10

2.9K 170 4
                                        

Wanita itu menatap lurus kearah kakaknya yang tengah memikirkan sesuatu.

"Aku melihatnya. Bahkan aku bertatap muka dengannya. Dia cantik, seperti ibunya."

Ucap wanita itu kepada seorang pria yang berstatus sebagai kakaknya.

"Dia memang cantik Lana, bahkan dia lebih dari kata Cantik"

Ucap Leonardo kepada adiknya, Lana. Leonardo melangkah menuju jendela sekedar melihat keadaan sekitar.

"Mom pasti akan menyesal. Seharusnya aku bisa menahan Mom waktu itu. seharusnya aku bisa"

Leo mengalihkan pandangannya kepada adiknya. dia tahu betul apa yang tengah dirasakan oleh adiknya. Tapi semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan selama ini.

"Kau tidak seharusnya menyalahkan dirimu. Semua ini salahku. Maka dari ini, aku harap kau bisa membantuku"

Lana menganggukkan kepalanya. Leo melangkah meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh Lana. Lana menyusul Leo dan membisikkan sesuatu.

"Kau pasti melihat semua kejadian di Aula tadi dan Sepertinya kau harus memperingati temanmu Leo"

Leo tersenyum miring. tentunya Leo tau apa yang harus dia lakukan. Setelah melihat kejadian didalam Aula tadi.

"Aku tau apa yang harus kulakukan, kau tidak perlu memberitahuku Lana"

Lana menggidikkan bahunya acuh dan melangkah mendahului Leo. ada perasaan hangat yang mengalir didalam dadanya. dan semua itu karena Candice.

******

JustinPOV*

Aku membuka pintu kamar dimana Ibu Candice dirawat, Candice melengsak masuk. Dia menggigit bibirnya sembari melangkah ke bangkar ibunya.

"Mom....."

Lirihnya, Ibunya yang kebetulan sudah sadar hanya mengukir sebuah senyum. Candice menggenggam kedua tangan ibunya kemudian dia menggerakkan tangannya berbicara dengan ibunya menggunakan bahasa isyarat. Jujur, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi aku rasa candice tengah menanyakan apa yang terjadi dengan ibunya. Setelah mereka berbincang bincang Candice menghampiriku.

"Mom ingin pulang sekarang, aku kebawah dulu sebentar untuk mengurus biaya Mom"

Aku menahan langkahnya. Dia mengerenyitkan kedua alisnya.

"Kau tidak perlu membayar biaya Rumah Sakit. Aku sudah membayar semuanya"

Bukan. Bukan aku yang membayar biaya rumah sakit ibumu Candice. Tapi dia.

"Hah? Berapa semua bia---"

"aku tidak ingin membicarakan masalah biaya. Yang penting ibumu baik baik saja, sebaiknya kita siap siap untuk membawa ibumu pulang"

Tidak ingin membantahku dia hanya menganggukkan kepalanya dan bersiap siap untuk membawa pulang ibunya. Aku merasakan sebuah kehangatan saat aku melihat candice dan ibunya. Gadis ini begitu mencintai ibunya. Aku membantu memanggil salah satu perawat agar membawakan kursi roda untuk ibu candice, setelah selesai. aku membantu mengangkat tubuh ibunya dan menempatkannya diatas kursi roda. Candice tersenyum kepadaku. Ada rasa gelenyar yang aneh di dadaku saat dia tersenyum padaku. Aku menggelengkan kepalaku dalam diam. Segera aku mendorong kursi roda ini dan menuju ke rumah Candice.

*****

CandicePOV*

Aku menutup pintu kamar ibuku, dia memintaku agar meninggalkannya karena dia ingin beristirahat. Sebenarnya aku ingin berbicara dengannya tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku menuju ruang tamu menghampiri Justin dia tengah berkutat dengan ponselnya. Aku memandangi wajahnya yang tampan itu, Aku merasakan getaran yang sedikit aneh saat aku memandangi wajahnya. Dia indah sekali.

TITANIUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang