🔞
07.00 a.m
Pagi ini Cahaya bangun dengan keadaan badan pegel semua. Gimana engga, semalem setelah makan mi dia ketiduran di sofa dengan posisi yang engga nyaman banget. Jadilah sekarang badannya encok pegel linu.
Dia bangun dari tadi sih, buat mandi, beberes rumah, dan masak juga. Lebih tepatnya masakin Dandi sup juga minuman hangat yang bisa bikin pengar hilang.
Gini-gini Cahaya masih peduli sama Dandi sistah. Walaupun sebenernya dia udah kecewa sama Dandi pake banget. Gimana lagi, terlanjur sayang.
BUCHENNNN
Sial sial sial
Tau ngga kesialan apa yang udah jumpa Cahaya pagi ini?
Karena badan dia yang pegel-pegel, Cahaya jadi ga bisa berdiri dengan semestinya. Pas dia ngerapiin meja nakas disamping tempat tidur, dia jatuh.
Dimana?
Tepat diatas dada Dandi.
Parah, malunya sampe ke tulang-tulang.
Mata Cahaya jadi bulat sempurna karena kaget sama kebodohannya itu. Buru-buru dia mau bangkit dari posisinya yang tengkurap itu buat berdiri dengan benar. Tapi ada dua tangan yang nahan dia.
"Biarin kaya gini."
"Dandi, gue ma-"
"-Lima menit, tolong."
Ga ada yang pernah denger Dandi ngomong dengan nada se-melas itu, sekalipun Cahaya. Karena nyatanya baru kali ini dia denger nada memohon yang tulus banget dari mulut Dandi.
Diantara bego apa tolol, Cahaya masih ada diposisinya dengan membiarkan Dandi meluk pinggangnya erat. Posisi kali ini terasa beda, kalau kemaren mereka pernah ada diposisi kaya gini karena kejahilan Dandi, sekarang mereka ada diposisi ini karena permohonan Dandi.
Dandi pejamin matanya, ngerasain tubuh yang lagi dia peluk sekuat mungkin seolah ga bakal ada hari esok buat meluk Cahaya lagi. Air matanya baru aja mau netes sebelum Cahaya berdiri dari atas dia.
"Sori, gu-gue ga sengaja." Kata dia gugup. Anak rambut yang ngehalangi pandangannya dia bawa kebelakang telinganya.
"Sengaja apa engga, aku tetep bilang makasih." Setelah itu Dandi memilih duduk ditepi ranjang dengan Cahaya yang masih berdiri didepannya. Jangan lupain wajah dia yang udah merah banget.
"Semalem, kamu yang bantu aku?" Tanya Dandi pelan dan serak. Dia pegang kepalanya karena ngerasa berdenyut keras. Pusing lah bahasa simpelnya.
"Minum dulu." Cahaya nyodorin satu gelas air putih yang ada diatas meja nakas tanpa ragu. Dia bantu Dandi minum air itu pelan-pelan sambil megang kepala bagian belakang Dandi. "Iya, aku." Akunya
Setelah itu Cahaya letakin lagi gelas itu ketempatnya dan mau bangun buat ngelanjutin pekerjaan dia. sebelum tangannya dicekal sama cowok yang lagi duduk ini.
AWtornya drama banget fakk.
"Udah saatnya kita bicarain semua. Aku ga bisa lama-lama kaya gini." Kata Dandi dengan pandangan kebawah. Tangannya megang pergelangan tangan Cahaya dengan erat namun terkesan lembut.
"Ta-tapi gue ha-"
"-Aku mohon Ya."
Siapa yang bikin suara Dandi jadi lemah gini sih? Apa efek dari alkohol yang semalem ditelan Dandi? Eh, ngomongin alkohol malah bikin Cahaya benci dipegang cowok ini.
Katanya benci tapi nurut aja disuruh duduk disebelahnya. Apasi u.
"Jangan jauh-jauh, nanti kangen." Dandi senyum lembut.
Cahaya jadi kelabakan sendiri. Dengan mukanya yang masih merah, dia geser duduknya biar deketan sama Dandi. Suasana disini malah makin awkward, karena Dandi dari tadi cuma ngelihatin Cahaya tanpa ngomongin sesuatu.
"Kalo ga ada yang diomongin, gue pergi dulu." Kata Cahaya akhirnya terus berdiri dan berjalan buat pergi.
Sebelum satu langkah,
"Aku bener-bener minta maaf." Gumam Dandi disertai dengan tundukan kepalanya dalam.
"Maaf untuk semuanya. Dari aku yang udah mukulin sahabat kamu, sampai aku yang udah nyakitin kamu selama 4 tahun. Aku.. minta maaf."
Cahaya membalikan badannya dan perlahan duduk kembali ketempat dia semula. Matanya ga lepas dari Dandi yang cuma menampilkan rambutnya doang, sedangkan wajahnya udah dia sembunyikan.
"Dan maaf, untuk aku yang udah pergi ke club." Kata dia akhirnya. Cahaya tersenyum simpul dengan air mata yang menggenang diujung mata dia.
Tangan mungilnya merengkuh tubuh tegap Dandi buat masuk kepelukannya. Tangan kanannya mengusap punggung Dandi pelan. Sedangkan Dandi yang awalnya terkejut memilih untuk membalas pelukan hangat ini dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher pacarnya.
Masih bisa disebut pacarkah dia?
"Maaf udah kasar. Maaf juga udah teriak-teriak sama kamu. Maaf udah ngasih kamu beban."
"Beban apa?" Tanya Dandi langsung sambil mengurai pelukan. Kedua tangannya masih ada dipinggang Cahaya.
MODHUZ TEROSS
GASPOL BIAR READERS SUKA!
"Bikin kamu mikirin kehidupan sosial aku. Maaf udah ngasih tau kamu." Cahaya mengahapus pelan air mata yang udah mengalir.
Tatapan Dandi kini sepenuhnya mengarah ke Cahaya. "Buat apa minta maaf? Kalau kamu engga bilang, aku ngga akan pernah tau masalah apa yang kamu rasain karena aku." Dandi bicara dengan nada lembut.
Keduanya diam. Kalau emang udah kaya gini, diam itu lebih baik. Ga pernah ada kata selain maaf yang bisa mempersatukan mereka. Walau sebenarnya ada banyak kalimat yang siap untuk dilontarkan, sekarang semuanya sudah tertelan dan diwakilakn oleh kata 'maaf'.
"Kita.. engga putus kan Ya?"
Cahaya mendongak, menatap Dandi dengan kedipan mata berkali-kali menambah kesan 'imut' di diri dia.
Kalo gue yang ngelakuin udah digaplok se-RT kali ya bebzzz.
"Aku ga pernah bilang gitu." Cahaya tersenyum dan disambut sama tangan Dandi yang udah ngangkat tubuhnya buat diletakin dipangkuan cowok itu.
"Lain kali kalau ada masalah cerita ya?"
"Lain kali kalau mau baku hantam mikir dulu ya?"
"Iiih sayang, maaf." Rengek Dandi dengan kepalanya yang tenggelam dipundak Cahaya.
Balikin diri Dandi beberapa menit yang lalu.
Mereka berdua ketawa geli dengan apa yang baru aja terjadi. Tapi Dandi ketawanya masih dengan keadaan tenggelam dipundak Cahaya, sambil ngeduselin.
Habis itu mereka berdua saling tatap antara satu sama lain, ga tau siapa yang mulai tapi bibir mereka udah menyatu. Sesuatu yang lembut udah saling bersentuhan. Yang awalnya cuma nempel, sekarang mulai naik porsi, bibir Dandi bergerak seolah ngasih tau kalau dia pengen hal yang lebih.
Lidahnya mengusap bibir Cahaya dengan sensual. Tangannya yang sedang memeluk pinggang Cahaya mulai dieratkan lagi. Bibir didepannya yang awalnya mengatup perlahan terbuka, memberi akses buat lidahnya menerobos terowongan itu.
Tangannya ngga tinggal diam, telapaknya mengusap punggung Cahaya dari bawah hingga ke rambut cewek itu. Ngga ada yang terlewat satupun dari sentuhan dia.
Ada maksud yang tersirat dari ciuman panjang yang mereka lakukan ini. Lewat ciuman ini, mereka sama-sama mengucapkan permintaan maaf, tanpa mengucapkannya.
Cukup lama ciuman itu sampai bibir keduanya terlepas perlahan. Dandi meluk Cahaya sambil ketawa pelan saking bahagianya bisa baikan.
Baikan sama Cahaya, belum sama yang bersangkutan kemarin :)
-to be continued
kalo ngerasa aku ngga dapet-dapet, komen atau engga dm aja. soalnya kadang aku lupa buat up🤣🤣
btw kira² ntar part 60 end ya:)
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy
Jugendliteratur[ SUDAH SELESAI✓ ] Cover by @JWLinTheCrown ©hykaaz9, Mei-2019
