Park Jiyeon
"Oke, cukup. " ucap Park Jiyeon jengkel. Maksud hati ingin menghindari rengekan sang ibu dengan menerima perjodohan itu, Jiyeon justru terjerumus masuk ke dalam dunia mesum sang fiance yang tidak bosan-bosannya menjadikan kata "making lo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu serius Ji mau balik sekarang? Cuti honeymoon kamu kan masih ada beberapa hari lagi," ucap sang ibu terdengar diujung ponsel Jiyeon, yang saat ini sedang sibuk packing di hotel.
"Iya, Bu, ada meeting yang butuh kehadiran aku di kantor. Lagian kalo honeymoon kan bisa dilanjut kapan-kapan," jawab Jiyeon sementara tangannya sibuk mengecek perlengkapan makeupnya. "Do Hwan? Dia mah gapapa. Dia ngerti kok soal kerjaan aku di kantor..." Mata Jiyeon beralih pada Do Hwan yang sedang menatap Jiyeon dengan ekspresi cemberut. "Oke Bu, nanti aku kabarin lagi ya kalo udah sampe bandara."
Sambungan telepon terputus. Dan Do Hwan mulai merengek seperti anak kecil.
"Siapa yang gak papa?" tanya Do Hwan tidak terima dengan ucapan bohong Jiyeon pada ibu mertuanya. "Boss kamu harus ganti rugi pokoknya. Sembarangan ngeganggu honeymoon orang. Itu kegiatan sakral lho yang gak boleh diusik, tapi bisa-bisanya boss kamu malah nyuruh kamu balik buat ngurusin kerjaan yang gak penting..."
"Jangan gitu dong," ucap Jiyeon seraya menghampiri Do Hwan yang duduk di dekat pintu balkon. "Kalo Pak Presdir sampe nyuruh aku balik berarti emang ada kerjaan penting yang butuh kehadiran aku disana."
Do Hwan masih diam dengan wajah cemberut.
"Hei..." Jiyeon mencubit pelan kedua pipi Do Hwan. "Aku ini udah sah jadi istri kamu. Bahkan tanpa harus ke Caledonia, kita bisa melakukannya dimana aja dan kapan aja kan."
"Iya sih, tapi melakukan itu ditempat kayak gini, ditempat spesial kayak gini, itu rasanya beda," ucap Do Hwan masih diliputi rasa kecewa.
Jiyeon pun berpikir. Mencoba mencari cara agar suaminya tidak ngambek lagi.
"Aku janji, setelah aku selesai dengan pekerjaanku, kita atur ulang rencana bulan madu kita. Gak perlu di Caledonia, yang penting tempatnya seromantis disini."
Do Hwan menatap kedua mata Jiyeon. Kekecewaan yang memenuhi kedua mata Do Hwan kini berubah menjadi harapan.
"Janji?" tanya Do Hwan bak anak kecil.
"Janji, sayang..." Jiyeon mengecup bibir Do Hwan sebelum kembali sibuk dengan kopernya.
Sebenarnya Jiyeon sendiri gak rela acara bulan madunya diusik seperti ini. Ini sudah jatahnya dia libur dan bersenang-senang bersama Do Hwan sejak dirinya mengajukan cuti honeymoon. Tetapi kalo Pak Presdir sendiri yang sudah mengucapkan perintah, Jiyeon pun tidak bisa menolaknya.
**
Esom berlari-lari kecil saat tahu pintu lift akan segera menutup. Untungnya di dalam lift ada seseorang yang menahan pintu agar tidak tertutup. Dan orang itu tidak lain tidak bukan adalah...
"Pagi..." Sapa Kang Joon sembari menyunggingkan senyum tampannya.
Oke, olahraga jantung sudah dimulai untuk Esom.
"P-pagi..." jawab Esom dengan wajah bersemu. Dengan sekuat tenaga Esom berusaha mengontrol dirinya agar wajahnya tidak terlihat bodoh. Ini sudah hari kedua sejak dirinya sepakat dengan Kang Joon untuk mencoba menjadi sepasang kekasih. Yeah, perlu digarisbawahi kata mencoba karena memang Kang Joon perlu waktu untuk bisa menyukai Esom.