Bagian tak berjudul 26

3.9K 169 4
                                        


"Hey."

Raga menengok, dengan memasang muka terkejutnya. "Lohhh, kak Shinta?!" dia menyalami punggung tangan Shinta. "Apa kabar kak? Lama ga ketemu kakak," lanjutnya.

"Kakak baik, bagaimana Ibu kamu?"

"Alhamdulillah karena bantuan kakak waktu itu Ibu sudah sehat dan sudah kembali lagi bekerja."

"Syukurlah kalau gitu."

Mereka duduk di pelataran dekat parkiran motor, mereka tidak peduli tentang pandangan orang-orang yang sedang melihatnya. Entah itu melihat Shinta karena style seperti laki-lakinya atau ada hal lain.

"Dapat salam dari Ibu, katanya dia bilang terimakasih banyak sama kakak. Dan dia pingin ketemu kakak."

"Ketemu kakak?"

"He'em, kakak gak keberatan kan kalau bertemu dengan Ibu?"

"Enggak kok, justru kakak seneng."

"Makasih ya kak."

"Iya, tolong ambilkan bingkisan plastik yang ada di motor kakak dong."

"Motor kakak yang mana?"

"Tuh yang gede item."

"Ok."

Raga berlari kecil mengambil sesuatu yang ada di stang motor milik Shinta, mungkin dia saking senangnya karena bertemu kembali dengan Shinta yang sudah beberapa hari ini baru terlihat lagi.

Raga sudah duduk kembali bersama Shinta, yang ada di dalam plastik tersebut adalah makanan ringan yang sempat Shinta beli tadi. Mereka menikmati acara makan berdua sambil bercanda ria.

Sesekali dia bertanya pada Raga tentang sekolahnya, tentang sehari-hari Ibunya dan dirinya.

"Jadi kamu sehabis sekolah terus langsung jualan, gitu?"

"Ya gitu kak, kadang aku berjualan juga di sekolahan."

"Memang tidak malu berjualan di sekolah?"

"Lohh kenapa harus malu?! Selagi ini Halal mah Raga malah seneng bisa bantu-bantu Ibu buat tambahan biaya sekolah, memang sih Ibu sempat melarang."

"Memang Ibu kamu kerja dimana?"

"Serabutan kak."

"Ayah?"

"Ayah uda ga ada 2 Tahun lalu kak, maka dari itu aku akan menjadi sosok Ayah yang akan selalu melindungi Ibu. Dan menyayangi Ibu seperti Almarhum Ayah dulu."

"Pintar," ucap Shinta sambil mengacak rambut milik Raga. "Kerumahmu sekarang?" Lanjut Shinta.

"Ayoo.. Ibu pasti seneng banget."


**


Shinta seperti tukang ojeg sekarang, mampir sana mampir sini, sehabis dari rumah Raga. Ia mampir pada toko kuenya yang belum sempat ia kunjungi sedari kemarin lantaran mengurus Yasmin terlebih dahulu.


"Bagaimana dengan toko?"

"Masih rame seperti dulu kak, cuman beberapa hari ini aku jarang buka."

"Kenapa?"

"Aku lagi banyak tugas buat sekolah kak, maklum baru kelas Satu lagi rajin-rajinnya, hehe."

"Kalau masalah belajar itu kewajiban kamu. Kakak kan uda bilang bahwa tidak selalu harus buka toko kan? Yang penting ini toko masih ada yang ngurus, biar ga mati aja."

Shinta SenjaniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang