بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
•••
"Setiap anak perempuan adalah mutiara hati bagi ayahnya. Dan dia tidak akan membiarkan mutiara nya jatuh di tangan yang salah."
-Risalah Rasa-
•••
Awali harimu dengan bismillah, doa, dan senyuman itu yang tengah dilakukan oleh gadis bernetra hazel yang baru saja selesai bersiap mencangklong tas gendong nya.
Hari ini tasnya tidak terasa begitu berat, karena hanya beberapa lembar buku saja yang dia bawa untuk dibaca ulang sebelum jam ujian dimulai.
Ya. Senin ini adalah hari pertamanya dan semua siswa kelas duabelas menjalankan Ujian Nasional Berbasis Komputer, satu tahap terakhir untuk menuju kelulusan. Tentu Sabiya menyambutnya dengan gebrakan semangat yang membara. Dia sudah merasa cukup memiliki bekal untuk menjawab soal-soal yang akan tersaji di layar komputer setelah dirinya log in. Semalam dia tidur lebih awal hanya biar tubuhnya menjadi fresh saat bangun tidur, dan tidak merasa mengantuk saat sesi ujian dimulai. Untuk materi, dia sudah belajar dari jauh-jauh hari. Karena menurutnya, metode SKS alias Sistem Kebut Semalam tidak lah cukup karena itu hanya akan membuat otaknya lelah.
"Assalamualaikum... Pagi, Ayah... Pagi, Dek...," sapa nya saat sudah mendudukkan diri di meja makan.
Rendra dan Zidan menjawab salam dengan serempak. Pandangan Rendra yang semula terfokus pada koran dan Zidan yang terfokus pada handphone, kini mulai mengalihkannya untuk memulai sarapan setelah semua anggota keluarga sudah berkumpul.
Selama sarapan, hanya suara dentingan sendok yang mengalun sebagai backsound. Sampai setelah sarapan usai, barulah tercipta percakapan di antara mereka.
"Hari ini UN, kan, Bi?" tanya Rendra.
Sabiya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sudah siap?"
"Sudah, dong, Yah..."
"Jawab dengan teliti, jangan asal cepet selesai aja. Efektifkan waktu sebaik mungkin, dan juga jangan lupa berdoa."
"Iya, Yah. Insyaallah..."
"Santai aja, Ka. Tinggal klik-klik terus beres, deh," ucap Zidan ikut menimbrung.
"Yeee...., ya gak segitunya juga kali. Emangnya kamu yang gak pernah serius," protes Sabiya.
"Ya enggak, lah. Aku belum siap kalo udah harus serius. Aku masih SMP, masa iya, udah harus nyeriusin anak orang, aja," kelekar Zidan dengan polos.
"Bukaannm serius yang itu, Zidaaaaaan!!!!" geram Sabiya. Ini sangat menyebalkan. Dosa apa dia sampai-sampai memiliki adik tipe Zidan. Andai bisa ditukar tambah di toko onderdil, Sabiya rela merogoh kocek dengan jumlah banyak asalkan bisa mendapatkan adik yang otaknya tidak melenceng seperti Zidan.
"Udah lah, aku berangkat dulu," putus Sabiya. Dia hanya tidak ingin paginya yang cerah diganggu oleh ketengilan sang adik yang demi apapun sangat menjengkelkan sekali.
"Ati-ati, Bi. Jangan ngebut," pesan Rendra setelah bisa meredakan tawanya karena tontonan gratis dari kedua anaknya.
"Gak bareng sama aku, Kak?" tanya Zidan yang pada aslinya hanya sekedar berbasa-basi.
"OGAH!"
"Yah, potek hati dedek ditolak sama kakak sendiri."
"Alah, lebay kamu!" seloroh Rendra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Risalah Rasa [SELESAI]
SpiritualAidah Sabiya Marwah, gadis bernetra hazel dengan keindahan yang terpahat dalam parasnya. Hidup hanya dengan ayah dan adiknya, membuat Sabiya tumbuh dengan kasih sayang yang rumpang. Kebencian melegam dalam hati Sabiya, kepada sosok yang telah melahi...
![Risalah Rasa [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/163174746-64-k888312.jpg)