14

3.1K 200 6
                                        

"Aku akan sangat sangat merindukanmu mom, aku mencintaimu. Selamat tinggal"

Aku mencium batu nisan ibuku dan meletakkan sebuket bunga diatas makamnya. Ibuku sudah dimakamkan. Dia sudah pergi, dia sudah tenang disana. Aku akan sangat merindukan dirinya. Aku memejamkan mataku mencoba merelakan kepergiannya. Ini akan sangat sulit.

"Perlahan lahan kau akan bisa merima semua ini. Aku tak akan membiarkanmu larut dalam kesedihan untuk kedua kalinya setelah kepergian Kendall"

Dia menggenggam tanganku. Justin. Aku mengulas senyumku, Hanya aku dan dia disini, semuanya sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu.

"Elina akan marah padamu Justin, dari kemarin kau terus menemaniku"

Dia menghembuskan nafasnya dengan tajam. Aku hanya mengingatkannya saja.

"Kita akan membicarakan hal ini nanti, setelah kita sampai dirumahmu ok?"

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sekali lagi aku menatap Batu Nisan ibuku. Dan aku bangkit dan mulai melangkah pergi dari tempat ini. Justin mencium keningku sejenak. Kami memasuki mobil Justin dan pergi dari pemakaman ini.

"Apa kau yakin untuk bertemu ayahmu dan bibimu sekarang untuk membicarakan semuanya?"

Ayah. Leonardo Di Caprio. Dan Lana Di Caprio. Aku tidak percaya akan hal ini bahwa mereka adalah ayah dan bibiku, Yatuhan. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan aku mengeluarkan amplop putih yang berada didalam saku mantelku. Terakhir kali ibu bilang aku baru boleh membuka amplop ini hari ini. Aku penasaran, aku akan membukanya nanti setelah berbicara dengan mereka. Tanpa kusadari aku dan Justin sudah sampai di rumahku. Aku dapat melihat Audi yang mewah terparkir didepan rumahku, Audi Dicaprio, aku membuka pintu mobil Justin dan kami berjalan kedalam rumahku, Ayah dan Tanteku tengah duduk di ruang tengah. Aku dapat melihat kesedihan di wajah mereka, terutama Ayahku. Aku langsung duduk ditemani Justin.

"Jelaskan"

Tukasku to the point. Ayahku berdehem dan mulai berbicara.

"Semua ini terjadi karena ibuku, Nenekmu. Dia tidak merestui pernikahan kami, aku dan ibumu. Dia selalu mencoba memisahkan kami, hingga akhirnya ibumu hamil dan nenekmu mencoba membunuh ibumu dan kau"

Dia menarik nafasnya tajam. Aku mencoba untuk tetap tenang.

"Hingga akhirnya ibumu memilih untuk membuat rencana. Rencana yang benar benar gila. Dia menginginkanku melepaskannya untuk sementara. Awalnya aku tidak setuju, tapi dia terus memohon mohon kepadaku dan mengingat nenekmu yang benar benar keterlaluan aku akhirnya mengiyakan keinginannya. Ini terpaksa, karena ibumu dan kau terancam. Kami akhirnya memutuskan untuk pura pura bercerai didepan nenekmu, hingga akhirnya Ibumu diusir"

Sial. Nenekku?

"Aku kira Meilissa akan menetap di NY. Ternyata dia pergi, pergi entah kemana. Dia meninggalkanku. Aku tidak bisa menemukan kalian. Aku rasa nenekmu yang membuatku susah menemukan kalian"

Yatuhan, mommy....

"Aku tidak pernah menyerah untuk menemukan kalian. Hingga akhirnya aku menemukan kalian. Disini. "

Aku langsung membuka amplop putih yang sedari tadi aku genggam.

Untuk putriku yang aku cintai, selalu. Candice Swanepoel Di Caprio. Kau pasti bingung kenapa ada nama Di Caprio dibelakang namamu, sepertinya ayahmu sudah menjelaskan semuanya.

Maaf. Maaf. Maafkan ibumu Candice karena ibu telah berbohong kepadamu, ini semua untuk kebaikan dan kesalematanmu sayang. Jangan salahkan ayahmu, jangan. Ini bukan salahnya. Ini adalah Takdir dan kau harus menerima Ayahmu, jangan tolak dia.

TITANIUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang