Dari ke-empat saudaranya, yang paling baik menurut Niel itu adalah Bagas, tapi kadang-kadang. Bagas itu tipe orang yang enggak banyak omong, kalau di porot mudah bagi Niel apalagi pekerjaan Bagas sebagai pengacara membuat Niel seenak jidat meminta uang kepada Abangnya itu.
Pagi ini Niel baru saja turun dari lantai atas, rapi mau berangkat Sekolah. Melihat pemandangan Bagas tengah sarapan bersama saudaranya yang lain, Ayah dan Bunda tidak terlihat, mungkin sudah berangkat ke Rumah Sakit. Niel dengan segera menghampiri mereka, mengambil tempat disebelah kanan Atha dan sebelah kiri Mars.
"Wow! Ayam sambal tomat!" Seru Niel lantang. Menatap Ayam dihadapannya penuh binar.
Mars menoyor kepala adiknya keras, "Berisik! Tinggal duduk, makan, susah amat dah." Omel Mars kesal.
Dengusan Niel terdengar, "Sibuk banget lo ngurusin hidup gue."
"Bukannya ngurusin tapi gue empeng denger lo teriak, apalagi disamping telinga gue." Mars memakan makanannya cepat.
"Berantem melulu dah lo berdua, makan woi makan!" Sahut Atha melirik kedua adiknya malas. Yang tua enggak mau ngalah, Yang muda juga ngeselin jadi tengsin Atha lama-lama.
Sebelum Niel kembali menjawab, Ona dari arah seberang segera menyumpal mulut adiknya dengan nasi agar tetap diam. Semuanya tertawa melihat kelakuan Ona terhadap Niel, sedangkan Niel mengunyah nasi dalam mulutnya dengan perasaan kesal.
"Udah... Ona jangan gitu sama Niel. Kasihan adeknya." Suruh Bagas meredakan tawanya, Bagas memang tidak banyak omong tapi masalah ledek meledek adik dia jagonya. "Lanjut makan!" Perintahnya tegas.
Niel yang tengah kesal mencebik mendengar perintah Bagas, dia bangkit lantas berlalu meninggalkan meja makan. Tidak perduli seruan-seruan Bagas dan Ona yang memberitahukan bahwa dirinya harus sarapan.
"Ngambek kan, ngambek dah tuh." Ucap Atha geleng-geleng. "Lo sih Mars, suka banget ngecengin dia, udah tau si bontot ambekan." Atha melirik Mars jengah.
Mars yang merasa terpojokkan menghela nafas, menyadari perbuatan dirinya yang mulai duluan, tapi disini tetap aja Ona yang paling salah menurut dia. "Tuh... Kak Ona juga ngapain nyumpal mulut Niel pake nasi." Kata Mars menunjuk Ona.
"Yeu... kalau enggak gitu pasti bakalan bacot banget." Ujar Ona.
Atha meletakan garpu dan sendoknya, mengundang atensi semua yang ada di meja makan. "Gue nyusul dia dulu, takutnya kenapa-napa." Dia baru saja akan bangkit, sebelum suara Bagas lebih dulu menghentikan dirinya.
"Biar gue aja, sekalian berangkat." Bagas mengambil gelas dan menuangkan air kemudian ia minum hingga kandas. "Gue berangkat dulu." Pamitnya.
"Titip salam gue Bang... bilang ke Niel entar gue beliin bakso deh." Kata Mars sebelum Bagas pergi meninggalkan ruang makan.
——
Sampai perempatan jalan, kedua netra tajam milik Bagas akhirnya berhasil menangkap atensi Niel yang tengah berdiri menunggu angkutan umum. Walaupun dari dalam mobil Bagas masih bisa melihat bagaimana kusutbya wajah sang adik, menjadikan dirinya terkekeh gemas.
"Dek! Masuk!" Teriak Bagas lantang tepat setelah mobilnya berada dihadapan Niel.
Mendengar teriakan seseorang Niel memutar arah pandangannya, berdecak malas melihat mobil Bagas. Dia melirik sekitar, beberapa orang terlihat menatap kearahnya, namun Niel memilih acuh lantas masuk kedalam mobil Bagas.
Tepat setelah Niel duduk dikursi sebelahnya, Bagas mengacak rambut anak itu. "Dasar ambekan..." Kemudian menancap gas menuju sekolah Niel.
"Kak Ona sama Bang Mars ngeselin." Niel melipat kedua tangan didepan dada, "Lagian ya Bang... gue heran dirumah itu semua orang otaknya diatas rata-rata semua tapi kenapa kelakuan mereka di bawah standar semua?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAT PADAT
Teen FictionAvniel tidak berharap dilahirkan menjadi bungsu, karena mempunyai 3 Abang dan 1 Kakak perempuan bukannya berkah malah musibah. Masih dianggap bocah lah, disuruh-suruh, buatin ini buatin itu. Tetapi Niel tahu semua saudaranya perhatian pada Niel, ap...
