18. Parfum Aromatherapy

14K 853 59
                                        

  Sinar pagi menyapa ramah, matahari seakan tersenyum begitu menawan, sinarnya yang kuning cerah itu seakan menyampaikan kabar kebahagiaan. Maka seisi bumi ikut berada dalam kebahagiaan itu. Matahari adalah salah satu benda langit yang sangat di tunggu oleh semua insan. Menantikan sinar hangatnya yang menerpa kulit setiap manusia. Namun kali ini tak ada angin yang bersemilir merdu, menerpa benda-benda alam yang telah Allah ciptakan.

  Semesta alam yang begitu sempurnanya Allah ciptakan, lalu, tegakah kita merusak ciptaan Allah itu? Ah... Hanya orang-orang jahil saja yang tega melakukan itu tanpa pernah memikirkan akibat yang akan menimpa.

  Jika Allah telah memberikan berlimpah kasih sayangnya pada kita, lantas mengapa kita tak pernah bisa membalas-Nya dengan bersyukur?

  Padahal dengan mengucap Hamdalah saja sudah mengungkapkan rasa syukur kita pada-Nya. Manusia memang selalu tak ada puasnya. Makhluk Allah yang tak ada terimakasih nya sama sekali. Jika Allah sudah memberi nikmat yang berlimpah, kita malah akan semakin lalai. Apalagi jika sudah mengenai harta?! 

  Mengucapkan Alhamdulillah itu gratis hey! Tanpa di pungut biaya apapun? Lalu, mengapa kita malah enggan untuk sekedar memgucapkan?

  Ana yang sedang mendengarkan ceramah dari radio kecil miliknya, merasa seperti di sambar petir di pagi yang cerah ini. Ia merasa termasuk pada manusia yang lalai akan rasa syukur. Selalu merasa kurang atas apa yang di berikan Allah padanya. Ana sadar betapa Allah sangat baik pada dirinya dan makhluknya. Apalagi sekarang gadis itu masih di beri kesehatan jasmani dan rohani tanpa ada kekurangan sedikitpun. Masih bisa bernapas dengan gratis. Ia berpikir orang-orang di luaran sana yang sakit sampai harus di rawat, memerlukan oksigen untuk membantu ia bertahan hidup. Bukankah hal itu memerlukan biaya yang tak murah?

  Sekarang gadis itu hanya bisa merenung, menyadari kelalaiannya. Sungguh Ana merasa menjadi makhluk yang sangat sombong sekarang. Di depan Penciptanya, Ana bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang makhluk yang hina dan tak tahu terimakasih.

Na'udhubillah...

"Ana. Kamu disuru ngajarin pidato bahasa arab tuh sama Gus Faris" Savirah yang entah dari mana asalnya, mampu membuyarkan lamunan Ana. Gadis itu spontan langsung merespons saat nama Faris di sebut.

"Gus Faris? Nyuruh aku ngajarin pidato?" Ana mengulangi lagi. Ia merasa tak percaya dengan puturan sahabatnya tadi.

"Iyah, Ana". Jawabnga pendek.

  Ana membenarkan posisi duduknya. Ia kembali menatap Savirah intens.

"Yang bener kamu?".

Savirah memutar bola matanya. "Udah sana! Di tungguin Gus Faris di aula".

  Gadis itu masih tak percaya. Sumpah demi apa? Gus Faris menyuruhnya untuk mengajar pidato? Allah... Apa yang harus ku lakukan nanti? Di aula pasti akan banyak anak-anak latihan untuk acara akhirusanah. Aku tak yakin akan bersikap biasa saja. Bukan dia, tapi bagaimana dengan ku?

  Jangankan nanti, sekarang saja jantungku sudah berhianat. Gus Faris... Mengapa kamu suka sekali membuatku  jantungan? Aku tak mau cepat-cepat mati karna hal konyol seperti ini.

  Oh Allah... Aku ingin Engkau menghukumnya karna telah membuatku sakit jantung.

"Malah bengong lagi" Ana masih memegangi dadanya yang seperti di pukul keras-kerasa dari dalam.

"Ngajarin kelas berapa?" Ana memakai kerudung instannya. Lalu sedikit mengoles parfum yang asal ia cemot dari atas lemarinya. Savirah malah tertawa.

  Melihat Savirah yang tiba-tiba tertawa gak jelas, Ana mengerutkan alisnya. Menatap bingung.

"Kelas dua tsanawi" Savirah masih tertawa.

Gus KillerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang