"Ihhh apaan sih Mas" Ana menyentuh pipinya pelan. "GOMBAL tau ga huh" Ana berjalan menjauhi Wira yang menatapnya dengan senyum lebarnya.
Wira berniat kembali ke markasnya ketika Saga menghampiri Wira dan menghentikan langkahnya.
"Bisa kita bicara?" Saga berbicara formal kepada Wira. Wira yang kebingungan menatap Saga penuh tanda tanya dan mengangguk pelan.
"Bisa" Jawab Wira tegas.
Saga berjalan menjauh dari gedung sekolah diikuti Wira yang dengan santai berjalan dibelakangnya.
"Apa anda serius dengan Ana?" tanya Saga disela-sela perjalanan mereka. Wira yang sedaritadi menunduk melihat jalan langsung menengok kearah Saga dengan tampang bingungnya.
"Maksudmu saya mendekati Ana hanya main-main saja?" tanya Wira tegas.
"Saya hanya bertanya" ucap Saga menaikan volume suaranya sambil melihat Wira dengan tatapan tajamnya.
"woah, santai bro" canda Wira sambil mengangkat kedua tangannya. "saya jawab pertanyaan kamu kalo kamu juga bisa menjawab pertanyaan saya" Saga mengangkat kedua alisnya, bingung dengan apa yang akan ditanyakan oleh Wira. "Apa kamu juga serius dengan Ana?" lanjut Wira tegas.
"Maksudmu?" Saga kebingungan.
"Ayolah bro," Wira menepuk pundak Saga pelan, "Semua orang juga sudah tau kalau kau punya rasa sama Ana, betul?" Wira terkikik pelan.
"Saya sedang serius bang," ucap Saga ketus.
bukannya takut dengan 'gertakan' Saga, Wira menanggapinya dengan senyum lebar sambil mengucapkan kalimat yang membuat Saga diam seribu bahasa.
"Santai bro, masalah hati ngga ada yang bisa maksa. Sekalipun saya atau kau yang paling serius sama Ana, kalo dia cuma milih salah satu dari kita, yowes. Sebagai lelaki kita harus menghargai apa yang dia pilih. Bersaing boleh, tapi dengan cara sehat." Ucap Wira sebelum menepuk pundak Saga pelan dan berjalan menjauhi Saga menuju markasnya.
Anna's POV
"Anna!" seseorang memanggil namaku dan aku menoleh kearah sumber suara tersebut, disana ada ka Dini yang melambaikan tangannya kearahku, aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum. ia berjalan menghampiriku dengan tergesa-gesa.
"Kenapa ka?" tanyaku heran.
"Kamu sudah dengar beritanya?" tanya ka Dini.
"Berita? berita apa?" tanyaku semakin heran.
"Wira" kata ka Dini dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
"Mas Wira kenapa?" tanyaku sedikit khawatir.
"Dia, 5 hari lagi dipindah tugaskan" perkataan ka Dini membuat aku merasa sedikit kecewa, ya sedikit. Karena aku tak memiliki hak sedikitpun untuk kecewa bahkan melarang kepergian mas Wira.
"An, kamu gapapa?" ka Dini membangunkanku dari lamunan.
"Eh? iya hehe gapapa." jawabku sambil memasang wajah bodoh dihadapan ka Dini.
"Talk to him as soon as you free ya An" ka Dini pamit setelah mendapatkan anggukan dariku.
"Apa tadi yang dibicarakan mas Wira sama bang Heru itu ada hubungannya sama berita ini?" tanyaku dalam hati. "Tapi kenapa? bukannya masih ada waktu sekitar beberapa bulan lagi dia disini?"
"Tau ah!" ucapku reflek membuat orang-orang disekitarku kaget dan menatapku heran. "Eh? hehehe sorry" ucapku tersipu malu.
Malam harinya aku tak melihat mas Wira dimarkasnya maupun bascamp kami, aku sedikit kesal dibuatnya tapi apa boleh buat aku kan belum memiliki hak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku, Kamu dan Negara
أدب المراهقينKisah seorang Farida Kirana gadis bumi pasundan yang memiliki cita-cita unik; Menikahi seorang pengabdi negara yang mengantarkannya bertemu dengan bermacam-macam pria yang berprofesi sebagai abdi negara, tapi anehnya dari sekian banyak abdi negara r...
