12

2.7K 186 1
                                        

Sudah hampir satu minggu dia menutup dirinya, belum mau berbicara dengan siapapun bahkan dengan kekasihnya sendiri dia tidak mau berbicara. Aku memandanginya yang tengah menatap kosong keluar jendela. Terpampang jelas disana dia masih berkabung sampai sekarang. Bukan hanya Candice yang kehilangan Kendall tapi kami semua. Luke juga terpukul tetapi dia tidak separah candice, luke masih mau berinterkasi dengan kami.

"Sampai kapan dia akan terus begitu?"

Aku menggelengkan kepalaku. Sudah beberapa kali aku mencoba berbicara dengannya tapi dia selalu mengabaikanku. Aku melihat dia berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi. Yatuhan, aku merindukan Candice yang sebelumnya. Kumohon, kembalikan dia.

"Beau, jangan terlalu dipikirkan. Dia akan kembali seperti semula. Dia butuh waktu yang lebih. Percayalah"

Aku hanya menganggukkan kepalaku.

******

CandicePOV*

Aku melangkahkan kakiku menuju Toilet sekedar membuang air kecil. Langkahku terhenti saat aku mendengar percakapan dua orang didalam Toilet wanita ini.

"Aku Mencintaimu"

Ucap seorang gadis, aku seperti mengenali suara itu. Aku mengintip sedikit dan aku membelakakkan mataku. Kedua orang itu berciuman. Justin dan Elina. Kenapa aku merasakan sesak? Tidak tidak. Jangan bilang aku mulai mencintainya. Tidak boleh. Aku menggigit bibirku dan melangkah pergi menuju kantin. Aku berjalan menuju tempat favoriteku selama seminggu terakhir ini. Kursi yang kosong dan berada dipojokan. Aku menghempaskan bokongku dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, entah kenapa perasaan sedih ini semakin bertambah. Kendall, seharusnya kau disini mendengarkan ceritaku. Aku merindukanmu sungguh, aku belum bisa melupakanmu Ken. Aku merindukanmu saat kau memanggilku dengan sebutan candy, hanya kau yang memanggilku dengan sebutan itu. Apakah kau mendengarku kendall? Aku dapat merasakan air mata sialan ini keluar lagi dari mataku. Yatuhan........ Haruskah aku mengundurkan diri dari kampus ini? Bukan apa apa hanya saja aku lebih baik mengurus ibuku keuangan kami menipis, Tak ada kendall dan ditambah aku benci kepada si bieber itu. Aku ingin menjauh darinya, Tuhan kenapa hidupku sial?

"Candy"

Aku tersentak saat aku mendengar suara seseorang yang memanggilku dengan sebutan candy. Bukan suara kendall. Tapi orang ini berhasil menarik perhatianku, aku menurunkan telapak tanganku dan aku dapat melihat seorang gadis yang cantik tengah duduk didepanku. Rosie Huntington, setauku itu namanya.

"Aku turut berduka cita atas kepergian Kendall, tapi tidak baik jika kau terlalu larut dalam kesedihan Kendall pasti membencimu jika kau terus terusan seperti ini. Maafkan aku jika aku lancang"

Ucapannya seakan menamparku, memang benar apa yang dikatakannya, aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan dan betul, Kendall pasti akan marah dan membenciku jika aku terus menerus bersedih.

"Maafkan aku Candy jika aku lancang, aku hanya tidak ingin kau bersedih"

"Ucapanmu benar, Terimakasih Rosie. Ngomong ngomong ada apa kau kesini?"

"Aku ingin menemanimu, tidak boleh yah?"

Tanyanya polos. Kenapa sikap dia mirip dengan Kendall? Kadang tegas kadang polos.

"Tentu saja boleh, kau boleh menemaniku"

"Sejujurnya tidak hanya menemanimu, aku juga ingin berteman denganmu Candy"

Aku tersenyum kepadanya dan mengangguk. Aku harus membuka lembaran baru.

"Teman teman kemari!"

Tiba tiba dia berteriak kearah gadis gadis yang ternyata sedari tadi tengah memperhatikan aku dan rosie. Mereka berlari kecil kemejaku. Yaampun.

"Maksudku, kami ingin berteman denganmu"

TITANIUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang