Bagian tanpa judul 5

9.2K 377 1
                                        


Mereka terus berbincang diruang tamu. Shinta sudah meminta maaf kepada ibunda rize, dan dia memaklumi ketidaksengajaan Shinta.
Menurut ibunda Rize. Shinta adalah sosok yang bertanggung jawab, tidak mungkin dia sampai memberanikan diri untuk bertemu kepadanya dan meminta maaf langsung, jika Shinta tidak bertanggung jawab mungkin saja Rize akan ditinggal dijalan, tabrak lari istilahnya.

"Jadi siapa namanya tadi?" Kata ibunda Rize. Wulan Florina.

"Shinta tante."

"Oiya Shinta, kalau anak Tante mengancam kamu yang tidak tidak, kamu bisa lapor sama tante."

"I..iya tante," kata Shinta tidak enak hati.

"kesenengan lo dibela Mami gue, iya?"

"Dee uda dong, lagian Shinta sudah bertanggung jawab kan? terus mau apa lagi? lagian ini kecelakaan, tidak ada yang tau dan Shinta juga tidak mau terjadi seperti ini," lerai ibunya.

"Iya sih mam, tapi dia ngeselin!!"

"Udah udah, sekarang kamu masuk kekamar."

"Heh lo!! Cepet anter gue kekamar."

"Iya, tante Shinta kekamar dulu."

"Iya, awas jatoh ya."

Ibunya lembut gak ketulungan, lahhh ini anaknya kaya macan, batin Shinta.

Shinta segera membantu Rize tersebut memapah untuk berjalan dengan posisi yang sama seperti waktu Shinta membantu Rize turun dari taksi.

Rumah yang megah dan terdapat barang barang yang sangat mewah, termasuk Gucci dan berbagai jenis lainnya yang terera pada meja dekat tembok untuk hiasan.

Sampai dikamar. Shinta membantu Rize duduk pada bagian ranjangnya dengan sangat hati hati untuk melonjorkan kaki Rize.

Setelah sudah lumayan tenang.

"Shinta,'' ucap Shinta tiba tiba dan mengulurkan tangannya berniat untuk berkenalan dengan Rize.

"Gue uda tau!" Balas Rize masih ketus. Mungkin dia masih sangat marah kepada Shinta yang menabraknya, dan dibela oleh ibunya.

"Ya..ya biar ada perkenalan dengan secara baik aja sih."

"Flo," kata Rize dan menerima jabatan tangan Shinta.

Jadi namanya Flo, batin Shinta.

"Sekali lagi gue bener bener minta maaf ya Flo, gue bener bener ga sengaja."

"Lupakan, intinya dalam beberapa hari ini lo harus selalu dateng kerumah gue buat ngobatin kaki gue."

"Asal lo tidak melanjutkan kasus ini pada jalur hukum, gue bakal lakuin apa kemauan lo," kata Shinta pasrah.

"Ok, deal.. Lo duduk samping gue sini, ngapain berdiri mulu?"

Dengan keadaan yang sangat pasrah, dia menuruti keinginan Rize untuk dudu disampingnya. Bahkan sedari pulang sekolah Shinta belum ganti pakaian yang masih menggunakan seragam sekolahnya.

Sebelum kejadian, niat Shinta ingin menuju minimarket, tapi laju kendaraannya tersendat karena kejadian yang tidak diinginkan. Jadilah Shinta mengurungkan niatnya.


Deg..


Shinta kaget kala dirinya sedang di tatap lekat lekat oleh Rize, sampai Shinta menghentikan akrifitasnya yang sedang bermain ponsel.

Dan sekarang. Rize yang di kejutkan oleh Shinta kala tatapannya tak sengaja bertemu, kala mata teduhnya yang cukup menghanyutkan bagi Rize.

"Lu cantik, manis."

"Jangan memandang gue seperti itu," kata Shinta sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah.

"Kenapa? Gaada yang nglarang kan?"

"Yaa..ya ga enak aja sih." Shinta dengan gugupnya sambil menggaruk bagian lehernya yang di pastikan tidak gatal sama sekali.

Rize yang terang terangan memuji Shinta. Dan kini, sekarang Shinta lah yang di buat sangat malu oleh ucapan Rize.

"Gue mau pulang."

"yaudah lo pulang! Dan ingat! Besok lo harus kesini lagi sampai luka gue benar benar kering, lo tau kan konsekuensinya kalau nolak?"

"Iya gue inget, besok gue kesini lagi setelah pulang sekolah. Gue pulang dulu.. mari."

"Iya."

Saat hendak Shinta melangkah untuk keluar, langkahnya terhenti di ambang pintu kamar Rize kala dia memanggilnya kembali.

"Shinta!"

"Ya?"

"Lo duduk lagi sini sebelah gue sebentar."

"Oke."

Shinta menuruti kata Rize untuk duduk di sampingnya, di ranjang.

"Ada apa lagi?"

Senyum seringai dibibir Rize membuat Shinta bergidik ngeri. Pikirnya, korban Shinta yang ada di sampingnya ini sedikit aneh.

Entah itu kejahilan apa yang akan Rize lakukan pada Shinta.


Deg.


"Lu mau ng-" ucapat Shinta terhenti sejenak.

Seketika mata Shinta gelagapan dan tubuhnya menegang. Karena dengan lancangnya Rize tiba tiba saja memegang bibir Shinta dengan sangat sensual, dan pandangannya sedikit nakal.

"Bibir lo manis seperti buah kesukaan gue! Boleh gue gigit?"

Dengan segenap kesadaran yang Shinta miliki. Shinta segera menyingkirkan tangan Rize yang masih ada di bibirnya.

"Gue mau pulang! Permisi." Buru buru Shinta keluar.

Sesampainya Shinta keluar.

Di dalam kamar. Seseorang sedang tertawa tanpa dosanya, siapa lagi kalau bukan Rize yang berhasil mengerjai Shinta.

"HAHAHA, lucu banget sih dia."

"Ehh tapi kenapa gak gue cium aja yah? kan lumayan dapet kiss."

"Ga kuat akutuh buat lepas dari bibirnya. Hahaha."

Monolog Rize seperti orang gila yang cekikikan sendirian.

Sedangkan seseorang yang sedang berada dijalan menuju pulang, pikirannya masih tidak karuan karena ulah Rize tadi.

"Baru sehari ngurus dia uda kaya gini! Gimana hari kedepan?" batinnya.

Selang tiga puluh menit, akhirnya Shinta sampai di rumahnya, berhubung waktu ini sudah lumayan Senja. Shinta segera membersihkan badan dikamar mandi.

Tidak ada yang dilakukan oleh Shinta dirumahnya selain Bersih bersih, makan, dan kalau bosan dia bermain PS.
Hidup seperti dikontrakan sendirian, dia terkadang merasa kesepian yang selalu sendirian, jika ada seseorang yang berkunjung kerumahnya, mungkin itu hanya Yasmin atau tetangga yang sekedar mengirim makanan atau apa lah. Shinta pun begitu, jika dia memiliki lebihan makanan pasti akan membagi kepada tetangganya.

Karena berbagi dengan sesama itu sangat indah menurutnya.

Hari sudah malam, dan Shinta segera tidur, untuk saat ini dia tidak membuka toko karena sangat kelelahan.

Shinta SenjaniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang