📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀
•••
𝓓ia mempertahankan lengkung halus di bibirnya untuk mengendalikan keadaan, menyamarkan jemarinya yang cukup bergetar.
Entah beberapa detik semua menyisakan sunyi, menunggu jawaban seperti apa yang keluar dari bibir perempuan yang tengah duduk di tengah-tengah panggung acaranya itu.
Meyra sendiri kebingungan. Mungkin ia akan mengutuk otaknya yang semakin berpikir lambat menemukan jawaban untuk pertanyaan dari penggemarnya. "Saya―" Ada ragu saat bibirnya mencoba bergerak. Sungguh pertanyaan yang berhasil memukul telak ulu hatinya, menciptakan kecamuk hebat.
"Saya memang menyukai bunga selembut kapas itu sejak kecil. Dan... saya selalu mencoba untuk mencerminkan diri saya langsung ke dalam semua novel saya. Itu saja." Pada akhirnya, itu yang Meyra katakan.
Pelontar pertanyaan terakhir untuk Meyra itu kembali mengangkat tangan kanannya. "Maaf, apa boleh saya bertanya satu kali lagi?"
Meyra mengangguk. Dengan ekor mata dilihatnya Mbak Ai memberi kode kepada pembawa acara untuk menutup sesi ini segera. Namun, Meyra memilih menyela protokol acara yang hendak mendekatkan mikrofon ke mulut. "Tidak apa."
"Apa Mbak Meyra percaya pada harapan?"
Dia menjelajahi sejenak sekitaran. Barusan, lewat sudut matanya Meyra menangkap samar seorang tengah menunduk di atas kursi roda di antara kerumunan itu. Meyra tersenyum bahagia, selalu ada penggemar unik yang menikmati karyanya. Lalu, ia mengalihkan perhatian pada gadis remaja berponi yang telah bertanya padanya.
"Tentu saja. Kita semua tidak bisa hidup tanpa harapan."
Semua orang bertepuk tangan dan melemparkan tatapan kagum padanya. Gibran pun tak tinggal diam, lelaki itu mengerlingkan sebelah matanya pada Meyra yang terkekeh pelan.
"Baiklah, demikian sesi tanya-jawab ini. Saya ucapkan kembali selamat untuk Dandelion on The Paper. Semoga semakin menginspirasi pembaca sekalian." Pembawa acara itu tersenyum pada Meyra yang mengangguk dan diikuti bahana tepukan tangan lagi untuk dirinya.
Begitu sesi tanya-jawab selesai, penggemarnya bergerak cepat membentuk barisan mengular di antrean booksigning dan Meyra harus bersiap-siap menandatangani ratusan buku yang menunggunya. Dia yakin, tangannya akan mati rasa setelah ini. Meskipun demikian, senyuman dan keceriaan para pembaca yang tak sabar menunggu antrean kemudian berpose dengannya seperti analgesik yang manjur meredakan nyeri.
"Kamu masih sanggup?" bisik editornya yang memberikan sebotol air mineral untuk Meyra.
Meyra mengangguk, melanjutkan kembali menyapa pembaca yang menghampirinya. Selain membubuhkan tanda tangan di halaman depan novelnya, Meyra juga menyisipkan satu hingga tiga kata di atas coretan autografnya.
"Untuk siapa?" tanya Meyra tanpa menatap lawan bicaranya, dia fokus menuliskan namanya.
"Untuk saudara saya ini, Mbak Mey."
Meyra menengadah, sedikit terperanjat. Dia mendapati seorang dengan kursi roda tadi yang tampak tertunduk sayu. Meyra tak dapat melihat rupa itu. Syal abu-abu, beanie senada, dan masker yang menutupi wajahnya membuat Meyra tersenyum sendu. "Namanya?" kata Meyra pada seorang lelaki lain yang menyahuti perkataan sebelumnya barusan.
Lelaki itu menjawab, "Dia menginginkan sebuah kalimat penyemangat dari Mbak saja, bisakah?"
Meyra mengangguk mengerti pada dua orang di hadapannya.
Selepas itu, masih ada sisa sepertiga lagi peserta yang mengantre demi mendapatkan tanda tangan dirinya. Meyra melempar pandang sesaat pada Gibran dan Biru yang tengah menjelajahi rak buku anak-anak sembari menunggunya selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomanceDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
