Sabiya dan Kesabaran Fikri

3K 441 35
                                        

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

•••

"Satu yang selalu terlintas di pikiranku saat diri mulai menyerah menghadapi segala cobaan, "Allah telah menyusun skenario-Nya dengan sangat apik. Lantas, pantaskah jika kita masih memprotes takdir?""

-Risalah Rasa-

•••

Dari tempatnya duduk, Fikri bisa melihat Sabiya yang melangkah ke arahnya. Dalam hati, terbesit rasa iba melihat Sabiya. Tumbuh dengan kasih sayang yang rumpang dan sakit yang dideritanya, tidak membuatnya patah semangat. Meski dia tahu, diam-diam Sabiya kerap menangisi takdirnya, ataupun terdiam diri meski tak ada air mata yang ikut andil tapi dia tahu bahwa Sabiya sedang dalam sedihnya.

Tidak banyak yang tahu, perihal beban yang telah lama dipikul oleh pundak kecilnya. Tidak ada yang tahu, perihal kesedihan yang selama ini menguras air matanya. Karena orang lain hanya bisa melihat dan menilai apa yang terlihat dari luar. Tidak pernah sekalipun menilik pada hatinya yang ternyata rapuh.

Satu yang membuat Fikri kagum. Bahwa Sabiya bisa seapik itu menutupi lukanya. Tersenyum kepada semesta dan berucap kepada takdir, bahwa dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan meski kenyataannya hatinya mulai remuk.

"Yeee....., makan!" seru Sabiya sembari menarik kursi yang ada di hadapan Fikri. Gadis berusia tujuh belas tahun itu, dengan semangat menyuapkan ramen pesanannya tadi kepada Fikri sebelum pergi ke toilet.

"Pelan-pelan, kamu pasti lupa baca bismillah."

Sabiya menepuk jidat nya, "o, iya. Aku lupa. Hehe..., abisnya udah laper banget." cengirnya.

Dengan segera Sabiya mengucap doa, "Bismillaah awwalahu wa aakhirohu".
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”." (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih).

"Abis ini kita pulang, ya!"

"Gak mau!" tolak Sabiya.

"Ini udah mau sore, Bi. Kamu juga tadi gak izin kan sama ayahmu?"

"Biarin aja. Toh, ayah juga jarang di rumah. Lagian aku masih pengen belanja lagi."

Fikri hanya bisa melongo. Barang segini banyaknya masih kurang? Saat ini Sabiya benar-benar jauh berbeda dari kepribadian aslinya. Untungnya saja, tadi saat Sabiya ke toilet, Fikri telah mengambil dompet Sabiya di dalam tas selempang gadis itu yang untungnya tidak Sabiya bawa sehingga Fikri bisa melancarkan aksinya. Karena jika tidak seperti itu, Fikri yakin jika semua isi tabungan gadis itu bisa ludes bersih.

"Emangnya kamu masih ada duit?"

"Masih, lah!" jawab Sabiya dengan jumawa.

"Coba, mana aku liat?"

Dengan mulut yang penuh dengan makanan, Sabiya membuka tas selempangnya. Tidak lama, kening gadis itu berkerut, bertepatan dengan kikikan dari pria yang ada di depannya.

"Ko, dompetku gak ada?" tanya Sabiya bingung.

Fikri berdehem guna menormalkan suaranya. "Ha? Masa? Kamu kali nyarinya gak teliti. Coba cek lagi!"

Risalah Rasa [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang