"Ngomong nomong kamu belajar dari mana Shinta? Jarang jarang ada perempuan yang bisa karate, saya jadi kagum sama kamu."
"Di ajarin sama Papa aku Om, sejak kecil aku di ajari bela diri sama Papa.. Dan yaa cuma itu warisan yang ia tinggalkan," kata Shinta sedikit sendu.
"Ohhh.. Ini toko kamu?"
"Iya Om."
"Terima kasih Tuhan, kamu telah mempersembahkan seseorang yang persis dengan sahabat saya, rasa rinduku telah terobati meski dengan cara seperti ini." Alfin tidak henti hentinya mengucapkan kata syukur kepada sang maha pencipta.
"Haaaaahh gue kangen sama lu Daf.''
Deg.
Jantung Shinta berulah ketika Alfin mengucapkan kata 'Daf.
Apa yang dimaksud 'Daf itu adalah Dafid? Jika iya, berarti dia adalah sahabat Papa, batin Shinta.
"Papa," gumam Shinta, tetapi masih bisa dapat didengar oleh Alfin meskipun samar samar.
"Maksudnya?"
"Nggak Om."
"Ohh."
"Ngomong ngomong Om mau lanjut kerja apa gimana nih?"
"Ya saya pulang lah, ini badan udah babak beluk gini masih mikir kerjaan aja."
Shinta membalas dengan cengiran bodohnya.
"Ya kali aja kan Om berangkat ke kantor terus memamerkan badan Om yang babak belur itu, biar dapet sanjungan lohh Om."
"Sinting kamu!"
"Hahaha."
Entah kenapa anak ini selalu menarik perhatian saya, dia benar benar mirip elu Daf, mungkin saya harus mencari tahu siapa Shinta, batin Alfin.
"Om mau di antar gak pulangnya?" Tawar Shinta.
"Kalau saya tidak merepotkan ya tidak apa apa."
"Ongkir tapi ya?"
"Ongkir apaan?"
"Kan aku nganter barang ke tujuan, ya Om harus bayar ongkir lah."
"Sialan dikira saya barang apa? Sudah antarkan Saya nanti bayar."
"Haha, Aku bercanda kali Om."
"Baru pertama kali saya diajak bercanda sama orang yang baru dikenal, menyebalkan juga ya Kamu?" Kata Alfin sedikit memasang wajah yang dibuat semarah mungkin.
"Plus ngangenin Om haha."
"Halah."
Shinta segera menutup pintu toko karena hari ini tidak ada yang lain selain dirinya.
**
Bukannya ini rumah Flo?
Apa jangan jangan dia Bapaknya?
Ahh sudahlah, bodoamat mau bapaknya kek, pacarnya kek. Apa peduliku.
"Ini rumah Om?"
"Iya, mau mampir?"
"Nggak dulu deh Om, aku harus buka toko lagi soalnya," tolak Shinta dengan halus.
"Ok.. Sekali lagi terima kasih Shinta kamu sampai repot repot mengantar saya, saya akan merasa senang jika kamu sering berkunjung kesini nanti."
"Aku usahakan ya Om."
Alfin sudah turun dari motor gede milik Shinta.
"Om," panggilan sedikit keras dari Shinta, Sebelum Alfin melangkah ke gerbang rumahnya. Alfin berhenti dan berbalik arah pada Shinta yang masih diatas motornya.
"Ya?"
"Apa sahabat Om itu namanya Dafid Renjana?" Tanya Shinta ragu ragu.
"Lohhh?? kamu kenal dia?"
"Hehe tidak Om, aku pulang dulu." Shinta sudah menjalankan motornya kembali untuk menuju pulang.
Shinta merutuki diri karena dia telah gagal menghindar dari Flo, bagaimana tidak. Orang yang baru saja di tolong Shinta adalah bagian dari keluarga Flo, ditambah lagi dia adalah sahabat dari ayah Shinta.
Berbeda lagi reaksi dari orang yang masih betah dibalik gerbang pintu rumahnya, dia heran karena Shinta bisa mengenal sahabatnya itu.
Alfin masih dibuat bingung oleh Shinta.
Shinta yang dengan niat hati ingin menghindari, malah dia sendiri yang mendatangi rumah mantan korban kecelakaannya itu, meskipun Shinta tidak bertemu dengan Flo. Tapi dia sudah merasakan hawa panas dingin, mungkin dia karena takut kejadian yang pada waktu beberapa hari akan terulang kembali.
Shinta sudah benar benar lupa akan kejadian yang dimana Flo mencuri ciuman pertamanya dengan secara paksa, menyakitkan menurutnya jika di ingat ingat lagi.
Shinta sudah kembali pada tokonya, dengan langkah yang sangat sungkan dia mematikan mesin motor dan langsung membuka tokonya kembali.
Mau bagaimana lagi? Ini jalan hidup yang ia ambil, jika bukan karena toko yang bisa membiayai kebutuhannya, maka siapa?
Meski sedikit tersendat pada jalan yang ia buat, tapi Shinta tidak pernah menyerah.
Liat aja Ma Pa, suatu saat nanti Shinta bakal membuktikan pada kalian bahwa Shinta bisa berdiri tanpa adanya bantuan kalian, mungkin itu satu satunya dendam gue pada ortu, gue harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Gue tidak pernah membenci mereka karena mereka adalah orang tua gue, gue hanya benci sifat buruk dari mereka.
Amarah Shinta yang sudah memuncak.
"Shinta's Cake..tidak buruk juga toko kuenya," ucap seseorang diseberang jalan yang lumayan agak jauh dari toko Shinta.
Shinta tidak menyadari kala dirinya sedang diawasi oleh satu orang perempuan dan dua laki laki suruhannya.
"Kamu pura pura beli kue sana, dan pastikan bahwa Shinta pemilik toko itu adalah Shinta yang ada di gambar saya," kata seorang perempuan yang tak lain adalah bosnya kepada bawahannya, dan memberikan beberapa lembar uang.
"Baik Non."
Dua laki laki tersebut berjalan menuju toko Shinta, dan seorang perempuan itu menunggu informasi dari kedua anak buahnya, menunggu didalam mobil hitam miliknya.
"Kamu lihat saja sayang siapa yang bakal menang, aku masih tidak terima karena kamu menolak ajakanku," gumam seorang perempuan yang ada di mobil itu.
Dua laki laki itu sudah kembali dan membawa dua bungkusan kue yang ia beli tadi, dan mereka langsung masuk kedalam mobil bareng seorang perempuan itu.
"Bagaimana?" Ucap perempuan itu tidak sabaran.
"Dari segi wajah dan dan tubuh sama persis apa yang ada didalam gambar Nona, tapi yang saya bingungkan dia seperti laki laki," ucap laki laki yang badannya sedikit berisi. Seperti Bodyguard.
"Hah? Gimana?" kata perempuan itu kebingungan.
"Iya Non, penampilan dia seperti laki laki, rambutnya pendek. Dan tadi saya melihat dia sedang merokok," ucap laki laki satunya lagi yang badannya sedikit kerempeng.
"Hah? Merokok? Rambut pendek?" kata perempuan itu heran, apa mungkin dia salah tujuan, pikirnya.
"Iya Non dia berambut pendek."
"Ok, untuk sekarang kita pulang, nanti malam kita kesini lagi untuk memastika kalau dia benar adalah target saya, kita sigap dia."
"Baik Non."
KAMU SEDANG MEMBACA
Shinta Senjani
Romance"Saya ingin kamu malam ini." Mrs "Gue uda bilang, gue bakal nidurin lo." RF "DUNIA INI MASIH PENUH DENGAN LAKI LAKI HEEYYY!!!" SS
