Bagian tanpa judul 12

5.5K 267 1
                                        


"Ahh sial banget sih pake hujan segala, tidak mengerti keadaan sama sekali", marahnya pada hujan. Memang malam ini sedang hujan, ucap gadis dewasa yang sedang didalam rumahnya yang sangat megah.

"Sepertinya aku harus menunda dulu misiku setelah hujan reda, aku sudah tidak sabar ingin menikmatinya," ucapnya lagi dengan memendang berbagai penjuru arah dibagian rumahnya. Seperti membayangkan sesuatu yang belum tentu.

"Sayang, kamu kapan mengenalkan calon kepada papa?" Ucap laki laki paruh baya pada puteri satu satunya, laki laki itu masih terlihat sangat gagah meski sudah dimakan usia.

Laki laki paruh baya yang tak lain adalah ayahnya, dia langsung duduk disamping putrinya.

"Iya pa, papa sabar aja nanti juga aku ngenalin ko," Ucap gadis itu yang tak lain adalah anaknya.

"Sudah berapa kali kamu bilang sabar? Tapi buktinya?"

"Tapi pa! Aku bebas pilih kan? Laki laki maupun perempuan tidak ada larangan kan pa?"

"Dengan satu syarat, jika sudah menikah kamu harus tinggal dirumah ini!"

"Siap komandan," memberi hormat seperti sedang berbicara dengan komandan.

Hujan sudah lumayan lama membasahi bumi, tapi disetiap rintiknya masih belum bisa membawa dia dipelataran rumah ini.

"pa, kalo hujan udah reda aku izin keluar sebentar ya?"

"Bareng mereka?"

"Iya pa."

"Yasudah, jangan pulang malam malam."

Yang dimaksud 'Mereka' adalah Anak buah dari pemilik rumah ini, ayahnya begitu menyayangi puteri satu satunya itu, karena sedari kecil dia tidak memiliki siapa siapa lagi selain putrinya. Istrinya meninggal sejak sang anak lahir.

Sang ayah memberi kebebasan pada putrinya, asalkan dia masih dibatas sadar mana yang benar dan mana yang salah. Ayahnya akan selalu mendukung.

Dengan pakaian yang serba hitam bersama kedua anak buahnya, tidak lupa pula memakai kacamata hitam dan topi hitam.

Tidak ada niatan untuk mengurungkan aksinya, dengan nekat mereka menerobos hujan yang padahal sedang deras derasnya ingin segera sampai pada tujuan yang waktu kemarin direncanakan. 'Shinta's Cake' adalah tujuan mereka.

Mereka adalah tiga orang yang pada waktu itu yang mengintai toko kue Shinta.

Ingin menjahati Shinta kah?

Kita lihat saja nanti apa yang akan mereka lakukan.


**


Di jam yang sama pada rumah yang berbeda.

"Dek! Temenmu yang waktu kemarin kesini siapa?" Ucap laki laki mewakili pembicaraan disela sela acara makan malam.

"Leta," ucap gadis yang sedang menyendok makanan kedalam mulutnya.

"Leta mah abang tau."

"Shinta."

"Iya kali, abang lupa."

"Iya itu namanya Shinta, dia yang nabrak aku waktu itu bang."

"Cantik ya dia."

Di kediaman rumah Alfin Prakarsa dan Wulan Florina, sepasang kekasih yang mempunya tiga anak, dua laki laki dan satu perempuan. Ikmal Prakarsa anak pertama. Tyo Prakarsa anak kedua, dan yang terakhir adalah Rize Florina.

Rize sangat berbeda jika sudah dirumahnya, terkesan yang sangat manja pada Ibunda dan ayahnya. Jika sudah disekolah, jangan tanya.

Mereka sedang menikmati makan malam yang sudah menjadi rutinitas bagi keluarga Alfin

"Yang menabrak kamu itu masih sekolah?" Kini Alfin bertanya pada putri bungsunya, memang Alfin tidak tahu menahu kejadian ketika anaknya ditabrak oleh seseorang, yang Alfin tahu Rize sudah sembuh.

"Dia sekolah disekolahan kita pa, mami emang gak cerita apa?"

"Cerita sih!"

"Kebiasaan papa mah."

"Lu kaya baru tau papa aja dek."

Disertai gemercik hujan yang membasahi pelataran dikediaman keluarga Alfin, keluarga yang sangat terpandang dan disegani.

Harmonis, sudah pasti. Siapa yang tidak iri melihat keluarga mereka yang selalu terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Rize yang hidupnya selalu dimanja oleh orang tua dan kedua kakaknya, apa apa tinggal minta mereka selalu menuruti keinginan putri bungsunya.


**


"Kebetulan tokonya belum tutup," gumam seorang gadis yang dibalik kemudinya.

"Apa tidak sebaiknya kita langsung kesana saja Non?"

"Kita tunggu pas dia menutup pintu toko, dan kalian langsung kesana. Sekalian menunggu hujan reda."

"Baik Non."

Ya mereka adalah kawanan kelompok yang pada waktu siang datang mengawasi toko Shinta, sekarang mereka kembali tepat pada jam tujuh malam. Meskipun masih hujan mereka tidak ada niatan untuk mengurungkan aksinya.

"Itu Non." Tunjuk laki laki yang berbadan kekar pada toko Shinta yang akan tutup.

"Lakukan!"

"Baik."

Kedua laki laki tersebut turun dari mobilnya, dan menjalankan atas perintah dari bosnya. Meski setengah hati mereka ada rasa tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, dia adalah bawahan dari ayah gadis yang sedang menyuruhnya.

Yang mereka pikirkan kenapa bosnya itu tega menculik seseorang, karena ini kali pertamanya mereka untuk menculik seseorang.

Dan kenapa bukan anak anak yang bos inginkan? Melainkan gadis dewasa yang sedang tumbuh tumbuhnya.

Si bos tersebut sedang melihat aksi mereka yang sedang melakukan misinya, dibalik mobilnya itu dia sedang melihat gerak gerik kedua anak buahnya itu.

Si bos sekarang turun dari mobilnya, menggunakan payung dan berjalan mendekati mereka.

"Bagaimana?"

"Nona bisa lihat wajahnya, apakah benar dia?" Ucap seorang laki laki yang berbadan kekar, dia berhasil melumpuhkan Shinta dengan menutup mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah dicampur oleh obat bius. Laki laki tersebut sedang memegangi Shinta yang masih dalam keadaan pingsan berdiri.

"Jadi anak ini merubah penampilan? ganteng juga dia," batin si bos.

"Iya ini benar dia, kamu cepat bawa dia dimobil, dan kamu cepat bawa motor dia," perintahnya.

"Baik Non," ucap mereka bersamaan.

Mereka masing masing sudah menjalankan tugasnya.

"Uhukkk."

"Sialan."

"Jadi begini rasanya rokok?"

Si bos tersebut mencoba coba sebat rokok yang kebetulan masih memancarkan bara api yang sudah tergeletak pada lantai, tapi sialnya. Dia batuk batuk dan langsung membuangnya.


Do you know who kidnapped Shinta?

Dia adalah Rinrada yang tak lain adalah wali kelasnya. Rinrada menaruh dendam pada Shinta yang sudah berani menolak keinginannya pada waktu itu, entah apa tujuannya sampai sampai dia berani melakukan aksi kriminal.

Pasalnya Rinrada terkenal wali kelas yang sangat sopan, canti, baik, dan selalu mengajari murid muridnya yang tidak mengerti. Dan dia adalah salah satu guru favori para murid.

Tapi ini diluar sekolah, dia melakukan sesuatu yang tidak terduga.


"Kamu miliku sayang."

Shinta SenjaniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang