Bagian tanpa judul 3

11.3K 424 1
                                        


Pesanan sudah tersaji dimeja, dan Shinta siap memakannya. Tapi baru saja ia ingin menyendokkan kedalam mulutnya, suara handphone berbunyi lagi menandakan ada pesan masuk dari sahabat sekolahnya yang katanya ingin ketempat Shinta makan.

"Pak aku pesen satu lagi buat temen, nanti dia kesini."

"Baik neng."

"jangan kasih tahu Pak, aku gamau nanti kena omelannya dia."

"Ohh buat Neng Yasmin ya?"

"Iya pak, bapak tau kan seberapa ngegasnya dia kalo uda ngomong."

"Iya dia kalo uda ngomong gabisa berenti."

"Nanti aku bilangin sama orangnya bapak udah ngomong gitu."

"Neng Shinta juga tadi ngomongin dia."

"Hahaha."

Dalam hening, mereka sedang melakukan aktifitas masing masing. Shinta yang sedang menikmati ketopraknya, dan bapak pemilik ketoprak sedang membuat satu lagi untuk teman Shinta yang memang mereka sering datang kesini.

"Hallo Sayang, muachhhh," seseorang dengan tanpa tau permisi langsung mencium pipi kanan Shinta dan langsung duduk disampingnya.

Shinta yang biasa diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya hanya bisa diam.

"Pak, punya air putih yang bersih gak? Ini buat bersihin pipi." Kata Shinta.

"Kamu mah yaa, bukannya seneng dicium orang cantik." Cemberutnya.

"Menurut bapak gimana?" Tanya Shinta pada Bapat ketoprak, pak Murat.

"Lebih cantik Yasminnya Aladin sih neng."

"Hahaha."

Pak Murat dan Shinta selalu menggoda Yasmin jika mereka ada disini. Yasmin memang cantik, memiliki lesung pipi dan rambut dikuncir kuda yang membuat kesan imut dan dia tidak kalah cantiknya dari Yasmin yang ada dicerita Aladin.

Dibandingkan dengan teman yang lainnya, memang Yasmin selalu bersikap seperti itu jika dengan Shinta, menurutnya. Shinta adalah sosok yang perhatian dan pengertian dalam hal apapun, itulah yang membuat mereka dekat, meski terkadang sifat Shinta yang menyebalkan dan susah diatur.

Dan maklum juga Yasmin adalah anak satu satunya dari keluarganya, sifatnya sedikit manja.

"Tadi aku ketoko kamu, ehh taunnya udah tutup."

"Udah cepet dimakan, nanti gue nginep dirumah lo. Tante pasti gaada kan?"

"Hehe tauan aja sayangkuhhh."

"Najis."

"Jadi semuanya berapa pak?" Tanya Shinta yang sudah selesai terlebih dahulu makan ketopraknya.

"25.000 neng."

"Semuanya dibayarin sama Yasmin pak!"

"Lahhh?!!"


**


"Aku gatau bisa bertahan apa enggak kalau jadi kamu, aku salut sama kehidupan kamu yang bisa menjalani hidup sekeras ini. Sedangkan, apa apa aku selalu minta sama orang tua."

"Sebelum menjadi sekuat ini, gue pernah serapuh itu Yas."

"Terus kenapa kamu bisa menjadi seperti itu?" Kata Yasmin tidak enak, takut menyinggung pikirnya.

"Lesbi maksud lu?"

"He'em." Yasmin mengangguk cepat.

"Gue gak menjadi lesbi Yas, sudah sedari dulu gue lebih suka sama Cewek daripada sama Cowok. Dan dengan ketidaknormalan gue ini sudah cukup menyelamatkan gue."

"Maksudnya Sen?"

"Gue hidup seperti ini, dan jika gue mencintai laki laki, kemungkinan besar hidup gue jauh lebih hancur karena memikirkan perasaan. Setidaknya menjadi lesbi lebih baik buat gue, kan ga mikirin tentang kehamilan kalau gue melakukan hubungan Hahaha."

"Aku gak peduli tentang bagaimana masalalu kamu, tentang bagaimana orientasi kamu, aku bukan orang yang pandang bulu dalam menjalin persahabatan. Selagi kamu tidak pernah mengecewakan aku Sen."

"Makasih ya Yas, elu selalu ada buat gue. Beruntung gue punya sahabat seperti lo.. ayo masuk, uda bel tuh."

"Lu mau ngrasain gak Yas?"

"Ngrasain apa?"

"Bercinta sama gue," goda Shinta yang membuat bulu kuduk Yasmin merinding.

"SENJANI."

"HAHAHA."

Ya mereka adalah Shinta dan Yasmin. Shinta yang biasa dipanggil Senjani oleh Yasmin, menurutnya itu adalah panggilan sayang untuknya.

Menuju ruang kelas berjalan bergandengan yang memang biasa dilakuka oleh mereka berdua, sebelum pertanda bel masuk mereka menyempatkan diri mengobrol kecil seperti tadi. Karena belum tentu didalam kelas mereka bisa leluasa berbincang.


Dukk.

Aduhh.


Yasmin jatuh terduduk yang dengan sengaja bahunya ditabrak oleh seseorang yang baru saja berpapasan.

"Kalo jalan hati hati dong, pake tuh mata," maki seseorang yang menyenggol Yasmin tadi.

"Jalan tuh pake kaki," kata Yasmin tidak mau kalah.

"Nyolot juga lo, lo belum tau siapa gue hah?" Kata orang itu lagi yang bicaranya jadi sedikit meninggi.

"Udah jangan diladenin, ga ada yang sakit kan? Ayo masuk." Kata Shinta dan membantu Yasmin untuk bangun.

"Tapi Sen dia.."

"Yasmin!"

"Yaudah."

Yasmin dan Shinta tanpa memperdulikan gerutuan orang yang baru saja menabraknya dengan sengaja.

Sampai dikelas.

"Aku masih kesel banget sama dia tau gak Sen! Mentang mentang anak dari pemilik sekolah ini jadi seenaknya, bukan hanya aku yang jadi korban. Tapi perlakuan dia uda keterlaluan sama murid murid lain.

"Udah duduk, tuh gurunya dateng."

Jadi itu anak dari pemilik sekolah yang banyak dikagumi dari kalangan pria? Cih percuma saja kalau sikapnya semena-mena.

Tapi aku kok baru melihatnya ya? Apa karena aku yang tidak peduli tentang sekitar?

Cantik juga.

Ehh tapi mana pantas orang sepertiku berada disamping bidadari secantik kamu.

Lahh baru juga ngeliat tadi, serasa ingin memiliki.

Lemah amat gueee kalo liat orang cantik.

"Shinta!!! Kamu dengar apa kata saya?" Bentak wali kelasnya yang kebetualan adalah Rinrada yang sedang mengajar dikelasnya.

"So..sory Miss," kata Shinta menunduk tidak berani menatapnya.

"Bisa kita melanjutkan pelajaran?"

"Ya Miss."

"Ok Kita lanjutkan!"

"Kamu aku panggil dari tadi gak denger denger, lagi nglamunin apa sih?" Bisik Yasmin yang duduk di sampingnya.

"Berisik."

Shinta SenjaniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang