18 : Cemburu Berantai

381 55 26
                                    

Jiyeon memencet bel apartemen Do Hwan untuk yang kesekian kalinya, tetapi tidak reaksi apa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jiyeon memencet bel apartemen Do Hwan untuk yang kesekian kalinya, tetapi tidak reaksi apa. Tidak ada tanda-tanda Do Hwan ada di dalam. 

"Seriusan dia ke apartemen?" tanya Jiyeon resah pada Esom.

"Bilangnya sih gitu, nggak tau deh kalo di pertengahan jalan berubah rencana," jawab Esom seraya mengecek ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. 

Kang Joon menghubunginya!

"Hm, bentar Ji, ada telepon..." ucap Esom seraya menjauh dari Jiyeon. 

Belum sempat Esom bicara apa-apa, Kang Joon langsung nyerocos nggak pake titik, "Saya gak paham sama jalan pikiran cowoknya Jiyeon. Tiba-tiba aja saya dicegat dijalan, trus ditarik keluar. Dia bilang saya harus ngejauh dari Jiyeon. Kalau nggak, kemungkinan urusan saya sama dia bakal panjang. Kenapa sih dia. Gila ya!"

Dada Esom berdebar saat mendengar suara Kang Joon. Bahkan disaat Kang Joon lagi emosi tingkat dewa seperti ini. Waras gak sih?

"Som? Esom?" Kang Joon manggil karena gak ada respon sama sekali. 

Setelah Esom berhasil menyadarkan dirinya dari hipnotis suara Kang Joon, dia pun berkata, "Jangan sampe Jiyeon tau Do Hwan ngelabrak Bapak."

"Jelas Jiyeon harus tau!" ucap Kang Joon nggak terima. "Dia perlu tau kalau cowoknya udah sembarangan ngelabrak orang. Pacaran dan cemburu juga ada etikanya. Apalagi rasa cemburunya gak berdasar..."

"Wajar kalau Do Hwan cemburu sama Bapak," sela Esom membuat Kang Joon spontan terdiam. "Kalau Bapak mau tau alasan kenapa Do Hwan bisa cemburu, mending kita ketemuan. Ngobrol ditelepon repot. Bisa-bisa Jiyeon tau."

"Oke, kita ketemuan dimana?"

"Nanti tempat dan alamatnya saya kirim," ucap Esom sebelum menutup sambungan teleponnya karena entah sejak kapan Jiyeon sudah berada di belakangnya. 

"Som, gue harus cari Do Hwan dimana?" tanya Jiyeon resah. Air matanya sudah luber kemana-mana. 

"Lo udah coba telepon dia?" tanya Esom.

Jiyeon mengangguk. "Tapi gak dijawab."

Ada rasa dalam diri Esom ingin memberitahu Jiyeon pasal Do Hwan melabrak Kang Joon, tapi itu hanya akan memperburuk suasana. 

"Udah malam, mending lo balik deh," ucap Esom akhirnya. "Nanti gue bantu cari dan telepon dia lagi."

Jiyeon menggeleng.

"Gue harus jelasin ke dia kalo apa yang dia lihat itu salah."

Esom menghela nafas sebelum memeluk tubuh Jiyeon. 

"Tenang aja, Ji..." ucap Esom mencoba menenangkan sahabatnya ini. "Do Hwan cinta banget sama lo. Dia itu cemburu. Dan itu wajar. Tapi gue yakin, dia masih punya akal sehat untuk nggak langsung ngejudge lo selingkuh. Toh kalo memang dia berpikir seperti itu, gak akan lama kok. Dia bakalan minta klarifikasi dari lo. Sekarang kalo dia menghilang, itu karna dia butuh nenangin diri. Semua orang melakukan itu kan Ji."

Ma Pervert FianceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang