بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
•••
"Aku merindukanmu seperti asa yang tidak pernah padam. Aku merindukanmu selaras dengan doa yang selalu melangit setiap ku seru. Tapi, apa daya jika Allah masih belum menghendaki. Aku hanya bisa memendam, meski hati mulai melebam."
-Risalah Rasa-
•••
Ka Biya mania
Hanya rapalan istighfar yang terucap dari bibir Rendra saat membaca pesan singkat dari anak bungsunya. Ada sedikit sesal karena telah menonaktifkan gawainya sedari pagi. Jika tahu akan ada informasi macam ini, dia tidak akan pernah menonaktifkannya. Namun apa daya, penyesalan memang selalu sepemalu itu jika harus datang di awal.
Mata yang telah sayu karena kurang istirahat itu melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah larut malam, bahkan menjelang pagi. Memang sudah seharusnya dia pulang. Kembali pada kedua mutiara hatinya, dua-duanya orang terpenting yang dia miliki selain Marwah.
Bukannya tidak peka atau egois. Rendra tahu bahwa perbuatannya selama ini salah, mengabaikan kedua anaknya yang masih membutuhkan perhatian penuh. Tapi hatinya berkata lain yang bertentangan dengan logikanya. Dan pada akhirnya, lagi dan lagi selalu hatilah pemenangnya. Seakan logika hanya ada untuk pelengkap.
Dengan sedikit tergesa, karena tidak mau lagi pendiriannya goyah. Rendra mulai melangkahkan kakinya keluar dari gedung pencakar langit bernuansa putih itu. Masih ada kehidupan lain yang mesti dia urus. Semuanya tidak boleh seegois ini, hanya berporos pada satu orang. Meski orang itu adalah separuh dirinya. Karena separuh dirinya dan diri itu yang lain juga sedang membutuhkannya. Menjadikannya sandaran dan teman berkeluh-kesah.
Jalanan yang lengah di malam hari membuatnya bisa berkendara dengan santai. Tidak perlu berdesak-desakan seperti di jam-jam sibuk biasa. Tangan kanannya yang terbebas dari stir digunakan untuk menopang kepalanya. Merapatkannya pada jendela mobil, dan sesekali memijitnya pelan.
"Marwah, selama ini aku belajar tegar dari kamu, dan untuk kamu. Tapi bagaimana jika aku mulai rapuh dan tidak setegar awal? Haruskah aku jujur pada anak-anak kita, tentang kamu?" Rendra menghela napas lelahnya, "maafkan aku. Jika aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk selalu tegar."
Dan dengan lincah tangannya membelokkan kemudi ke arah perumahan tempat berteduhnya selama ini.
Tampak rumah bergaya minimalis di depannya terasa sepi. Karena memang sudah jamnya untuk istirahat. Namun, rasa penasaran masih bersarang di hatinya. Sejenak dia dongakkan kepalanya. Tepat sasaran. Lampu kamar Sabiya masih terlihat menyala seperti yang dia duga, menandakan anak gadisnya itu belum terlelap, karena Sabiya tidak akan pernah bisa tidur dengan lampu yang menyala.
Setelah membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa, langkah Rendra hanya tertuju ke dalam kamar Sabiya. Menilik sebentar gadis itu sebelum diapun mengistirahatkan tubuh tuanya.
Suara pintu kamar yang dibuka tidak membuat Sabiya menghentikan aktifitas nya. Tangannya masih sibuk menari-nari di atas keyboard.
Sejenak, Rendra termenung melihat Sabiya yang tengah khusyuk dalam duduknya. Hidung mungil yang tidak terlalu bangir milik Sabiya, masih senantiasa menjadi tumpuan kaca mata minus yang gadis itu pakai. Rambutnya yang dicepol tinggi tambah memperlihatkan betapa anak gadisnya itu sudah beranjak dewasa. Melangkah menuju gerbang pendewasaan seorang diri, jauh dari perhatian orangtua. Hatinya mendadak ter iris, begitu egoiskah dia selama ini?
"Bi...," panggilnya seraya menyentuh pundak Sabiya.
Sabiya menghentikan gerakan jarinya, tubuhnya secara otomatis berputar menghadap orang yang telah memanggilnya. Seutas senyum terbit, membuat mata yang terbingkai kacamata itu menyipit membentuk satu garis lurus.
"Kenapa belum tidur?"
Sabiya hanya menggelengkan kepalanya, masih dengan senyum yang sama.
"Tidur, ya. Jangan terlalu paksakan diri kamu. Kamu mungkin tidak merasa lelah, tapi tubuh kamu akan menuntut haknya untuk diistirahatkan."
"Tap--"
"Tidak ada tapi-tapian, Bi. Besok sekolah, kan? Kamu tidak boleh terlambat, apalagi kamu sebentar lagi sudah mau UN. Harus belajar yang rajin, jangan mengecewakan ayah."
Dan tanpa protes apapun lagi, Sabiya langsung mematikan laptopnya. Membereskan sedikit keberantakan yang sudah dia ciptakan sendiri. Langkahnya mulai mendekati ranjang, meninggalkan meja belajar yang masih terdapat gelas dengan ampas kopi yang mulai mengering di dalamnya.
"Jangan lupa baca doa, ayah ke kamar dulu."
Setelah mengucapkan itu, Rendra keluar meninggalkan kamar putri sulungnya. Langkahnya mulai mengarah pada pintu kamar tepat di depan pintu kamar Sabiya. Sejenak dia ragu untuk membukanya, sebelum akhirnya tetap memutuskan untuk masuk.
Netranya langsung terfokus pada jiwa yang sedang bergelung di bawah hangatnya selimut. Senyum tipis tercetak di bibirnya. Bukan hanya putri sulungnya saja, ternyata putra bungsunya pun sudah mulai tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Di usapnya pucuk kepala Zidan, Rendra mengamati lekat-lekat setiap pahatan pada rupa Zidan. Marwah benar-benar sudah mewariskan semua kemiripannya kepada Zidan. Karena hampir semuanya yang ada pada rupa Zidan itu persis dengan Marwah, ibu dari anaknya. Berbeda dengan Sabiya yang lebih mirip dengannya. Mungkin, itulah mengapa selama ini dia enggan untuk berlama-lama berhadapan dengan Zidan. Ya, karena dengan melihat Zidan akan kembali membawanya pada ingatan tentang Marwah. Kemiripan itulah yang menjadi bumerang sendiri bagi Rendra, di satu sisi dia bahagia karena anaknya mirip dengan isteri tercintanya, namun di sisi lain Rendra merasa kesal karena itu membuat perih kembali tertoreh di hatinya karena Marwah tidak bisa berada di sampingnya.
"Maafkan ayah. Ayah janji, cepat atau lambat semua tanya yang kamu ajukan akan ayah jawab. Dan semoga, saat ayah menjawab semuanya, ibumu pun sudah bisa kembali lagi di tengah-tengah kita. Ya, semoga. Karena kita juga tidak boleh putus dalam berharap, selagi masih ada Allah Azza Wa Jalla yang akan mendengar doa kita."
Zidan tersenyum dalam lelapnya. Dalam mimpinya, dia merasa tengah diusap-usap oleh ayahnya, dan ibunya pun tengah menyenandungkan shalawat merdu sebagai pengiring tidurnya. Bolehkah kali ini dia menyebutnya sebagai mimpi indah?
•••
Masih adakah yang menunggu RiSa nongol? (Ngarep banget😂)
Ok, jangan lupa selalu mengingatkan jika ada kesalahan dalam kepenulisan cerita ini. Syukron katsiir yang telah bersedia membaca, vote, apalagi komen.
Cuma mau ngingetin, kan di akhir nanti mau ada GA dari Gen-2, nih. Gak kerasa yah, tinggal kurang lebih dua bulan lagi cerita dari Gen-2 end :') Mana suaranya yang mau ikutan? Udah ada persiapan belum?
Ketjup jauh FinaSundari 💙
05-03-2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Risalah Rasa [SELESAI]
SpiritualAidah Sabiya Marwah, gadis bernetra hazel dengan keindahan yang terpahat dalam parasnya. Hidup hanya dengan ayah dan adiknya, membuat Sabiya tumbuh dengan kasih sayang yang rumpang. Kebencian melegam dalam hati Sabiya, kepada sosok yang telah melahi...
![Risalah Rasa [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/163174746-64-k888312.jpg)