Our love story

5.2K 326 14
                                        

Tiga bocah itu berbaring di atas rerumputan, di bawah pohon rindang, ketiganya memejamkan mata, menikmati semilir angin sore

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tiga bocah itu berbaring di atas rerumputan, di bawah pohon rindang, ketiganya memejamkan mata, menikmati semilir angin sore.

"Nazar? " seorang bocah perempuan berkepang dua itu memanggil, membuat nazar kecil langsung membuka mata.

"Iya, anna? "

"Nazar kalau sudah besar, mau jadi apa? "

Bocah lelaki itu tampak berpikir sejenak
"Tentara"

"Kenapa? "

"Biar punya senjata buat ngelindungin anna"

"Kok cuma ngelindungin anna? , dia kan juga pingin dilindungin sama nazar "
Bocah perempuan yang tidur dengan menjadikan lengan nazar sebagai bantalan itu tiba-tiba protes, memanyunkan bibirnya sebal.

"Iya, nanti dia dilindungin juga " ucap nazar dengan adil, membuat dua bocah perempuan itu menatap ke arahnya takjub.

"Terimakasih, nazar selalu jaga anna " bocah berkepang dua itu tersenyum manis, membuat yang disenyumi ikut tersenyum.

"Terimakasih, nazar selalu jaga dia juga"
"Iya, dia "

"Dia sayang nazar "

"Hm " nazar mengelusi poni milik nadia membuat si pemilik rambut kesal karna kini wajahnya tertutup oleh rambut.

"Nazar, nadia "
Nadia buru-buru bangkit saat mendengar ibu nazar memanggil, membersihkan pakaian dan rambutnya yang ditempeli rerumputan kering.

"Nazar, ayo "
Nazar menoleh ke arah anna sekilas, bocah itu sedang asyik memandangi awan, membayangkan apa yang dapat dibentuk awan. 

"Dia duluan ya"

"Oke, nazar jangan lama lama, nanti kena marah "

"Iya dia, bawel nanti nazar cium ya? "
Buru-buru nadia langsung menutup mulut kecilnya dengan telapak tangan, kemudian berlari sekencang mungkin meninggalkan nazar dan anna.

"Tante, nazar mau cium dia "

Nazar terkekeh di tempatnya, sementara anna hanya menggelengkan kepalanya,

"Nazar nakal "

"Enggak, anna "

Bocah perempuan itu tak lagi mendengarkan, kembali menatap awan. Matanya menyipit, dahinya berkerut menjadi beberapa tingkat, tanda jika bocah perempuan itu sedang berfikir keras

"Bentuk apa anna? "
Nazar selalu penasaran dengan hayalan anna. Menurut nazar anna memiliki tingkat imajanasi yang jauh lebih baik darinya dan juga nadia.

Pernah sekali mereka main tebak awan, nazar dengan pede mengatakan jika bentuknya seperti topi petani, dan Nadia mengatakan jika itu bentuknya seperti telur dadar buatan nazar, namun anna dengan jengkel mengatakan jika keduanya salah, karna yang benar adaalah sebuah kaki katak.

Nazar kala itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa kaki katak bisa sampai di atas langit.

Bocah itu menoleh ke arah nazar sekilas, tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya

"Yang itu "
Jari telunjuk anna menunjuk ke salah satu gumpalan awan, yang kemudian diikuti oleh nazar.

"Iya yang itu kan? "

"itu mirip nazar "

"Enggak anna, itu mirip teko "

"Anna maunya mirip nazar,titik "
"Yaudah, terserah anna "

"Nazar marah? "

"Enggak, kan Nazar sayang anna "

"Anna juga "

*****

𝑶𝒖𝒓 𝑯𝒖𝒔𝒃𝒂𝒏𝒅 (𝐜𝐨𝐦𝐩𝐥𝐞𝐭𝐞)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang