Mobil Beau berhenti tepat didepan halaman rumahku, aku memperlihatkan sederet gigiku kepadanya.
"Terimakasih banyak brotha untuk hari ini, dan terimakasih untuk ice creamnya. i love you"
aku mencium pipinya, Beau hanya tersenyum kepadaku.
"Kau tidak perlu mengatakan kata Terimakasih honey, i love you more"
aku menyayanginya layaknya seorang adik menyayangi kakaknya. dan begitupun dengan dia.
"titipkan salamku kepada kedua adikmu, kapan kapan aku ingin mampir kerumahmu, bolehkan?"
aku membuka sabuk pengamanku dan aku mengambil tasku. kebetulan ini pukul 8:46 malam.
"Tentu saja boleh, mungkin kita bisa berpesta?"
aku memutar bola mataku.
"Aku ingin bertemu dengan keluargamu bukan berpesta, bodoh"
Beau tertawa mendengar ucapanku. terkadang dia sedikit gila.
"Aku tau, aku bercanda. perlu aku antar kedalam?"
tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku. dan dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekali lagi terimakasih, hati hati di jalan. Good Night"
aku memperingatkan dia agar hati hati dalam membawa mobil, asal kalian tau dia jarang sekali membawa mobil dengan kecepatan rata rata dia selalu membawa mobil dengan kecepatan diatas rata rata.
"I will, Night too"
aku membuka pintu mobilnya dan keluar. Aku melambaikan tanganku kepadanya, Beau pun pergi dari hadapanku. aku melangkah menuju rumahku. Baru beberapa detik aku melangkah aku mendengar suara seseorang dibelakangku.
"Bersenang senang eh?"
aku membalikan badanku, aku melihat Justin berdiri dibelakangku. Aku menghembuskan nafasku dengan berat.
"Mau apa kau kesini?"
dia melangkah kearahku.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik baik saja, yang aku tau kekasihku baru saja bersenang senang dengan pria lain"
Aku mencium bau bau cemburu disini.
"Duh bieber, dia itu bukan orang lain. Dia itu sahabatku. Aku sarankan kau pergi dari sini sekarang"
aku mengusirnya secara terang terangan, entah kenapa emosiku mudah tersulut sekarang jika aku berhadapan langsung dengan keparat satu ini, semua ini karena sikapnya yang kurang ajar kepadaku.
"Seorang sahabat? aku baru tau ada sepasang sahabat yang berciuman didepan kekasih salah satu sahabat itu"
Aku tertawa mendengar ucapannya. Aku mendekatkan tubuhku kearahnya, aku melingkarkan satu lenganku dilehernya. dan aku membelai wajahnya menggunakan tanganku yang satunya lagi.
"Dengar yah, aku bisa melakukan semua yang aku inginkan. semua itu hakku, dan kau tidak bisa melarangnya. jika kau mengatakan aku berciuman dengan sahabatku didepanmu, lalu bagaimana dengan kau? kalau aku tidak salah liat, kau berciuman dengan Elina didepan kelasku. you look so cute when you together with her. ah ya satu lagi, aku tau kau ini kekasihku, tapi sayangnya aku tidak mencintaimu, kau yang memaksaku untuk menjadi kekasihmu.dan aku tidak ingin mempunyai kekasih yang kasar dan bermulut tidak santun sepertimu. Beau is better than you."
aku mencium bibirnya sekilas, dia telah memanggilku seorang jalang so don't blame me if i act like a bitch.
"Don't act like a bitch Candice"
KAMU SEDANG MEMBACA
TITANIUM
FanfictionAku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, tidak pernah. - Candice Swanepoel Di Caprio Aku akan membuat kau merasakan sakit yang aku rasakan candice. - Justin Drew Bieber
