📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA!📌
Hope you like it🍀
•••
Kau kesedihanku yang tak terucap.
•••
"𝓚amu dan Gibran itu sahabatan sejak usia delapan tahun, 'kan? Sama-sama single, sama-sama udah kenal luar-dalam, udah klop deh. Apa lagi yang ditunggu? Gibran itu cinta mati banget sama kamu, masa enggak bisa lihat, sih?"
"Sahabat itu teman hidup terbaik."
"Kalian berdua itu sama-sama punya masa lalu bersama, masa kini bersama, dan masa depan bersama kalo kalian married."
"Denger ya, Mey, semua lelaki tuh pada angkat tangan semua pas lihat Gibran selalu ada di samping lo. Udah kayak lem dan prangko. Lo prangkonya, Gibran lemnya. Ga bisa dipisahkan, deh."
"Biru juga butuh sosok Ayah yang jelas dan semua orang juga tahu siapa yang paling pantas buat dia, lo aja yang terlalu buta."
"Kamu itu cuma kata yang dengan Gibran bisa jadi kalimat."
Satu demi satu suara itu saling bersahutan tanpa jeda dalam tarian bising di otak Meyra. Benar-benar tak ada bedanya dengan kaset rusak.
Meyra memandangi Gibran dan Biru yang berada tak jauh darinya. Saat ini mereka sedang menghabiskan malam hari di taman belakang rumah. Namun, Meyra hanya ingin duduk sendiri di atas rerumputan memandangi dua orang yang memenuhi hidupnya itu. Tanpa minat untuk bergabung.
Gibran tampak mendorong pelan ayunan kayu yang diduduki oleh Biru. Sesekali lelaki yang masih dengan pakaian khas pria kantoran itu melemparkan candaan diikuti gemuruh tawa Biru yang bertalun.
Suasana seperti ini memang senantiasa mampu membuatnya tersenyum. Apa serupa ini potret masa depan yang harus ia wujudkan?
"Biru, kamu tahu enggak kenapa Bintang itu lebih hebat dari Bulan?" Sayup-sayup suara Gibran dapat ditangkap oleh perempuan yang sedang mengamati mereka dari kejauhan.
Paras mungil itu bergerak menggeleng ke kanan-kiri. "Benarkah? Kenapa bisa?"
"Karena Bintang enggak butuh siapa-siapa supaya bercahaya, dia mampu sendiri. Tidak seperti Bulan yang perlu bantuan Matahari supaya dapat memantulkan cahaya agar bersinar."
"Kalau begitu, Biru ingin menjadi Bintang saja mulai sekarang," sergah Biru dengan binar matanya pada Gibran.
Mendengarkan dialog antara dua orang yang sangat ia sayangi itu tanpa sadar mengantarkan memorinya terbang ke dua puluh tahun silam. Lalu menurunkannya tepat di depan gerbang tahun awal ia bertemu Gibran.
Meyra lantas berjalan memasuki gerbang yang langsung disambut oleh taman bunga terbentang menawan menyapanya. Namun..., tunggu dulu. Dia melihat sepasang anak kecil tengah berbincang di sebuah ayunan dengan bagian talinya dipenuhi lilitan bougenville yang merambat teduh.
Ia berjalan pelan mendekati wajah-wajah yang tak asing dan bersembunyi di balik patung angsa yang tak jauh dari ayunan. Ia berusaha mendengarkan obrolan sepasang anak kecil itu.
"Aku panggil kamu Iban saja, ya?" Suara si anak perempuan pertama kali tertangkap di telinganya.
Anak lelaki di sebelahnya hanya mengangkat bahu.
"Sesukamu saja."
Anak perempuan itu mengacungkan kedua ibu jari mungilnya.
"Aku kemarin baca Bobo loh, terus ada judul cerita yang besaar sekali," Rentangan kedua tangan mungil gadis cilik itu turut melukiskan euforianya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomanceDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
