Masih ingat dengan dini dan abun. Mereka tinggal di malaysia, katanya sih bulan depan mereka akan pulang.
Skip cerita!
"arkan! Bangun gak! Ini udah jam brpa. Tuh liat udah jam 7 lewat cepat bangunnn!!" teriakan nayya menggema satu ruangan tsb tanpa mikir panjang arkan pun bangun dari tidurnya karna suara cempreng maminya.
"mami, bisa ga sih gausa pake teriak!!" ketus arkan memegangi telinganya yang merasa keberisikan.
"lagian, liat ini udah jam 7 cepat mandi. Atau mami guyur kamu?!" lagi² nayya berteriak lagi, itu lah alarm arkan saat pagi untuk sekolah.
"iya mamiku sayang."
"sayang² palamu peyang!" ketus nayya meninggalkan kamar arkan.
Arkan pun sudah terbiasa dengan hal ini.
Arkan beranjak dari kasur, dan berjalan menuju kamar mandi dengan muka yang masih menempel air liurnya.
20 menit kemudian.
Arkan pun keluar dari kamar mandi. Dan mengambil baju segaramnya di lemari, tak cukup banyak waktu.
Arkan pun selesai memakai seragamnya, dengan gaya tengilnya ia berjalan keluar kamar dengan menggemblok tasnya sebelah. Tangan kiri dimasukan ke kantong celana kirinya.
"pagi mi, dad, bi, pak" sapanya dengan menuruni tangga.
"pagi sayang." balas nayya dan putra berbarengan. "pagi arkan." lanjut bi yum dengan pak mamat dengan senyuman lebarnya.
Arkan pun berjalan menghampiri meja makan, dan duduk disalah satu bangku dimeja makan tsb.
Setelah duduk, arkan pun melihat ke jam tangannya.
"mi! Ini kan masih jam 6 mi. Mami ngapain bangunin arkan pagi² sih mi!" arkan mendengus kesal dan memalingkan mukanya.
"lah biarin, makanya kamu tuh udah ke 2 kalinya mendapat teguran dari guru. Mami gamau kalau kamu buat mami malu disekolah kamu." ketus nayya yang sedang menyiapkan sarapan.
Arkan hanya terdiam dan menarik nafas dengan kasar.
Dengan tiba - tiba..
Huek.. Huek.. Huek..
"bentar mas." nayya meninggalkan meja makan dan berlari menuju toilet untuk muntahnya.
"eh sayang. Kamu kenapa?" panik putra berlari mengikuti nayya, dengan singap nayya langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandinya.
Huek.. Huek.. Huek..
"sayang buka pintunya, biar aku liat." dengan perasaan panik putra menggedor² pintu kamar mandi dengan kencang.
Tokkk..tokk..tokk..
"bentar mas," balasnya didalam kamar mandi, tidak lama nayya membuka pintu kamar mandinya.
Dengan sigap putra memeluk nayya dan mencium keningnya dengan dalam.
Jari² tangan putra memegang kedua pipi nayya dan berkata "kamu kenapa sayang? Mukamu pucet. Kita kedokter ya!" tegas putra dengan memegang wajah nayya yang pucat.
"nayya, kamu teh kunaon?" tanya bi yum yang tiba2 datang dengan memasang wajah paniknya dan diikuti oleh pak mamat dan arkan.
Lagi lagi arkan langsung memeluk nayya dengan erat.
"maafin arkan ya mi, arkan tadi udha bentak mami. Jadinya kaya gini deh." rasa bersalah arkan semakin jadi, isakan dari mulut arkan sangat terdengar keras.
Sikap arkan memang bandel, tetapi sikap arkan kepada keluarganya bener² mencintai keluarganya semua dari mulai nayya,putra,biyum,dan pak mamat.
"iya sayang, gapapa. Ini salah mami juga kok" balas nayya dengan senyuman paksa, karna nayya saat ini merasa perutnya benar² sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Putra Bakteri
Fiksi RemajaKisah 2 remaja yg partner berantem menjadi partner of heart✨
