Kini, mereka sedang berada di bandara Soekarno-Hatta. Tentu nya (Namakamu) akan mengantar kan Iqbaal beserta keluarga pria itu yang ingin berangkat ke Australia. Padahal Bukan mau-nya (Namakamu), tetapi Iqbaal memaksanya untuk mengantar nya sampai bandara. Ya (Namakamu) harus nurut, bisa bisa nanti Iqbaal kabur dan datang ke rumahnya tiba-tiba. Ya nama nya juga Iqbaal, nekat orangnya.
"Aku masih banyak tugas baal.." Ucap (Namakamu) lembut sambil merapihkan rambut Iqbaal yang mulai memanjang.
Iqbaal menghentak-hentakkan kaki nya kesal.
Ody terkikik melihat tingkah Adiknya. Umur udah dewasa tapi kelakuannya masih kaya anak kecil. "Lebay banget kamu, Le. Cuma 3 hari doang kok." Sahut Ody.
"Yah teh. Bagi Ale mah 3 hari sama kaya 3 bulan. Lamaa teh.." Ucap Iqbaal dengan wajah masam nya.
"Dih alay!"
Iqbaal melirik sinis Ody. "Ya udah sih. Ale ini yang alay, bukan teteh." Ketus nya.
Ody memeletkan lidah nya pada Iqbaal.
Iqbaal melotot. Lalu beralih menatap (Namakamu) dengan wajah melemasnya. "Yang, itu teh Ody ngeledekin aku. Marahin.." Adu Iqbaal pada (Namakamu) sambil memainkan ujung rambut gadis itu.
Rike terkekeh menatap Anak nya yang selalu berdebat itu.
(Namakamu) terkekeh. "Ya udah kamu diem aja. Sini peluk dulu.." Ucapnya lalu menarik Iqbaal kedalam pelukannya dan mengusap punggung pria itu dengan lembut.
"Hihh gemes.." (Namakamu) mempererat kan pelukannya pada Iqbaal. Entah pria itu akhir akhir ini sangat lucu sekali dan selalu membuatnya gemas.
(Namakamu) memutar bola mata malas. "Yayaya.. ya udah sana berangkat. Tuh udah ditungguin." Ucap (Namakamu) sambil menunjuk Rike, Herry dan Ody yang menunggu Iqbaal disana. Ternyata waktu mereka sudah habis.