Bagian 7: Untuk pertama kalinya

20 5 0
                                    

Beruntung ada Leta bersamanya. Azzura meminta Leta untuk mengangkat telepon dari Farel. Lebih tepatnya video call. Memang sudah dua minggu ini mereka saling mengirim pesan.

"Leta, please tolongin gue" Azzura memelas.

"Tapi gue harus bilang apa,"

"Gue aja yang ngomong, lo tinggal gerakin bibir lo sesuai omongan gue,"
Leta menggeser tombol hijau di HP Azzura. Terlihat wajah Farel disana, mungkin ia sedang ada dikamarnya.

"Haii Leta.., gue kira lo ga bakal angkat"

"Iya hai juga" Leta menggerakkan bibirnya sesuai ucapan Azzura. Ia terus tersenyum agar terlihat senang.

"Signalnya jelek ya? Kok suara sama gambarnya ga pas gitu," Leta dan Azzura menahan tawanya.

"Iya lagi jelek nih," terlihat Farel mengangguk paham. Mereka berbicara lewat video call cukup lama.

"Farel, udah dulu ya. Gue agak ga enak badan,"

"Oh, pantesan suara lo beda. Ga kaya biasanya," Karena itu memang bukan suara Leta. Azzura dan Leta tertawa puas setelah Farel menutup telponnya.

"Duh, lucu banget," Azzura tertawa sambil memegang perutnya yang sakit karena banyak tertawa.

"Gila lo. Masa dia ga curiga gitu, sih? 30 menit ngobrol padahal," Leta mengusap bawah matanya. Ia tertawa sampai mengeluarkan air mata.

"Eh, tapi, ta. Tadi dia kan ngajak nonton tuh, serius gak ya?" Azzura bingung harus berbuat apa jika Farel benar benar mengajaknya pergi. Tidak tidak, sebenarnya ia mengajak Leta.

"Gue bakal dateng, tapi lo juga dateng. Dan lo jelasin semuanya ke dia,"
Azzura takut Farel akan marah padanya dan Leta. Mungkin Leta tidak akan merasa rugi jika Farel membencinya. Namun, sangat berbeda dengan Azzura.

Azzura yang sedang melamun tiba-tiba bersin. Ia melihat seekor kucing naik ke atas tempat tidur Leta. Lalu, ia melihat pintu kecil pada bagian bawah pintu kamar Leta yang belum tertutup dengan sempurna.

"Leta! Sejak kapan lo punya kucing.." teriak Azzura sambil berlari ke arah sofa dan mengangkat kakinya.

"Kenapa? Lucu kan? Lo ngapain sih pake takut segala," Leta mengelus kucingnya yang sekarang tidur di sebelahnya.

"Lucu apa-" ucapan Azzura terhenti karena ia bersin lagi. "Leta.. minta tisu lo" Azzura menutup hidung dengan tangannya.

"Itu di meja," Leta menunjuk meja belajarnya sambil tertawa.

Saat Azzura mengambil tisu, matanya fokus pada gitar yang ada di sebelah meja belajar Leta. Ia pernah melihat gitar itu, tapi seingatnya bukan pada Leta.

"Kenapa, ra?" tanya Leta yang melihat Azzura diam di tempatnya.

"Kok gue kaya pernah lihat gitar ini ya, tapi seinget gue bukan lo yang bawa, sih." Leta yang terkejut cepat-cepat menyembunyikan perasaanya. Azzura tidak boleh sampai tahu hal ini.

"Itu bukan gitar yang cuma ada satu di dunia kok. Jadi lo pasti pernah lihat, bahkan sering mungkin," Leta memaksakan senyumnya.

***

Farel masih membayangkan wajah Leta. Bahkan sudah beberapa jam berlalu sejak ia menelpon Leta. Saat ini, ia sedang berkumpul dengan teman-temannya di sebuah cafe.

"Bro, lo daritadi senyum-senyum sendiri gitu," kata Gavin.

"Wah, serem nih anak," sahut Natha.

"Apaan sih"

"Nat, lo jadi deketin temennya Azzura?"

"Siapa?" tanya Farel. Farel menatap Natha penasaran.

"Itu si Annabelle, emang sih dia cantik juga kalo dilihat lihat," kata Gavin.

"Liat aja nanti," jawab Natha cuek.

"Awas ditikung Gavin lo, bro"

"Jelas banget dia bakal lebih pilih gue daripada dia" Natha menunjuk Gavin meremehkan.

Gavin mengangkat bahunya tidak peduli. Ia berpikir untuk menjahili Natha. Bagaimana jika ia mendekati Bella dan Bella lebih memilihnya? Yang pasti Gavin tidak serius akan melakukannya.

Lain hal nya dengan Farel. Ia masih berpikir tentang kencannya minggu depan. Yah, memang Farel belum berniat untuk berpacaran dengan Leta. Tapi ia harus tetap maju kan daripada harus diam saja?

Saat mereka baru keluar dari cafe itu, tidak sengaja Farel melihat seseorang yang tidak asing dimatanya. Lelaki itu terlihat sedang menyapa satpam cafe tersebut. Farel mengabaikannya karena ia tidak ingat siapa lelaki itu.

Di tempat yang sama tapi waktu yang berbeda. Leta berjalan memasuki cafe dengan membawa gitar di tangannya. Seorang pelayan cafe memberikan daftar menu padanya. Ia membuka halaman demi halaman buku menu untuk memilih makanan dan minuman.

Seketika gerak tangannya terhenti saat ia mendengar suara seseorang memenuhi cafe tersebut. Para pengunjung lainnya terdiam, mendengarkan suara yang indah itu.

Leta terus memperhatikan lelaki yang sedang bernyanyi diatas panggung kecil cafe tersebut. Tidak sengaja mata lelaki itu bertemu dengan mata Leta.

Dengan cepat, Leta memutuskan tatapan mereka. Ia membuka HP-nya, mencari nama seseorang untuk mengirimnya pesan.

tolong ke meja gue bentar 18.25

Leta menghabiskan makanannya cepat, lalu meminta pelayan mengambil piringnya. Sekarang hanya tersisa minuman yang belum ia habiskan di mejanya.

"Ada apa?" Leta mendongak menatap lelaki itu.

"Gitar lo," ucap Leta sambil menyerahkan gitar yang ia bawa.

Mereka bertatapan cukup lama, hingga lelaki itu mengambil gitarnya. Lalu ia pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tidak ada yang tahu isi hati mereka saat ini. Bahkan mereka sendiri tidak tahu pasti apa yang sedang mereka rasakan.

Something WrongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang