Bagian tanpa judul 8

7.4K 351 5
                                        


Sudah empat hari ini sejak kejadian itu Shinta tidak masuk sekolah dengan keterangan sakit, padahal dirinya sedang baik baik saja, mungkin masalah hati dan pikirannya yang sedang tidak karuan.

Selain punya tujuan lain karena tidak berangkat sekolah, dia juga tidak ingin bertemu dengan Rize, tapi hal seperti itu tidak bisa dihindarkan. karena dirinya kan harus mengurus Rize.
Dan dia juga sudah muak dengan wali kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Miss Sinting, kalau kata Shinta.

Shinta sengaja tidak berangkat sekolah karena ingin memperhatikan toko dulu, untuk pembayaran sekolah yang sudah nunggak beberapa bulan.

Padahal Shinta merasa kangen dengan sahabatnya yang cerewet itu, dan sahabatnya itu katanya siang sepulang sekolah ini bakalan datang kerumah atau ketokonya.

Bisa dikatakan, mereka itu sedekat sahabat dan sehangat keluarga.

Memang Shinta tidak seberuntung Yasmin dan teman teman sekolah yang lainnya yang masih mempunyai keluarga yang sangat harmonis.
Tetapi Shinta merasa cukup senang sudah di anggap dari bagian keluarga Yasmin, dan Shinta pun tidak akan malu kalau sudah bersama dengan orang tua Yasmin. Bahkan orang tua Yasmin selalu mempercayai Shinta kala dirinya sedang berpergian jauh urusan pekerjaan, karena memang orang tua mereka Worakholic.

Dilema Shinta yang ia rasakan saat ini, dia ingin membuka tokonya dulu apa kerumah Rize, jika dia kerumah Rize. Yang ada dipikiran Shinta mungkin saja Rize bakal berbuat lebih lagi, tetapi jika tidak, dia merasa benar benar sangat bersalah kepadanya, karena ini memang kesalahannya juga yang teledor mengendarai motor.

"Kerumah Flo dulu aja kali ya, mumpung ini masih pagi"

Dengan niat setengah hati akhirnya Shinta menuju kerumah Flo, dia tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.


**


"Auwww, sakit bego," rengek Rize.

"Ya lo bawel banget dari tadi, masih mending gue urusin lo!"

"Yakan cuma nanya, jangan ngegas dong?"

"Mau ngucapin istighfar tapi takut lo kebakar."

"Lo bilang apa tadi?"

"Tuh tuh uda slesai."

"Makasih."

Mereka adalah Rize dan Shinta. Shinta yang datang sedikit telat kerumah Rize karena mengurus tokonya dulu, jadilah Rize mengomel sepanjang diobatin oleh Shinta.

Karena kesalahan Shinta juga. Shinta harus mengurusi Rize selama beberapa hari. Rize yang hanya berbaring di kamarnya karena kakinya masih sakit, dan jalan pun harus memakai tongkat.

"Lo hari ini sampe sore lagi ya Shin."

"Hah, ngapain? Gak ah gue kudu ngurus toko."

"Hubungannya toko sama gue apa?"

"Lo kelewatan banget sih Flo," geram Shinta.

"Tinggal muter balik aja, apa susahnya?" Kata Rize remeh.

Shinta lebih memilih diam dari pada harus melanjutkan debat sama orang arogan, sampai kapan pun tidak akan menang. Mau ngelawan, sedangkan tetap saja Shinta yang salah.

"Orang tua lagi keluar kota Shin. Abang gue pulang kerja sore," lanjut Rize yang pura pura memasang muka sedihnya.

"Yaudah gue temenin," akhirnya Shinta mengalah, lebih baik mengalah dari pada harus ribut lagi, pikirnya.

"Lagian ini juga karena lo kan? Gue gak bisa sekolah, gak bisa kemana mana."

"Iya iya gua minta maaf."

Hening sesaat, mereka masing masing sibuk dengan ponselnya.

Dan...

Tiba tiba saja perut Shinta berbunyi, karena sedari pagi harus buka toko dan langsung menuju kerumah Rize, tanpa memperdulika sarapan.

Shinta menghentikan bermain gamenya dan menoleh ke Rize.

"Flo"

"Apa sayang?"

"Hehh apaan sih lu?"

"Tadi lo manggil gue apa? Flo kan? Yaudah gue harus manggil lo dengan sebutan sayang dong," jawab Rize santai, pandangannya tanpa beralih pada ponselnya.

"Ahh serah lo deh, lo ada makanan gak?"

"lo turun aja. Sekalian bikinin gue jus ya Shin."

"Iya!!!"

Shinta turun ke bawah, sedangkan Rize yang masih cekikikan karena kelakuan Shinta barusan.
Mungkin Rize menemukan hoby barunya, yaitu menggoda Shinta.

Shinta sudah masuk lagi ke kamar Rize, dia membawa makan dan satu gelas jus mangga pesanannya.

"Nih minuman lo."

"Makasih sayang!"

"Uda deh! sayang sayong, geli tau gak."

"Hahaha."

"Berisik, gua mau makan nih."

"Yaudah makan."

Rize menuruti kata Shinta, dia diam dan bermain ponsel lagi, sedangkan Shinta asik menyantap makanannya.

Tapi tidak tahu setelah ini bakal ada kejahilan apa lagi yang akan di lakukan Rize.

Shinta telah selesai makan, sebagai tamu yang baik, dia turun ke bawah untuk mencuci piring kotor bekasnya. Dan setelah itu kembali lagi ke dalam kamar, karena Rize tidak mau di tinggal coyy.

"Gue boleh nanya?" kata Shinta.

"Gaboleh," kata Rize dengan cepat.

"Kenapa?"

"Kalau bukan ayah yang nganterin, hahaha."

"Korban iklan lu."

"Hahaha. Nanya apaan?"

"Lu sering keluar malem ya?" Tebak Shinta.

Shinta sengaja menggunakan kata 'Keluar malam, bukan 'Club, menurutnya agar lebih hati hati, Jika Rize paham pasti akan mengerti.
Rize agak sedikit tersentak ketika Shinta menanyakan hal itu, tahu dari mana? Pikirnya.

"Tahu dari mana?"

"Sumedang," kata Shinta cepat.

"Serius bego!!" Kesal Rize.

"Gak heran orang kaya elu mah, merasa sepi, pasti larinya ke hal hal gitu," kata Shinta santai.

"Emang kelihatan banget ya Shin? Dan gue juga masih tau batasan, cuma minum doang, kalo uda pusing ya pulang."

"Ya bagus deh."

"Apanya?"

"Ya bagus kalau masih inget batasan mah, sayang orang secantik lo kalo di bagi bagi, mending sama gue hahaha." Shinta terbahak meledek Rize.

Heyy dia benar benar manis, batin Rize.

"Sialan lo!" Sambil memukul Shinta dengan bantal. "Lo uda punya pacar?" Lanjut Rize.

"Belum ada yang mampu dapetin hati gue," Kata Shinta dengan sombongnya.

"Sombong banget sih lo, bilang aja gak laku."

"Pernah punya, tapi kita beda keyakinan."

"Maksudnya? Beda Agama gitu?"

"Bukan, guenya yang yakin tapi dia enggak, kan beda keyakinan Hahaha."

"SETAN!!"





Shinta SenjaniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang