Bagian tanpa judul 20

4.1K 186 2
                                        


"Sudah ada pandangan buat kuliah dimana Yasmin."

"Yang deket aja pa, biar irit ongkos."

"Kalau kamu, Shinta?"

"Kayaknya engga deh om."

"kenapa? Jangan mikirin masalah biaya, biar om sekalian masukin kamu ke jenjang berikutnya bareng Yasmin."

"Bukan itu om masalahnya, kayaknya Shinta pengen fokus usaha aja deh. Lagian kan di bandung masih ada lahan yang ga kepake."

"Shinta! Pendidikan itu nomor satu, kamu perempuan, kamu harus punya pengetahuan yang sangat luas untuk mengajar anak anak kamu kelak."

"Om, selama ini dan sampai sekarang terimakasih banget atas bantuan om sama Tante. Tapi Shinta mohon banget untuk yang satu ini, bukan Shinta menolak kebaikan om, tapi Shinta hanya ingin usaha, itu saja."

"Terus, rencananya kamu ingin punya usaha apa?"

"Nanti Shinta pikirkan setelah lulus sekolah."

"Tapi ingat ya nak? Disini masih ada Tante sama om yang selau ada untuk kamu, jangan sungkan sungkan kalau kamu meminta bantuan, kamu itu sudah menjadi kakak buat Yasmin."

"Iya Tante, makasih."

Shinta dan Ibunda Yasmin berpelukan untuk menyalurkan hasrat kekeluargaan. Shinta menangis bahagia karena mempunyai keluarga baru.

Disusul Yasmin yang ikut memeluk mereka berdua.

Tidak ada yang mengerti Shinta kecuali keluarga Yasmin, tidak ada yang setulus kecuali keluarga Yasmin.

Terkadang Shinta butuh tangan ibu untuk menghapus air matanya yang entah kapan saja bisa terjatuh, tapi itu tidak mungkin karena mengingat dirinya tidak punya siapa siapa kecuali keluarga Yasmin yang selalu ada untuk dirinya.

Shinta merasa sangat berhutang budi pada mereka, maka dari itu Shinta lebih memilih untuk mengembangkan usahanya daripada kuliah. Takdir tidak ada yang tahu, siapa tahu suatu saat keluarga Yasmin sedang merasakan kekurangan.

Shinta sudah berencana sejak dulu, setelah lulus sekolah nanti dia akan mengunjungi tempat dulu yang dimana penuh dengan kenangan bersama keluarganya, tempat ia di lahirkan dan di besarkan.

Entah apa yang ia ingin kelolah, itu hanya rencana saja dulu, entah kapan saja bisa jadi Shinta akan menjadi pengusaha yang benar benar nyata akan impiannya.

"Tante tau gak?"

"Apa tuh?"

"Yasmin kalo di sekolah pacaran melulu."

"Ngga ma ngga, ngarang aja kamu!!"

Tentu Yasmin sangat gelagapan ketika Shinta berbicara itu pada ibunya, pikirnya. Bagaimana jika hubungan itu terbongkar.

"Benar Yasmin?"

"Mama jangan percaya Shinta deh," sungut Yasmin.

"Marahin Tant marahin," profokator Shinta.

"Hahaha," bukan membela anaknya. Ibunya malah tertawa.

"Pah..Shinta tuh," adunya pada sang papa.

"Marahin Om marahin."

"Shinta jangan kaburrrr."

"Hahaha."

Stelah menggoda dan berhasil menjadi profokator Shinta kabur memasuki kamar Yasmin.

Tentu tidak asing lagi bagi orang tua Yasmin jika mereka sering berantem hanya karena hal sepele, itu yang membuat kesan keluarga sangat harmonis.

Dan mereka berantem bukan tentang hal yang serius, hanya sekedar candaan dalam kakak adikan.

Shinta SenjaniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang