📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA!📌
Hope you like it
•••
Don't forget to listen the song above.
Fresh from the oven!!!
•••
𝓢ebuah Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan Treasure Tower.
Sebelum menjejaki sepasang kakinya keluar mobil, Gibran memandang lekat Meyra sekali lagi.
"Maaf enggak bisa temani kamu,"
"Iyaa. Sudah, sana! Keburu telat entar, jangan jadi contoh yang enggak baik di mata bawahanmu." Meyra mendorong paksa lelaki itu keluar dari mobil.
"Jangan lupa sampaikan permintaan maafku pada Biru,"
Meyra mengangguk.
"Wait," Gibran memutar tubuhnya menghadap Meyra. "Kamu enggak lupa sama Penicillamine dan teman-temannya, 'kan?" Air muka yang sarat akan kekhawatiran pada lelaki itu tak sabar menanti jawaban.
Meyra memutar bola mata jengah, "Mana mungkin bisa lupa kalau setiap saat kamu tanyakan terus."
Rasa bersalah semakin menyelubungi hati Meyra sesungguhnya. Entah kenapa akhir-akhir ini sengsara sekali menelan berbagai macam pil yang menjadi rutinitasnya lima belas tahun belakangan. Jangan ditanya bagaimana dia bisa bertahan sejauh ini.
"Good girl," Gibran mengacak pelan puncak kepala Meyra sebelum ia menutup pintu mobil yang disambut lambaian tangan oleh Meyra.
"Saya titip Meme ya, Pak." Gibran berpesan pada sopir pribadinya yang mengangguk mengiyakan. Sementara Meyra hanya bisa mendengus seakan dianggap anak kecil saja, pakai dititipkan segala.
***
Baru saja hendak berjalan ke belakang panggung, suara panggilan khas anak kecil menginterupsi langkah Meyra terlebih dahulu.
"Kenapa Ibu sendirian? Om Gibran mana?"
Meyra menyejajarkan tubuhnya dengan anak perempuan menggemaskan di hadapannya kini.
"Om Gibran minta maaf tidak bisa datang karena ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Enggak masalah 'kan, Sweetie?" Ia mengelus punggung tangan mungil milik gadis kecilnya.
"Asal ada Ibu, Biru enggak apa-apa, kok,"
Meyra tersenyum simpul, mengecup pipi ranum Biru. "Sekarang kamu kembali ke backstage dengan peserta lomba yang lain ya, lombanya mau dimulai, 'kan?"
"Biru jangan gugup. Ibu akan ada di barisan terdepan menyemangati Biru." Meyra memberi kecupan lembut di dahi Biru.
"Just do it, Sweetie."
Anak perempuan yang dipanggil Biru itu tersenyum mengangguk sebelum menuju ke belakang panggung dengan semringah di parasnya.
•••
Biru mengakhiri alunan melodi Under the Dreaming Cherry Tree yang sukses ia mainkan dan berdiri. Selanjutnya ia membungkukkan badan pada penonton juga para juri.
Gadis cilik berambut kepang ala Milkmaid dengan poni itu merekahkan kedua sudut bibirnya naik ke atas hingga menampilkan deretan gigi putih pada Meyra yang mengacungkan kedua ibu jari. Deru tepuk tangan juri dan penonton dari berbagai sudut tribune pun masih riuh bergemuruh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomanceDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
