Faris semakin gusar dengan perasaannya, pria itu semakin tersiksa sudah tiga minggu ini ia tak mendengar kabar Ana selanjutnya. Apa kah gadis itu sudah sembuh atau belum Faris tak tahu sama sekali.
Dan anehnya, setiap ia bertemu dengan Savirah dan Hani mereka malah menghindar. Terlihat dari cara mereka melihat Faris seperti ketakutan dan gemetar, yang Faris sendiri tak mengerti apa penyebabnya. Pria itu ingin bertanya tentang keadaan Ana. Ia ingin tahu lebih jelasnya lagi.
Kalo di hitung-hitung, sudah satu bulan ini semenjak Faris pulang dari umroh Ana sakit. Sebenarnya apa yang telah Savirah dan Hani sembunyikan darinya? Jika memang keadaan Ana demikian, mengapa kedua sahabatnya sangat enggan untuk menatap Faris. Bahkan baru bertemu Faris masih dalam sepuluh meter saja mereka langsung pergi. Ulah mereka semakin membuat pria itu menaruh curiga.
Rasa penasaran pria itu sudah semakin memuncak, dongkol hingga sampai ke ubun-ubun.
Apa lagi mengingat acara kelulusan kelas enam hampir di depan mata, dan Ana, sampai detik ini tak ada kabarnya sama sekali.
Tak mau semakin di landa penasaran, pria itu kembali memanggil Savirah dan Hani, ia akan meminta penjelasan sore ini juga tentang Ana bagaimana pun caranya.
Kini, pria itu sudah berada di kantor diniyah, menunggu Savirah dan Hani disana. Tidak mungkin kan jika menyuruh mereka datang ke ndalem, lagi pula ini adalah masalah pribadinya, tak enak jika sampai Umi dan Abahnya tahu.
"Assalamualaikum" suara Hani dari ujung pintu yang sengaja Faris buka, gadis itu berdiri disana, di temani pula dengan Savirah.
"Wa'alaikumussalam, masuk" suaranya yang dingin membuat kedua gadis itu merinding. Savirah dan Hani bahkan terlihat ragu untuk melangkan kaki, sungguh, mereka tak bisa lagi menyembunyikan rasa takutnya itu.
Tatapan pria itu tajam, rahangnya tegas, bahkan auranya semakin dingin sekali. Ekspresi dinginnya yang dulu kembali muncul dalam sekejap. Kedua gadis itu benar-benar tak berani menatap wajah itu. Langkah keduanya gemetar di sertai dada yang berdetak tak karuan, keringat dingin pun bercucuran hingga merembas ke jilbabnya.
Langkah pelan kedua gadis itu akhirnya sampai juga di mana Faris duduk. Savirah dan Hani masih menunduk dalam tak ada minat sama sekali untuk menatap wajah orang didepannya. Karena sekarang yang mereka lihat seperti bukanlah gusnya, wajah itu terlalu seram untuk dilihat. Tak ada senyum disana, tak ada tatapan manis disana, tatapannya sangat menusuk dan bagi siapapun yang melihatnya, tak akan pernah lepas dari tatapan curam itu.
Faris membenarkan posisi duduknya, lalu pria itu berdeham.
"Pasti kalian tahu bukan apa maksud saya memanggil kalian sekarang?" suara baritonnya sangat terdengar mengerikan di indera pendengaran lawan bicaranya.
Kepala kedua gadis itu mengangguk ragu "kami tahu, Gus" jawab Savirah lemah, bibir gadis itu bergetar. Kedua tangannya masih berkeringat dingin.
"Savirah, katakan yang sujujurnya di mana Ana sebenarnya?" lagi, suara itu membuat telinga Savirah tertusuk benda yang tajam. Gadis itu semakin bergetar hebat. Inilah yang paling ia takutkan dari dulu jika gusnya pasti akan menanyakan hal ini.
Gadis itu masih diam. Dia masih mengumpulkan nyalinya untuk bicara. Tapi anehnya, mulutnya semakin kelu untuk bicara. Tenggorokannya terasa berat dan terhambat.
"Jawab, Savirah. Saya bertanya pada mu. Kemana Ana? Tidak mungkin Ana sakit selama ini. Jika memang dia sakit, lalu kenapa kalian malah menghindar jika bertemu saya?!" Faris benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi, ia sudah marah sekarang. Hatinya dongkol setengah mati di tambah dengan sikap Savirah yang masih diam tak merespons.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gus Killer
Romance[Siquel dari Pacar Halal, tapi kalian bisa bacanya secara terpisah] "Dasar pria tua menyebalkan! beraninya dia menciumku di pinggir jalan yang begitu ramai. Aku tidak terima ini! Akan ku laporkan kamu pada Abi dan Umiku!". Seorang Gus yang sangat...
