16.Badai berlalu

6.6K 267 0
                                        

Haii readers!! Aku update nih hehe.. Cepet ya kan kan kan?

Happy Reading :)

----

Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, sedih itu pasti, tapi jika kita mau bangkit dan terus melanjutkan hidup dengan ikhlas maka kesedihan itu akan berangsur-angsur hilang.

Bulan terus berganti bulan, semuanya telah berlalu. Kini Rebecca telah berada di semester 2 kelas XI. Semua kesedihan karena kehilangan Nielsen memang belum terhapus sepenuhnya, tapi kini semuanya sudah mulai bisa mengikhlaskan.

Semester 1 kemarin, peringkat 1 paralel seangkatan kelas XI, seperti biasa diraih oleh Nathan dan siapa sangka Rebecca menempati peringkat 2 paralel. Dan Stella.. Yah dia tidak terlalu memikirkan peringkatnya, btw karena sedikit memalukan jika disebut maka kita tak usah menyebut peringkat Stella.. hehe.

"Woy Nath, lo dipanggil sama Mr.William tuh disuruh ke kantor sama Rebecca juga" tutur Bryan dari ambang pintu

"Hah gue? Ada apa?" tanya Rebecca heran

"Nggak tau Rebecca cantik, mending lo kesana aja" ucap Bryan menggoda

"Cish! Cantik apanya!" Selena menginterupsi dengan judes nya

"Apaan sih lo sensi amat kalo ada yang lebih cantik" celetuk Bryan

"Gue itu paling cantik ya disini" ucap Selena penuh penekanan

"In your dream" kata Bryan meremehkan

"Dasar nyebelin lo!" Selena menghentakkan kakinya kesal

"Ya udah yuk Nath" ajak Rebecca

"Nggak usah kecentilan lo sama Nathan!" ucap Selena

"Siapa yang centil sih? Orang gue cuma ngajak juga" jawab Rebecca jadi kesal sendiri

"Lo berani sama gue?" Selena mulai menantang

Tapi sebelum Selena menghampiri Rebecca, Nathan sudah bangkit terlebih dahulu dan berjalan ke arah Rebecca.

"Ayo!" ucapnya dingin sambil menyeret tangan Rebecca keluar kelas

Setelah Nathan dan Rebecca pergi, Selena berteriak kesal.

"Hish! Nyebelin banget sih, awas aja kalo tuh cewek sampai berani deketin Nathan!" gerutunya

"Udahlah Sel, udah ditolak juga sama Nathan. Apa hak lo?" Daniel menyahut

"Iya tuh, kalo jadi cewek punya harga diri dikit kek!" Bryan menambahi

"Diem kalian!" bentak Selena

***

Nathan terus menyeret tangan Rebecca sampai ke depan kantor. Sebenarnya sepanjang perjalanan tadi, Rebecca ingin melepas genggaman tangan Nathan karena mereka jadi bahan tontonan tapi Rebecca tidak berani.

Setelah melepas genggamannya, Nathan langsung masuk ke kantor tanpa mengajak Rebecca tapi dengan sigap Rebecca langsung mengekor di belakang Nathan.

"Permisi" ucap keduanya sambil berjalan menuju mejanya Mr. William

"Owhh kalian! Ayo sini" ucap Mr. William

"Ada apa sir?" tanya Rebecca setelah sampai

"Begini, kan sebentar lagi akan di adakan lomba Olimpiade dan untuk cabang ilmu Fisika saya percayakan kepada kalian berdua karna setiap cabang mengirimkan dua peserta" tutur Mr. William

"Lohh kok kita?" tanya Rebecca heran

"Kita kan bukan anak Olimpiade" Nathan menambahi

"Iya saya tahu, tapi di semester kemarin nilai fisika kalian di raport itu mendekati sempurna dan lombanya sudah sangat mepet jadi saya mohon sama kalian untuk mewakili sekolah dalam lomba tersebut"

"Tapi sir, bukankah nantinya akan menimbulkan kecemburuan dari anak-anak Olimpiade fisika?" tanya Rebecca

"Sebelumnya saya sudah bicarakan bersama mereka dan mereka setuju sebab mereka belum melakukan persiapan"

"Baiklah saya siap" jawab Nathan

"Nath.." Rebecca menyikut Nathan dengan lengannya

"Gue siap kok" ucap Nathan kepada Rebecca

"Nah bagus jika Nathan sudah siap, bagaimana dengan Rebecca?" tanya Mr. William

"Sa.. saya sedikit ragu sir" jawab Rebecca

"Jangan ragu, kamu itu punya potensi jangan disia-siakan"

"Baiklah sir, saya siap" ucap Rebecca pasrah

"Nah syukurlah, terima kasih banyak ya. Mulai hari ini kalian sudah bisa mulai belajar. Cari referensi bukunya di perpustakaan dan kalo bisa mending kalian belajar bareng supaya bisa saling membantu, nanti jika saya ada waktu saya akan menemui kalian untuk bimbingan" tutur Mr. William

"Baik sir" jawab Nathan dan Rebecca

"Kalau begitu, kalian sekarang bisa kembali ke kelas"

Setelah berpamitan dengan sopan, mereka pun kembali ke kelas. Sebenarnya Rebecca agak ragu untuk mengikuti lomba tersebut karena ini adalah Olimpiade pertamanya. Tapi mengingat partner nya adalah Nathan ia sedikit lega. Ya Nathan kan cerdas.

***

"Lo tadi ngapain dipanggil Mr. William?" tanya Daniel kepada Nathan saat mereka berada di cafetaria

"Kena kasus ya?" celetuk Mike

"Atau lo lupa ngerjain PR Fisika?" sahut Bryan

"Kalo itumah lo kali Bry, tiap ada PR lupa mulu kerjaannya" Daniel menjawab

"Kan gue udah pinter ngapain coba di kasih PR?" ucap Bryan

"Sok lo ah" kata Daniel

"Jadi kenapa Nath?" lanjut Daniel

"Disuruh lomba" jawab Nathan singkat

"Lomba apa?" tanya Mike

"Olimpiade Fisika"

"What the..? Lo kan bukan anak Olim!!" teriak Bryan sambil menggebrak meja

"Anjay, santai kali bro!" sungut Mike sambil mengelus dadanya

"Ntahlah" jawab Nathan datar

"Sama Rebecca juga?" tanya Daniel

"Hm" Nathan mengangguk sekilas

"Ini nggak masuk akal sumpah, lo kan bukan anak Olim" Bryan masih terheran-heran

"Nathan kan cerdas, ogeb!" ucap Mike

"Ogeb, pala lo!" sungut Bryan

"Katanya sih anak Olim belum ada persiapan" kata Nathan

"Owhh gitu toh" Bryan mangut-mangut

"Ya udah sukses ya brohh!" ucap Mike

"Hm"

Mereka berempat pun mulai mengganti topik, Nathan yang hanya menyahut singkat-singkat, Mike dan Bryan yang lebih sering adu mulut ketimbang ngobrol dan Daniel yang berkali-kali menegur. Itulah yang terjadi jika keempat sahabat itu berkumpul. Seakan akan mereka ada untuk saling melengkapi.

***

TBC

Dikit ya? Nggak papa deh ya, lagi blank banget soalnya... Next chapter lebih panjang deh..hehe:)

Vote dan comment nya jangan sampai ketinggalan guys, Makasih❤


Jangan lupa follow instagram aku

@ditaasilla13

@borahae.army7

Love, DA

The Cold Boy Nathan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang