بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
•••
"Kamu telah menikamku walau hanya dengan sebuah tatap. Lantas, salahkah jika aku langsung jatuh hati?"
-Risalah Rasa-
•••
Sabiya menganggukkan kepalanya saat Bunda Rumi--ibu dari Fikri sekaligus dokter tempatnya berobat--mengajaknya untuk pulang bersama, karena kebetulan jam tugasnya telah usai bertepatan dengan selesainya terapi Sabiya. Kedekatan yang bak seorang ibu dan anak itu telah terjadi dimulai dari mereka yang bertetanggaan. Sosok Rumi yang sangat terbuka dan baik hati membuat Sabiya nyaman berada dekat dengannya. Setidaknya, dia bisa merasakan diperhatikan oleh seorang ibu jika sedang bersama Rumi. Bahkan, wanita yang umurnya hampir setengah abad itu dengan senang hati menyuruh Sabiya untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda, sama seperti panggilan anak-anaknya.
"Kita mampir ke mall dulu gak papa kan, Bi? Soalnya ada kebutuhan rumah yang harus bunda beli dulu," tanya nya saat sudah mendudukkan diri di dalam mobil yang diikuti oleh Sabiya.
"Iya, Bun. Gak apa-apa," jawabnya dengan tersenyum.
Mobil mulai melaju setelah Rumi mengatakan kepada supir pribadinya untuk mengantarkan mereka terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan sebelum pulang ke rumah.
Dalam perjalanan, mereka membicarakan hal-hal sederhana yang terkadang menghadirkan tawa. Seakan tidak ada sekat diantara mereka. Semuanya mengalir dengan sangat natural. Seakan-akan jika mereka memang anak dan ibu kandung.
Mobil berbelok memasuki lobi Mall. Rumi turun diikuti Sabiya, setelah berpesan kepada supirnya bahwa mereka tidak akan lama.
•••
Definisi hanya sebentar versi wanita memanglah berbeda. Karena "hanya sebentar" yang di ucapkan oleh Rumi sangatlah cukup untuk berbelanja kebutuhan rumah, singgah di salah satu toko baju, sampai akhirnya bersantai sambil menikmati secangkir teh setelah lelah berkeliling.
"Bunda harusnya gak usah beliin Biya gamis sama khimar baru," ucap Sabiya untuk yang kesekian kalinya.
Rumi hanya terkekeh, Sabiya masih saja merasa sungkan padanya, meski dia sudah bilang tidak apa-apa. "Gak apa-apa, Bi. Lagi pula udah lama Bunda gak ngebelanjain kamu baju."
Semenjak Sabiya memutuskan menggunakan pakaian syari yang sesuai dengan syariat islam, Rumi kerap sekali membelikannya gamis-gamis syari dengan jumlah yang tidak hanya satu. Setiap kali Sabiya tolak, pastilah Rumi akan mengeluarkan jurus andalannya yaitu sebuah rajukan yang membuat Sabiya tak bisa lagi menolak. "Ini salah satu bentuk dukungan bunda dalam kamu berhijrah" itulah kata yang selalu Rumi lontar kan sebagai penguat agar Sabiya menerimanya.
"Makasih ya, Bun. Bunda udah ngasih Sabiya banyak hal. Bukan hanya dari segi materi saja, tapi juga kasih sayang Bunda. Padahal, kita gak punya hubungan apa-apa selain memang kita tetanggaan dan pasien dengan dokternya," ucap Sabiya dengan menatap Rumi sendu. Entah bagaimana hidupnya jika Allah tidak mendatangkan sosok ibu pengganti seperti Rumi di hidupnya. Mungkin dia tidak bisa setegar ini menjalani hidup. Nasehat-nasehat dan dukungan Rumi sangat berarti untuknya, sehingga dia bisa berdiri kokoh di atas kenyataan pahit.
"Sama-sama, Sayang. Udah ah, jangan mellow-mellowan gini," kekeh Rumi sembari menghapus lelehan air mata yang baru saja mengaliri pipi putih Sabiya.
Sabiya ikut terkekeh, "Biya gak tahu lagi gimana caranya mengungkapkan rasa terimakasih Biya ke Bunda. Bunda selalu ada disaat Biya membutuhkan bantuan."
"Bi...., bunda melakukan semuanya untukmu tulus tanpa pamri. Kalau lah bunda meminta balasan dari kamu, bunda hanya ingin berpesan satu hal. Jangan pernah kamu lepaskan khimarmu dan kaus kakimu, dan kamu perlihatkannya kepada orang yang tidak berhak. Ini lah jati dirimu sebagai seorang muslimah. Karena bagi seorang muslimah, islam tanpa hijab syari dan kaus kaki adalah suatu hal yang rumpang. Dan suatu hal yang rumpang tidak akan pernah sempurna, secantik apapun fisiknya."
"Insyaallah, Bun. Biya akan ingat pesan Bunda."
Dalam hati Sabiya merapalkan beribu rasa syukur karena sudah dipertemukan dengan Rumi dan Fikri. Mereka adalah dua orang yang gencar mengajaknya pada kebaikan. Jalan yang Allah ridhai. Rendra memanglah selalu mengajarkannya tentang nilai-nilai agama, tetapi kesibukan ayahnya itu membuat Sabiya tidak bisa belajar banyak hal dengan ayahnya.
Sejak kecil Sabiya memang sudah mengenakan khimar, hanya saja masih jauh dengan syariat islam. Sabiya mengenakannya hanya semata untuk formalitas saja. Hingga beranjak umur tujuh belas tahun Sabiya mulai belajar menggunakan pakaian syari dan mulai rajin datang ke kajian seminggu sekali dengan dibimbing oleh Rumi.
•••
"Bi..., hari ini kamu mau gak bantuin Bunda masak? Rencananya Bunda mau masak banyak buat malam ini," tanya Rumi sembari mengarahkan langkahnya untuk keluar dari mall.
"Boleh. Emangnya Bunda malam ini mau kedatangan tamu, ya? Tumben masak banyak."
"Iya..., anak sulung Bunda mau dateng nanti malem."
"Anak sulung Bunda? Abangnya Fikri yang tinggal di Jogja?" tanya Sabiya memastikan.
"Iya. Rencananya dia mau tinggal di sini juga. Alhamdulillah dia keterima kerja di sini, jadi gak jauh-jauh lagi deh sama Bunda. Rasanya gak enak banget jauh dari anak," curhatnya.
Sabiya hanya menimpalinya dengan sebuah senyuman. Dia bisa mengerti apa yang tengah dirasa oleh Rumi. Sosok wanita yang sangat penyayang itu pasti sangat merindukan anaknya. Meskipun seorang anak telah beranjak dewasa, bukankah dia tetap akan menjadi anak kecil yang selalu ibunya khawatirkan jika jauh dari jangkauannya?
Seketika hatinya merasa tercubit. Apakah tidak sedikitpun rasa itu terlintas di hati ibu kandungnya? Sampai dia rela berjauhan dengannya dan Zidan?
•••
Sebenernya agak bingung ngasih judul apa di chapter ini😌
Jangan lupa selalu mengingatkanku jika ada kesalahan dalam kepenulisan :)
08-03-2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Risalah Rasa [SELESAI]
EspiritualAidah Sabiya Marwah, gadis bernetra hazel dengan keindahan yang terpahat dalam parasnya. Hidup hanya dengan ayah dan adiknya, membuat Sabiya tumbuh dengan kasih sayang yang rumpang. Kebencian melegam dalam hati Sabiya, kepada sosok yang telah melahi...
![Risalah Rasa [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/163174746-64-k888312.jpg)