Ana merebahkan badannya yang terasa remuk itu. Meluruskan otot-ototnya yang menegang. Sedari malam hingga sekarang, ia belum sama sekali istirahat. Hanya ada waktu dua jam untuk kembali merilekskan otaknya, tubuhnya dan juga hatinya. Hari ini, Ana benar-benar sudah kehabisan tenaga, di tambah tentang perasaannya yang cemburu tak berfaedah itu.
Cemburu pada adik sepupu gusnya sendiri? Konyol sekali!.
Gadis itu masih nyaman dalam posisinya. Pikirannya masih menerawang jauh. Ia mengingat seseorang yang selama ini telah menghuni jiwanya. Gadis itu tersenyum sekilas.
'Ah... Lama-lama aku bisa gila jika seperti ini terus'
Dulu, saat ia masih duduk di bangku sekolah tsanawiyah, ia pernah berjanji untuk tidak menyukai seorang lelaki yang umurnya sangat jauh dari nya. Menurutnya, itu hal yang sangat lucu. Punya pacar om-om? No way!
Tapi sekarang, gadis itu malah berbalik dengan segalah pikiran konyolnya. Justru sekarang, Ana malah jatuh hati pada pria yang-memang jauh sari umurnya itu. Tidak, Ana baru menyadarinya sekarang. Ternyata jatuh cinta tidak memandang usia, prilaku, atau wajah dingin sekalipun. Ana malah menyukai semua pribadi pria itu, dan anehnya, Ana memang benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya. Meski ia sadar, perasaan ini belum halal baginya. Perasaan yang tumbuh tanpa ada hal yang sakral. Janji suci yang terucap dari bibir pria itu. Namun, Ana hanya bisa berharap jika perasaannya ini akan menjadi halal kelak.
Cinta memang fitrah dari Allah. Tapi salah aku jika mencintai makhluknya terlalu dalam? Hingga aku luput dari segala hal yang dilarang olehnya? Ana... Jelas itu hal yang salah. Allah memang memfitrahkan sebuah perasaan pada makhluknya. Tetapi, tidak untuk lalai dari cinta kepada-Nya. Sisi otak gadis itu saling mendebat.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Yang artinya setengah jam lagi ia harus berangkat diniyah. Gadis itu bangkit dari rebahan, menggelar sajadah, lalu mengambil air wudhu.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban, Ana kembali membuka buku sejarah, yang ia dapat kemaren dari Faris. Buku itu belum ia buka sejak semalam. Jari lentiknya mulai mengebet lembar demi lembar buku tebal itu. Di lembar selanjutnya, Ana menemukan sebuah amplop, bukan amplop untuk surat cinta memang, seperti yang Ana dapat dari Rafiq atau Ghiffar. Melainkan ini adalah sebuah amplop yang persis untuk kondangan, berwarna putih dan sisi-sisinya di lengkapi dengan warna merah dan biru, persis seperti bendera.
Gadis itu mengerutkan alisnya. 'Amplop apa ini? Apa Gus Faris berencana akan datang kepernikahan, lalu ia malah menaruhnya disini? Ah, aku cek saja. Nanti akan aku berikan padanya setelah jam pelajaran usai' pikir Ana.
Jari lentiknya mulai membuka amplop itu, tapi ternyata, bukan berisi uang. Malah sebuah kertas buku yang pria itu ambil dari tengah-tengah. Ana semakin menatap bingung. Tak mau semakin penasaran, akhirnya gadis itu tertarik untuk membacanya.
Secara bahasa ishraf berasal dari kata sarafa, yasrafu, israfa yang artinya memboroskan, membuang-buang, melampaui batas atau berlebih-lebihan. Secara istilah adalah melakukan sesuatu perbuatan yang melampaui batas atau ukuran yang sebenarnya.
Ishraf adalah perbuatan yang tidak di senangi oleh Allah karena perbuatan ini merupakan bagian dari bentuk tidak mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh Allah Ta'ala.
Seperti contoh:
1. Menambah-nambah di atas kadar kemampuan, dan berlebihan dalam hal makan, karena makan yang terlalu kenyang dapat menimbulkan hal yang negatif dan struktur tubuh manusia.
2. Bermewah-mewah dalam makan, dan lain-lain artinya dalam memakan atau meminum sesuatu tidak boleh memperturutkan hawa nafsu, sehingga semua yang di inginkan rersedia.
3. Menumpuk-numpuk harta atau sesuatu hal yang tidak terlalu di butuhkan oleh kita atau maupun oleh masyaratkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gus Killer
Romance[Siquel dari Pacar Halal, tapi kalian bisa bacanya secara terpisah] "Dasar pria tua menyebalkan! beraninya dia menciumku di pinggir jalan yang begitu ramai. Aku tidak terima ini! Akan ku laporkan kamu pada Abi dan Umiku!". Seorang Gus yang sangat...
