rumah pastinya. Gue dan Tasha memutuskan untuk makan nasi uduk terlebih dulu.

Tasha mengganti saluran radio karena terlalu banyak iklan. Namun Tasha menjatuhkan pilihan saluran radio dengan lagu James Arthur yang berjudul Say You Won't Let go yang sudah mau selesai diputar.

I'm gonna love you till
My lungs give out
I promise till death we part like in our vows
So I wrote this song for you, now everybody knows
Finally it's just you and me till we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
Just say you won't let go
Oh, just say you won't let go

Maaf Tasha karena cepat atau lambat gue harus melepas lo.

How to Break Up

How to Break Up

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tas,"

"Kenapa Dar?"

"Kalau aku foto passport kayak gini kira-kira dimarahin sama orang imigrasi ga ya?"

"Engga, paling passport kamu ga dibuat."

To be continue

How to Break Up -DoyoungCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang