Beberapa hari berlalu damai. Sudah hampir satu minggu ini tak ada kebisingan yang mengganggu ketenangan hidup Lina. Seolah tak pernah ada masalah yang tengah menimpa dirinya selama ini.
Apakah ini akhirnya? Happy ending-kah yang Lina peroleh setelah semua yang ia lalui selama ini?
Meski tak perlu lagi mengharapkan keluarganya bersatu, yang penting kesalahpahaman dalam hatinya sudah terselesaikan. Kebahagiaannya cukup sesederhana ini. Memperoleh ketenangan, tanpa ada usikan dari orang lain.
"Jadi, ini ceritanya kita lagi double date?" Salah seorang dari empat remaja yang tengah duduk santai di sebuah restoran yang cukup mewah berkomentar tak suka.
"Enggak kok." Dua remaja yang duduk bersimpangan lainnya menjawab yakin seraya geleng-geleng menyangkal.
"Terus ngapain lo berdua tiba-tiba ada di sini? Mau bantu nyuci piring? Nggak mungkin kan?" tanya Dhyas lagi. Nada bicaranya menghakimi.
Ya. Empat remaja tersebut tak lain adalah Dhyas, Adlan, Lina dan Nisa. Sudah pasti tahu kan siapa yang dihakimi oleh cowok bertampang ganteng nan sangar itu?
"Tau tuh, tanya aja sama si Adlan!" Nisa membalas acuh. Kalau tau dia ngajakin gue jalan cuma perlu ngintilin saudara tercintanya, mana mau gue ngikut? Ahh, si Adlan sialan. Bikin gue berharap lebih kan tadinya. Pertama kalinya gitu loh dia ngajak jalan berdua aja. Eh, ujung-ujungnya begini. Huft. Kezzel...
Nisa pun memasang wajah masam.
"Emm... Gue sama Nisa kebetulan aja kok lewat sini pas lagi laper. Emang salah?" jawab Adlan akhirnya.
"Salah dong. Salah banget." Dhyas pun ngegas. "Lagian ya, gue nggak percaya ini cuma kebetulan, lo pasti nyetalkerin gue sama Lina kan? Ngaku lo!"
"Dhyas, nggak boleh nuduh sembarangan! Siapa tau Bang Nando sama Nisa emang lagi nyari makan." Lina ikut membuka suara. Suara yang lembut dan tidak seperti biasanya. Akhir-akhir ini, Lina jadi cewek yang lebih jinak. Jarang marah-marah, apalagi bersikap jutek pada Dhyas.
Inikah kekuatan cinta? *lebay!!!
"Lina sayang, sejak kapan kamu jadi sepolos ini?"
Lina nyengir, sementara Dhyas hanya bisa menopang pipi seraya memasang wajah masam.
Situasi macam apa ini?
Tapi daripada itu ada yang lebih penting. Adlan tiba-tiba memanggil untuk memotong bahasan, lalu menorehkan senyuman hangat sebelum mulai menyela dan berbicara, "Oh ya, Lin. Mumpung ketemu di sini Bang Nando sekalian mau bilang kalau Bang Nando sama Papa sekarang udah bebas dari jeratan kakek Aldino."
"Maksud Bang Nando?" Lina bertanya-tanya tak yakin. Sementara Adlan hanya mengangguk mantap mengisyaratkan maksudnya. Ia yakin Lina sudah mengerti.
Dhyas dan Nisa yang juga mendengar hal tersebut pun setengah terkejut. "Jadi?"
"Iya. Papa udah urus perceraiannya sama tante Aluka," jawab Adlan. "Kita juga udah pindah dari rumah mewah itu. Jadi cuma tinggal nunggu semuanya beres aja, dan mungkin..." Adlan menjeda ucapannya, ia menoleh pada saudara kembarnya yang tengah melongo.
"Dan mungkin, keluarga lo sama Lina bisa bersatu lagi?" Dhyas melanjutkan dengan kata tanya. Sedang Adlan dan Lina hanya saling menumbuk mata ragu-ragu.
***
Dentang waktu terus berjalan, hari yang dinanti-nantikan akhirnya datang jua. Setelah sekian lama mengumpulkan bukti-bukti kebusukan seorang pria tua perusak hidupnya, Ferdinan akhirnya bisa melumpuhkan segala kelemahan yang dimilikinya. Hingga hal memalukan yang Aldino sembunyikan sekalipun, kini terkuak sudah. Kali ini, pria tua itu takkan bisa lagi berkutik. Sungguh pengaturan waktu yang begitu sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twin'kle Love
Teen FictionGue nggak mau jatuh cinta. Gue nggak suka cowok dan gue muak dengan semua orang. Derita gue, adalah bukti atas keserakahan manusia akan harta dan cinta. ~Adlina Lucia Fernanda *** *** Di usahakan Up seminggu sekali, kalo bisa dan mood bagus pasti b...
