Quinn sedang berada di kamar April yang begitu modis dan didominasi dengan warna pink. April adalah gadis yang sempurna dengan kulit kecokelatan, rambut pirang bergelombang yang indah, dan senyum yang selalu dengan mudah ia berikan pada orang-orang. Ia bahkan tahu cara berdandan dan Quinn bisa melihat bahwa sepupunya itu adalah primadona.
Ibu April adalah sepupu ayah Quinn dari jalur neneknya. Ketika Quinn tiba di Westerly, kakeknya, Jacob memperkenalkan gadis seumurannya, yang mana adalah sepupunya.
Quinn tidak pernah tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu bersama sepupu. Ia tidak pernah punya sepupu. Baik hubungan ayah dan ibunya dengan saudara-saudara mereka buruk. Bahkan hubungan ayahnya dengan sang kakek juga biasa-biasa saja. Setelah ayah dan ibunya bercerai, ibu Quinn tidak pernah lagi mengajaknya mengunjungi kakeknya di Westerly. Jadi bersikap ramah dengan sepupunya itu, tidak bisa Quinn lakukan dengan cepat. Untungnya, April sudah mengambil tugas itu, yang terlihat mudah ketika April yang melakukannya.
Hari ini April mengajaknya mampir ke rumahnya. Keluarga Marquis tidak bisa dibilang kaya, tetapi juga tidak miskin. Barang-barang April menunjukkan hal itu. Quinn jelas tidak mempunyai yang seperti ini sejak ibunya menjanda. Apalagi setelah tinggal dengan kakeknya yang tak pernah berencana tinggal dengan seorang gadis berumur empat belas, Quinn tidak punya begitu banyak barang.
"Kau mau coba ini?" tanya April yang mengeluarkan sebuah gaun oranye terang yang menyilaukan mata.
"Tidak, ah." Quinn kembali fokus pada ponselnya. Bermain ular titik yang mencari makanan titik. Meski ia tidak merasa nyaman terlibat obrolan dengan April, setidaknya kamar sepupunya itu sangat nyaman.
"Ayolah. Gaun ini akan bagus untukmu."
Quinn berusaha mati-matian tidak memutar matanya. Ia menghela napas dan melirik April yang memandangnya penuh harap. "Kalau kau belum tahu, aku tidak suka pakai gaun." Quinn dulu memang tomboy. Namun setelah kematian ibunya, Quinn ingin mengikuti gaya berpakaian ibunya yang selalu menggunakan terusan. Ia bahkan menyembunyikan kenyataan pada teman-temannya di Westerly bahwa ia adalag gadis tomboy.
"Serius?" sahut April. "Itu berita baru. Kau selalu berpenampilan anggun ke sekolah."
Quinn menggeleng. "Aku tidak anggun. Kau yang anggun."
"Aku bahkan selalu pakai ransel."
"Apa masalahnya?" Quinn bertanya-tanya apakah April juga berpikir pembicaraan ini membosankan. Jika benar, maka gadis itu sukses menutupinya. Quinn menduga April terpaksa melakukan ini supaya citra antar sepupu tetap terjalin baik.
April menjatuhkan diri di samping Quinn, berbaring, dan menatap langit-langit. "Jadi kau tidak suka gaun. Lalu apa yang kau sukai?"
Calvin Beverly. Itu jelas. Selama berminggu-minggu Quinn hanya bisa memikirkan cowok itu. Ia mengamati Calvin meski sebisa mungkin bersembunyi. Ia mencari tahu tentang Calvin tanpa terlihat ingin tahu. Cowok itu tampan, menyenangkan, dan baik. Sayang sekali Quinn tidak pernah mendapatkan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya, ketika sepedanya bermasalah dan seseorang setampan Calvin yang datang menolongnya.
"Entahlah," jawab Quinn akhirnya. "Apa kau pernah punya pacar?"
"Belum. Kenapa?"
Quinn menggeleng tak acuh meski ia terkejut dengan jawaban sepupunya. Padahal ia sendiri bertanya-tanya pemuda mana yang beruntung mendapatkan April.
"Kau pernah punya pacar?"
"Seseorang pernah memintaku jadi pacarnya saat di Salem dulu."
Topik itu membuat April bersemangat hingga gadis itu mengambil posisi tengkurap dan menyangga kepala dengan tangan. "Oh, ya? Seperti apa orangnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
REMEMBER OURS
RomanceBEVERLY HOUSE SERIES #3 √ Completed √ Kevin Beverly baik-baik saja ketika berada di sekitar kembarannya. Tetapi kembarannya selalu saja berusaha menjauhinya hingga Kevin terpuruk meski sudah bertahun-tahun lamanya. Namun malamnya bisa saja lebih bur...
