****
Rahma berdiri di atas balkon kamarnya.
Semilir angin malam membuat ujung rambut panjangnya yang tergerai sedikit terombang-ambing di udara.
Masih dengan posisi yang sama, yaitu menelpelkan ponselnya di dekat telinga, sesekali ia memejamkan mata.
"Jangan bercanda sayang, kamu tahu kan dalam agama pun perceraian tidak dianjurkan, dosa rahma. Terlebih dalam keadaanmu sekarang, pikirkan bagaimana nasib anakmu nanti rahma- "
Air mata yang sejak tadi ditahan olehnya, akhirnya menetes juga, turun membanjiri kedua pipinya.
Ia sudah tau, konsekuensi apa yang nantinya akan ia dapatkan sebab keputusannya ini, bukan hanya untuk dirinya seorang, namun juga untuk bayi yang masih dalam kandungannya ini.
Ia tahu, tidak akan ada perceraian yang yang baik untuk masa depan seorang anak, justru sebaliknya, perceraian sudah pasti berdampak buruk untuk pertumbuhan mental seorang anak. Namun ia tidak punya pilihan lain lagi.
"Apa yang membuatmu sampai punya pikiran seperti ini rahma? Kau tidak seperti rahma yang aku kenal "
Rahma tidak tau yang harus ia katakan kepada kakaknya. Apa harus ia mengatakan yang sesungguhnya?
Sesungguhnya rahma ingin sekali mengatakannya, namun ia tak kuasa.
Alhasil, ia hanya diam.
Menggit bibirnya yang terus saja bergetar.
"Apa semua ini karna dimas?, Kau lakukan ini karna kau sudah tau tentang semuanya? Kau tau jika dimas juga mencintaimu? Kau ingin meninggalkan tuan nazar karna cinta lamamu? "
Isak kecil itu akhirnya lolos dari bibir mungil rahma. Membuat rania yang berada di sebrang sana makin bertambah khawatir terhadapnya
"Rahma? Rahma? Jangan buat aku takut dan bingung, katakan sesuatu rahma, apa benar semua ini ada hububgannya dengan dimas? Jawab rahma, ya atau tidak "
Rahma tampak mengehela napas sejenak, sebelah tangannya mengelus pelan perut besarnya.
"Aku- "
"Rahma... "
Rahma langsung menurunkan ponselnya, memasukkannya dalam kantung daster tidurnya dan kemudian buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya.
"Ya mas? Mas sudah pulang? Sejak kapan? "
Suaminya itu tidak menjawab, lelaki itu terdiam, menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Apa lelaki itu mendengar semuanya?
"Ikut aku "
Nada dingin dari suaminya itu langsung membuat rahma tersentak, perih.
******
Rahma berjalan mengekor di belakang suaminya.
Perut besarnya membuat ia sedikit kewalahan untuk mengikuti langkah-langkah besar milik suaminya. Dengan sebelah tangan yang memegangi punggung, rahma terus berusaha agar tidak tertinggal jauh.
Namun semuanya tidak bertahan lama, langkah rahma terhenti saat ia merasakan tendangan bertubi-tubi pada perutnya.
Rahma meringis, sambil mengusap perutnya.
Usia kandungannya yang tinggal menghitung hari akan memasuki bulan ke sembilan membuatnya sering kali kewalahan menghadapi pergerakan bayinya yang semakin sering. Terkadang, rahma bahkan sampai meneteskan air mata karna tak kuasa menahan sakit pada perutnya.
"Rahma? "
Rahma mendongak, menjumpai suaminya yang ada di hadapannya, tengah menatapnya cemas.
"Kau kenapa? Apa semua baik-baik saja? "
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑶𝒖𝒓 𝑯𝒖𝒔𝒃𝒂𝒏𝒅 (𝐜𝐨𝐦𝐩𝐥𝐞𝐭𝐞)
Romance(COMPLETED) Berbagi itu indah. Sejak secil ibunya selalu mengajari hal itu kepada rahma. Tapi, jika berbagi suami? Itu tidak akan semudah membangikan permen dan mainan. Berbagi suami itu menyesakkan. Terlebih jika suaminya adalah nazar. Nazar...
